Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Senjata MakanTuan


__ADS_3

Di sebuah cafe nampak ramai, banyak muda mudi yang sedang menikmati makan malam, ada juga yang sekedar ngopi-ngopi sambil saling bercerita dengan teman dan juga pasangan.


Nampak sekelompok pemuda dalam satu meja sedang saling ngobrol diselingi gelak tawa yang menyita perahatian dari semua pengunjung yang datang.


Pihak keamanan yang ada pun tidak bisa mencegah karena dia adalah pemilik cafe ini. Dialah Aditya, dia lebih memilih berbisnis dari pada melanjutkan kuliahnya.


Sepertinya dia sedang mabuk, bicaranya ngelantur dan sikapnya selengean. Kebanyakan pengunjung yang rata-rata masih muda itu sudah tidak aneh lagi dengan sikapnya. Karena memang hampir setiap malam, Aditya begitu.


Tapi tidak halnya dengan seorang wanita yang duduk tidak jauh dari tempat Aditya meracau. Dia tampak sedang memainkan ponselnya yang diarahkan ke Aditya, dan tidak ada yang menyadari itu.


"Ha...ha....ha..., kita tunggu saja waktunya, pasti akan meledak, berita besar sebentar lagi akan muncul, seorang Bos Muda meniduri stafnya sampai dung", ucap Aditya sambil meneguk lagi minumannya.


"Tidak ada yang tahu, padahal aku yang telah meminum madunya, dan racunnya silahkan saja kamu yang akan lebih dulu mencicipnya, Putra, ha...ha...ha....", Aditya makin kacau saja.


"Hah...Putra?, apa dia habis berbuat sesuatu terhadap Putra?, masih belum kapok itu orang", gerutu wanita yang sedang duduk disamping meja Aditya


Dia ini adalah Mirna, dia lagi ngambil cuti kuliah, jadi bisa pulang ke rumah.


"Apalagi yang dia rencanakan?, nggak ada kapok-kapoknya, kirain sudah tobat, eh...malah tambah kumat", gumam Mirna sambil menggigit sedotan jus buah yang ada dihadapannya, ia merasa gemas dengan tingkah Aditya.


Perlahan Mirna melirik ke arah Aditya, wajahnya tampak kacau saja, wajah penuh dendam .


"Ck...ck..ck..., kamu tambah kacau Dit, aku pikir kamu akan berubah, ternyata tambah parah, kasihan bapakmu", Mirna kembali menggerutu.


'Hmm...Putra dan Aini dimana sekarang, jadi ingin ketemu, sekalian mencari tahu apa yang sudah dilakukan sama mereka', pikir Mirna.


Mirna ingin bertemu Aini karena ia ingin mulai berhijab juga, sudah beberapa bulan ini ia mantapkan niatnya untuk berhijab. Ada kenyamanan yang dirasakannya saat mencoba mengenakan hijab. Dan dengan berhijab juga , ia merasa lebih aman dari pandangan orang -orang disekitarnya, terutama lawan jenisnya.


Setelah membayar, Mirna meninggalkan cafe milik Aditya. Dia menuju rumahnya, dan besok baru mau menemui Aini di rumah suaminya.


Sementara Risma, ia merasa gelisah di kamar Apartementnya, sudah beberapa hari ini ia mengeluh mual dan pusing, selera makannya pun kacau, ia lebih suka makan makanan yang asam dan pedas-pedas.


"Hmm...ada apa dengan aku, rasanya aneh, jam segini maunya buah-buahan yang asem, kemana harus mencari?", gumam Risma, ia duduk malas di sofa bed di depan televisi .

__ADS_1


Risma ambil ponselnya, ia mencari di grab food, ia memilih makanan yang ia mau, dan klik-klik, ia pilih.


"Tinggal duduk cantik saja, menunggu makanan datang", gumamnya. Risma memejamkan matanya, mencoba menepis semua dugaan buruknya.


"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja", gumam Risma.


Sampai ia pun terlelap. "Tok...tok...tok...", suara pintu di ketuk jelas dalam pendengarannya. Risma hanya mengubah posisi tidurnya dari terlentang menjadi miring.


"Tok...tok...tok....",bunyi itu terdengar lagi.


Risma terperanjat dari tidurnya, ia setengah berlari menuju pintu yang di ketuk lagi dari luar.


"Iya...tunggu", teriak Risma, ia segera membuka pintu dan mendapati kurir sedang berdiri dihadapannya.


"Maaf..., saya ketiduran",


"Nggak apa-apa, ini pesanannya, saya permisi, selamat menikmati", senyum kurir, ia cepat berlalu dari hadapan Risma.


"Akhirnya, aku bisa makan juga", Risma membuka kotak makanan yang dipesannya. Ia kini bisa tidur nyenyak setelah merasa kenyang.


"Aduh...siapa lagi sih yang bertamu, tidak tahu waktu", gerutu Mirna. Ia menarik daun pintu dan mendapati seorang wanita berdiri di depannya.


Mirna menatapnya sambil mengucek kedua matanya, ia seperti sedang mengingat siapa orang yang kini berdiri dihadapannya.


"Assalamu'alaikum", maaf nih malam-malam datangnya", senyum wanita itu. Ia tersenyum melihat mimik lucu si yang punya rumah.


"Mirna?, ini benar Mirna ?, si cengeng?", teriak Risma, ia langsung menghambur memeluk wanita yang ada didepannya.


Mereka saling berpelukan di depan pintu, ternyata Risma dan Mirna adalah sahabat semasa kecil. Mereka berpisah saat sama-sama menempuh sekolah. Dan kini baru dipertemukan lagi.


Ini semua tidak lepas dari informasi yang di dapat Mirna dari Mamihnya.


"Mau di sini saja nih, nggak di suruh masuk?, aku baru landing lho", ucap Mirna.

__ADS_1


"Ya ampun, lupa, ayo masuk!", Risma menuntun tangan Mirna dan membimbingnya duduk di sofa.


"Maaf..., aku terlalu senang, habis ini kejutan sekali, kamu datang tiba-tiba setelah sekian lama menghilang", tatap Risma kepada Mirna.


"Aku sehabis lulus , ngambil kuliah di Australi, sekarang juga baru landing, dan langsung ke sini", senyum Mirna.


"Hebat kamu, bisa kuliah ke luar negeri, kalau begitu, sudah tidak cengeng lagi dong", cicit Risma.


"Aku dengar kamu sudah kerja di Perusahaan besar", gimana ...aku bisa dong magang?, rencananya mau magang di sini saja, sekalian ada sesuatu juga", senyum Mirna.


"Aku kerja di perusahaan Handoko Grup", ucap Risma.


"Wah..., perusahaan besar itu, gimana tolongin aku dong biar bisa magang di sana", tatap Mirna.


"Bosnya Pak Putra, Mir, Bos muda dia, ganteng lagi", senyum Risma, kamu tahu kan, dulu kita sama-sama ngefans sama dia", senyum Risma.


Mirna menggeser duduknya menghadap Risma, "jadi..., selama ini, kamu kerja di kantornya Putra?", tatap Mirna.


"Iya...,aku kerja di sana, Putra baru sih kerja di sana, tadinya dia hanya magang saja, lama-lama jadi bos juga, enak ya kalau punya orang tua kaya, cukup culak-colek dikit saja bisa langsung jadi bos", nyinyir Risma.


'Apa ini yang dimaksud Adit tadi, dia menggunakan Risma untuk merusak kehidupan Putra dan Aini?', pikir Mirna.


"Kenapa kok kamu melihat aku seperti itu?", tatap Risma.


"Nggak..., aku cuma lagi mengingat-ingat, Putra kan sudah menikah, apa istrinya juga ikut kerja?", selidik Mirna.


"Nah itu yang membuat aku gerah , baru beberapa hari ini, istrinya ikut ke kantor, tidak tanggung-tanggung, dia ditempatkan di posisi sekretaris, enak sekali, lah aku yang sudah lama kerja di sana masih saja jadi staf", Risma tampak kesal.


"Jadi pinginnya kamu yang ada di posisi dia gitu?", tebak Mirna.


"Ya, iya lah..., aku kan lebih berpengalaman, aku itu sudah lama mengincar posisi itu, biar bisa dekat terus dengan Pak Putra, eh..., malah istrinya yang dipilih, mana lagi hamil, maksain sekali, padahal dia tinggal duduk manis saja di rumah", cibir Risma


"Iya kan gimana bosnya dong, mau ini mau itu juga bebas", senyum Mirna.

__ADS_1


Ia melihat ada sorot kebencian saat Risma menyebut istri Putra.


__ADS_2