Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Bukti Cinta


__ADS_3

Para tamu undangan sudah tidak ada lagi yang datang, tinggallah keluarga besar Kakek Ilham dan keluarga Putra. Mereka mulai membereskan tempat resepsi.


Kursi-kursi kembali di tata rapi, sampah-sampah pun mulai di punguti. Aini sudah memasuki kamar, tadi ia pamit kepada Putra untuk mengganti pakaiannya.


Bu Hellen menghampiri Putra yang sedang asik dengan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.


"Kenapa?, ada apa?, kok senyum -senyum begitu", sapa Bu Hellen begitu berada di samping Putra.


"Ini temanku ada-ada saja Mah, mereka pada ngasih tutorial buat nanti malam", senyum Putra.


"Tutorial apa?", Bu Hellen penasaran, ia mendongakkan kepalanya ingin ikut membaca Chat dari temannya Putra.


"Eit..., ini rahasia Mah, hanya untuk Putra", ssnyum Putra sambil segera mematikan ponselnya.


"Kamu ini, sudah mulai main rahasia-rahasian", Senyum Bu Hellen.


"Oh iya, yang tadi itu siapa?, yang nyawer-nyawer di atas panggung?", lirik Bu Hellen.


"Oh..., Aditya?, memangnya kenapa Mah?",


"Dua itu suka sama Aini ya?",


"Iya, Aditya itu yang pernah melamar Aini juga, tapi Aini menolaknya",


"Ohh..., apa jangan-jangan dia juga yang menculik Aini waktu itu?", tebak Bu Hellen


Putra melirik ke arah Bu Hellen. "Kok Mamah bisa berpikiran seperti itu?",


"Ya ..tadi waktu salaman dia bicara sesuatu pada Mamah, yang membuat Mamah curiga",


"Bicara apa?", Putra menghadapkan wajahnya kepada Bu Hellen.


"Apa kamu tidak curiga, kalau dia sudah ngapa-ngapain Aini waktu menculiknya?", selidik Bu Hellen, ia menatap lekat Putra.


"Maksud Mamah apa?",


"Ya..., kamu tidak curiga gitu, kalau Aini sudah...., sudah dia sentuh...", hati-hati Bu Hellen bicara sambil tetap menatap Putra, ia ingin mengetahui perubahan raut muka anaknya.


Putra malah tersenyum ", Mah..., aku ini bukan pemuja keperawanan, aku mencintai Aini dengan tulus, aku tidak pernah kepikiran ke arah situ sedikit pun", tegas Putra.


"Ya..., tapi kamu itu anak Mamah satu-satunya, penerus garis keturunan Mamah dan Papah, Mamah tidak mau kalau keturunan Mamah ternodai orang lain.


"Maksudnya?", Putra menatap mamahnya.


"Kalau Aini sudah tidak suci, nanti keturunan Mamah bisa ternoda, Mamah tidak mau itu terjadi", cemberut Bu Hellen.

__ADS_1


"Astaghfirullah....Mah, saat Putra ke Villa menjemput Aini, di sana ada banyak orang, termasuk Bapaknya Aditya, Putra percaya kok sama Aini", tegas Putra.


"Kamu itu ya, kalau dikasih tahu ngeyel", kesal Bu Hellen.


"Terus Putra harus bagaimana Mah?",


"Kamu harus tanya Aini, apa yang telah dilakukan Aditya waktu di Villa",


"Nanti Aini bisa tersinggung Mah", tunduk Putra.


"Nah...begini saja...", Bu Hellen mendekati Putra ia bicara setengah berbisik di telinga Putra.


"Nanti malam kan malam pertama kamu, kamu rasakan apa ia masih perawan atau tidak?", bisik Bu Hellen.


Putra melotot, "Gimana rasanya Mah, kan Putra tidak tahu, ini juga kan yang pertama kali untuk Putra", setengah menunduk Putra menjawab, ia merasa risih dan malu membicarakan hal itu walau dengan ibunya.


"Ya..pokoknya rasakan saja, pasti beda, akan sedikit sulit, dan biasanya akan ada tetesan darah di akhir, itu yang Mamah tahu", bisik Bu Hellen.


"Sudah lah Mah, ini urusan Putra", Putra melengos, ia tidak mau bicara panjang lebar lagi, apalagi untuk membahas hal yang menurutnya tabu.


"Pokoknya Mamah tidak mau darah keturunan Mamah ternoda", keukeuh Bu Hellen. Ia segera kembali ke kursinya begitu melihat Aini datang dengan pakaian gamisnya.


Riasannya sudah mulai dihapus, namun pancaran kecantikannya masih terlihat. "Euh...Kak, mau makan?, pasti lapar, kita makan dulu yuk!", ajak Aini.


"Jangan Kak attu, kan aku sudah jadi suamimu sekarang", senyum Putra.


"Apa yah ....", Putra menatap Aini.


"Euh...Mas, saja lah, kalau di panggil Beb, nora", senyum Putra.


"Baik..., Mas...makan dulu yuk!", ajak Aini.


"Nggak mau ah..., mau bobo dulu", goda Putra.


"Iihhh...apa?", Aini tersipu.


"Nggak...", senyum Putra. " Kita makan dulu, biar kuat bobonya", senyum Putra.


"Mulai lagi ...", kerling Aini.


"Iya, kita makan dulu, biar nyenyak bobonya, kuat sampai pagi", goda Putra.


Mereka menuju meja prasmanan, menghampiri keluarga besarnya yang sama sedang makan. Tadi mereka tidak sempat makan karena sibuknya dengan tamu-tamu yang datang.


"Nah..., ini dia pengantin kita, ayo cepat makan!, biar kuat", goda salah satu Paman Aini.

__ADS_1


Aini dan Putra hanya tersenyum saja. Mereka makan bersama sambil tertawa dan bercanda, menggoda pasangan pengantin yang baru sah hari ini.


"Ini tiketnya", Pak Handoko memberikan sebuah amplop putih kepada Putra.


"Ini apa Pah", Putra keheranan saat menerima amplop dari papahnya.


"Itu tiket hooneymoon kalian, Papah pilih yang dekat saja", senyum Pak Handoko.


"Kalian bisa berangkat malam ini juga, nanti akan ada yang menjemput ke sini, setengah jam lagi", lanjut Pak Handoko, ia melirik arloji di tangan kirinya.


"Waw..., ini benar-benar surprise Pah, terima kasih", Putra berdiri dan memeluk papahnya.


"Iya..., nanti giliran kalian yang memberikan Papah surprise ya", senyum Pak Handoko.


"Yah...., kirain gratis, ternyata ada maunya juga", senyum Putra.


"Jangan khawatir, Papah tidak minta yang mahal-mahal kok, cukup berikan Papah cucu yang banyak", senyum Pak Handoko.


"Oh...kirain mau apa",


"Bawa kabar baik ya, cepat -cepat buat Aini mengandung cucu Papah", senyum Pak Handoko.


Putra tersenyum, ia melirik Aini yang sedari tadi menunduk menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.


"Tuh, sepertinya jemputannya sudah datang, ayo kalian bersiap!", Pak Handoko berdiri dan berjalan menghampiri mobil yang baru saja datang, ia ingin memastikan, apa benar itu mobil yang akan menjemput Aini dan Putra.


Sementara Aini diantar Putra ke kamarnya untuk menyiapkan barang yang akan mereka bawa.


Mereka segera kembali dengan membawa satu koper pakaian. Putra nampak memegang tangan Aini, mereka pamit kepada semua keluarga besarnya.


"Hati-hati ya Neng, jaga diri baik-baik", Bu Hana memeluk erat Aini.


"Iya Bu, sekarang Aini tanggung jawab saya, Ibu jangan khawatir, do'akan saja kami kembali dengan selamat", senyum Putra.


Tak berbeda dengan Bu Hana, Pak Arman pun memeluk Aini, ini mungkin moment terakhir dirinya bisa bersama Aini sebelum ia benar-benar tinggal bersama suaminya.


Begitu juga dengan Bu Hellen, ia memeluk Aini, "Jangan kecewakan Mamah ya", bisiknya .


Aini hanya menatapnya , rasanya ada kejanggalan dari ucapan Bu Hellen barusan.


" Kamu harus cari bukti kalau dia masih suci", bisik Bu Helen kepada Putra. "Ingat !, Mamah tidak mau keturunan Mamah ternoda",


Putra berlalu setelah menyalami semua keluarganya, mereka menuju mobil dan Pak Handoko yang sudah menunggu di jalan.


"Pak hati-hati ya membawa mobilnya, bawa mereka kembali dengan selamat", pesan Pak Handoko kepada supir yang membawa Aini dan Putra.

__ADS_1


"Baik Pak", senyum Pak supir.


Aini dan Putra memasuki mobil setelah pamit kepada Pak Handoko, mereka menuju tempat yang telah dipesankan oleh papahnya.


__ADS_2