Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Pertemuan yang tidak terduga


__ADS_3

Mobil yang membawa Bondan dan Aditya sudah memasuki Desa Mandalajati , mereka langsung mendirikan tenda di lahan yang masih berantakan akibat amukan buldozer mereka.


Mereka kembali ke Desa itu untuk memenuhi keinginan Aditya . Suasana pedesaan disore hari yang cerah langsung menghipnotis siapa pun . Lembayung yang menyiratkan warna keemasan menambah indah suasana sore itu.


Bondan dan Wira asik berfoto selfie , mereka ingin mengabadikan keindahan langit sore yang berwarna keemasan.


"Sayang ya, proyek ini batal, coba kalau gool, akan menjadi ladang emas buat kita", Bondan menerawang,


"Tapi ini kan masih ngambang, belum deal batal, bisa saja nanti ada pengembang lain yang berhasil melobi ke Pusat, dan meneruskan proyek di sini", timpa Aditya.


"Bapakmu bisa kan Dit?, jadi kita bakalan punya ladang uang di sini", kekeh Bimo.


"Bisa saja sih, tapi harus mencari Partner baru, kalau sama Pak Handoko, mana mau", cibir Aditya.


"Handoko, bapaknya Mahasiswa itu?", tebak Wira.


"Iya , Handoko, bapaknya Si Putra", geram Aditya.


"Ohh...yang waktu itu menyalipmu ya Dit?", goda Bondan.


"Sudah-sudah, gerah tahu denger namanya juga", Aditya meradang. Ingatannya saat di tolak Aini dulu kembali berkelebatan.


"Sudah-sudah , jangan dibahas lagi!, mendingan kalian cepat bebenah, sekalian masak buat makan malam ini". Pinta Putra, ia meninggalkan mereka dan masuk tenda.


"Kasihan, pasti Adit masih patah hati nih , padahal gadis di desa ini bukan Aini saja, gadis Kota juga attu banyak yang lebih cantik dari Aini, malah mereka lebih seksi dan modis", ucap Bondan.


"Yang namanya cinta, tidak bisa ditentukan jatuhnya pada siapa , cinta itu rahasia Allah, tidak bisa di paksa", sambar Yoseph.


"Kalau mau, banyak gadis Kota yang mengejar-ngejar Aditya, tapi dia malah tertarik pada Aini" , timpa Bondan.


"Padahal, apa istimewanya Aini, biasa saja kan?" , lanjut Bondan.


"Ah...pokoknya rumit , makanya jangan jatuh cinta dulu sebelum matang," kekeh Bimo.


"Hey kalian,coba lihat di sana , sepertinya mereka pendatang baru", Wira menunjuk dengan ranting yang dipegangnya ke arah jalan.


Di sana nampak sebuah mobil mewah terparkir di pinggir jalan, seorang laki-laki keluar dari sana, diikuti seorang wanita , mereka tampak sedang membicarakan sesuatu.


Mereka adalah Pak Purnawan dan Bu Mona, yang baru saja sampai.


"Sepertinya mereka sedang memperhatikan tanah ini deh, lihat dari ekspresi mereka", jelas Bimo.


"Apa...mereka itu investor baru kali ya?", tebak Bondan.

__ADS_1


"Sepertinya mereka itu baru , proyek ini belum ada kepastian, belum ada yang menanganinya , kalau ada pun pasti akan lewat Pak Dirman dulu", jelas Bondan.


"Lalu mereka tahu lokasi ini dari mana?, atau mereka berminat untuk melanjutkan proyek ini, wah...ini kebetulan, kita bisa ajak mereka gabung dengan Pak Bos,siapa tahu mereka bisa menggantikan posisi Pak Handoko, gimana?", jelas Wira.


"Wow, briliant!, tumben otakmu encer", kalau begitu, kita temui saja mereka" , ajak Bimo.


"Tunggu , kita kasih tahu Aditya dulu, dia kan wakilnya Pak Bos", Bondan masuk ke tenda untuk memberitahu Aditya.


"Eh...tunggu, lihat itu ada bidadarinya juga", heboh Bondan . Ia melihat ada seorang gadis cantik yang keluar dari mobil itu.


Dialah Mirna, akhirnya dia juga mau ikut. Awalnya menolak , apalagi mau diajak ke Pedesaan, dia itu paling alergi dengan segala sesuatu yang berbau Desa.


Tapi, karena hatinya lagi suntuk, ia mau juga ikut, dari pada sendirian di rumah . Penampilannya memang modis, ia mengenakan celana levis pendek, hingga menampakkan keindahan kaki mulusnya yang jenjang.


Atasannya sebuah kaos berwarna lavender berlengan pendek yang pas ditubuhnya, hingga menampakkan jelas lekuk tubuhnya.


Semua mata tertuju ke arahnya. "Wow..., itu baru cantik, siapa dia?, anaknya kali", Bondan antusias sekali memperhatikan gadis itu. Gadis seperti itulah yang ia sukai , cantik , modis, dan seksi, tidak ada kain lebar yang menutupi keindahan tubuhnya.


"Kamu itu, kalau melihat wanita , matanya langsung liar", Wira menyenggol pinggang Bondan.


"Ini beda Bro, lihat!, ini gadis Kota!


"Sudah!, buruan beri tahu Aditya, biar kita bisa ke sana", seru Bondan.


"Ada apa , berisik sekali", Ia keluar menggeliatkan tubuhnya.


"Ada target tuh, lihat! Pasti mereka itu bukan orang sembarangan" , Bondan kembali menunjuk ke arah Bu Mona.


Aditya melihat ke arah yang ditunjuk Bondan. Ia mentautkan alisnya, matanya tak berkedip ingin memastikan siapa mereka.


"Cepat , lebih baik kita yang ke sana", ajak Bondan.


"Sebentar, itu...itu...sepertinya kenal", Aditya melangkah keluar tenda memperpendek jaraknya dengan Bu Mona.


"Lalu Aditya menghampiri mereka, diikuti oleh Bondan dan Wira. Sementara Yoseph dan Bimo tetap di tenda. Mereka sepertinya kurang tertarik .


Yoseph malah memikirkan Aini, ia berharap bisa bertemu Aini . Rasa sukanya pada Aini yang terpendam, makin tumbuh mekar. Tak ada seorang pun yang tahu. Hanya Tuhan dan dirinya saja yang tahu.


"Hallo Pak, Bu, masih ingat saya?", sapa Aditya begitu berada di belakang Bu Mona.


Bu Mona melirik, "Tunggu ini ..., siapa ya?, yang waktu itu menolong Rano ya, di sekolah?", Bu Mona mengingat-ingat.


"Iya, saya Adit Bu, Aditya Dirgantara, anaknya Pak Dirman, waktu itu Ibu datang ke kantor Bapak kan?", jelas Aditya.

__ADS_1


"Oh..., iya. Saya ingat sekarang", senyum Bu Mona.


"Pah...Pah..., ini lho ada anaknya Pak Dirman", Bu Mona memanggil suaminya yang lagi asik mengambil foto lokasi dari segala arah.


Rupanya Pak Purnawan pun mulai terpikat oleh keindahan alam yang terbentang dihadapannya.


"Mah, ini bagus lho, sepertinya kita bisa melihat keindahan lampu kota di malam hari dari sini", Pak Purnawan mendekati istrinya.


"Ya, pasti dong Pah", senyum Bu Mona.


"Ini..., Adit Pah, anaknya Pak Dirman", kembali Bu Mona memperkenalkan Aditya .


Aditya lebih dulu mengajak bersalaman, diikuti Bondan dan Wira.


"Pak Dirman yang makelar dan kontraktor itu?" tebak Pak Purnawan.


"Iya Pak", rengkuh Aditya.


"Wah, kebetulan bertemu , lagi ada kegiatan di sini?", tanya Pak Purnawan.


"Ah..., nggak, lagi main saja Pak, rame-rame sama teman", senyum Aditya, ia melirik ke arah Mirna yang sepertinya tidak menghiraukan kehadiran mereka, dia asik saja cekrak-cekrek selfie.


"Wah...., bagus-bagus nih", Mirna mendekati mereka."Ini tempatnya keren Mih, view nya bagus" ,


"Tuh...kan, nyesel kalau tidak ikut", senyum Bu Mona.


Mata Bondan tidak berkedip melihat keindahan yang nampak dihadapannya. Ia lekat menatap Mirna.


Wira menginnjak kaki Bondan, sontak Bondan mengaduh, "Apa-apaan sih?", Bisiknya kepada Wiira.


"Jaga tuh mata, sudah kayak elang melihat anak ayam saja", Wira pun berbisik pada Bondan.


"Mir, ini Aditya, yang waktu itu menolong adikmu Murano, di sekolah. Masih ingat kan?", Bu Mona melihat Mirna.


"Ooh...", Mirna hanya melirik sekilas saja, setelah itu ia kembali asik dengan kamera ponselnya.


Mirna langsung stag, berdiri di tempat, saat ia melihat seseorang yang dikenalnya, dia adalah Putra.


Tapi yang lebih membuatnya tidak bisa berkata-kata, saat melihat Putra tidak sendirian, dia sedang menunggu seseorang, dan itu Aini, mereka berjalan berdampingan mendekati tempatnya berdiri.


Karena memang mobil ayahnya diparkir di pinggir jalan. Jadi otomatis setiap orang akan melewati mereka.


"Putra...?, ngapain dia bersama si kelelawar di sini?", gerutu Mirna.

__ADS_1


__ADS_2