
"Rupanya dia ada main dengan Mirna, tidak di sangka, kamu berani main belakang juga Mir", cibir Risma.
Dia hanya memperhatikan mereka dari kejauhan, jadi Risma tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Kenapa kita ke sini pak?", Mirna tampak kaget.
"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan, saya harap kamu jujur, karena ini menyangkut Aini juga", jelas Putra.
"Bu Aini?, Oh ...iya..., bagaimana kabarnya Bu Aini Pak?",
"Nah..., itu dia, Aini dan anak saya pulang ke desa", ucap Putra dengan nada sedih.
"Kenapa begitu?", tatap Mirna.
Akhirnya Putra menceritakan semuanya, sejak dirinya pergi ke Bogor bersama Risma untuk keperluan Bisnis, sampai akhirnya Aini dan bayinya pergi karena ternyata hasil lab menunjukkan test DNA yang cocok.
Mirna menyimak dengan sesekali berdecak, ia mengetahui soal kehamilan Risma, dan ia juga curiga sama seseorang yang membenci Putra, yang sengaja merancang skenario kehamilan Risma.
Dan Mirna juga tahu, beberapa bulan lalu orang itu mencari-cari keberadaan Risma. Dan kayaknya itu ada hubungannya dengan kondisinya saat ini.
"Kamu kan teman dekatnya, pasti kamu juga mengetahui sesuatu soal Risma?", tatap Putra.
"Euh...", Mirna menggantung ucapannya. Ia juga masih ragu, tetapi setidaknya kesaksiannya itu akan menyelamatkan banyak orang, terutama Aini dan anaknya, juga keluarga Abah Ilham tentunya.
"Aku mohon Mirna, kalau tahu sesuatu, bicaralah", Tatap Putra ia tampak memelas.
"Baiklah..., kalau begitu ikut aku, kita pergi menemui seseorang", ucap Mirna.
Mereka pergi diam-diam, Putra sudah menelepon sopir grab yang ia pesan tadi, untuk mengganti mobil, dan mereka pun pergi diam-diam, sehingga lolos dari intaian Risma.
"Kemana kita pergi?", tanyai Putra.
Ke tempat orang yang tepat, orang inilah kuncinya, dia juga sama sudah mencari Risma sejak ia menghilang dulu, nanti biarkan dia yang bicara sendiri padamu", jelas Mirna .
Putra menurut saja, ia tahu Mirna tulus membantunya, tidak mungkin ia akan membohonginya.
"Stop depan Pak", ucap Mirna.
Mobilnya berhenti di sebuah rumah mewah. Putra membulatkan matanya, jelas ia mengenali rumah ini, dulu, ia sudah beberapa kali ke rumah ini.
"Mirna..., kenapa ke sini?, kamu tidak sedang menipuku aku kan?", Putra menatap Mirna.
"Bapak mengenal tempat ini?", Mirna balik menatap Putra.
"Ia, saya sudah beberapa kali ke sini, dan rasanya saya tidak mau ke sana lagi", tolak Putra.
"Tapi Pak", Mirna berusaha mencegah Putra yang akan kembali menyuruh sopir putar balik.
"Pak..., dengarkan saya!, saya belum tuntas, ini ..., dia itu...", Mirna tiba-tiba gugup, ia tidak tahu bagaimana cara memberitahukannya kepada Putra.
"Sudah Pak, kita kembali , buang-buang waktu saja!", tegas Putra.
"Pak..., dengarkan saya..., di rumah itu tempat orang yang menghamili Risma berada", Mirna bicara setengah berteriak.
"Apa...?, Stop Pak!, Stop dulu", perintah Putra kepada sopir.
"Apa kamu sadar, dengan apa yang kamu ucapkan ini?",
"I...iya..Pak, saya tidak berbohong", ucap Mirna.
"Pak, kita kembali ke rumah tadi", perintah Putra kepada sopir.
"Baik", rengkuh sopir, dia juga terlihat bingung dengan sikap Putra dan Mirna.
__ADS_1
Mobil kembali berhenti di depan rumah itu.
"Tunggu dulu Mirna!, apa orang itu Aditya?", tatap Putra.
Putra sangat tahu, di rumah itu hanya ada Aditya dan bapaknya, tidak mungkin keempat bodyguard nya yang melakukan.
Mirna tampak kaget, bagaimana Putra bisa mengetahuinya, kalau begitu, kenapa tidak sejak awal dia mendatangi Aditya.
"Sudah!, diam berarti iya kan?", tatap Putra.
Putra langsung menuju pintu rumah Aditya, ia hendak menggedor pintu itu dengan tinjunya, namun segera Mirna cegah.
"Tunggu pak!, maaf..., saya yang membawa Bapak ke sini, jadi saya minta, Bapak menemui mereka dengan sopan, Pak Dirman, ayahnya Aditya sedang sakit", Mirna tampak memelas.
Putra menatap Mirna, ia mengangguk, "Iya..., saya mengerti",
"Biar saya yang masuk duluan", pinta mirna.
Ia mengetuk pintu dan berucap salam.
Terdengar jawaban dari dalam dan suara langkah kaki mendekati pintu. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
Dan Aditya sendiri yang membukanya.
"Mirna?, kamu ?, silahkan masuk!", persilahkan Aditya, dia tidak melihat keberadaan Putra yang terhalang daun pintu.
"Saya membawa sesrirang Pak", ucap Mirna.
"Siapa?", Aditya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Saya", tegas Putra. Ia menampakkan dirinya di depan Aditya.
"Putra... ", Aditya tampak kaget. Sudah lama mereka tidak bertemu, setelah mereka terlibat pertengkaran memperebutkan Aini.
"Iya..., kenapa kaget?", Tegas Putra. Mirna menatap Putra.
"Silahkan masuk!", persilahkan Aditya. Dia membawa tamunya itu ke ruang kerjanya, ia tahu pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan Putra, Aditya khawatir terjadi keributan diantara mereka berdua, yang akan mengganggu Bapaknya.
"Kita bicara di sini saja", Aditya lebih dulu duduk, diikuti Mirna dan Putra.
'Kalau bukan demi kalian ,aku tidak sudi berada di sini', pikir Putra.
Sejenak mereka diam, Aditya berinisiatif mengambilkan tiga botol minuman dingin dari show case yang ada di ruang kerjanya.
Siapa tahu itu bisa membantu mendinginkan suasana.
"Silahkan di minum!", persilahkan Aditya , ia tampak menatap Mirna seolah ingin meminta penjelasannya kenapa membawa Putra ke rumahnya.
"Begini", kompak ketiga .
Mereka saling pandang.
"Silahkan tamu duluan", senyum Aditya.
"Maaf Dit, aku sengaja membawa Pak Putra ke sini, ada hal yang ingin dibicarakan", ucap Mirna hati-hati.
"Bicara saja ..",
"Euh...euh...", Mirna tampak canggung untuk bicara.
"Begini, saya to the point saja, "Apa kamu ayah dari anak yang dilahirkan Risma?", sambat Robi, ia sudah tidak bisa bersabar lagi.
"Risma...?", gumam Aditya.
__ADS_1
"Iya..., Risma sudah melahirkan!", tegas Putra.
Aditya menunduk, ini telak menusuk jantungnya, ia sudah tidak ingin bersandiwara lagi.
"Jawab!", teriak Putra, ia sungguh tidak sabar melihat Putra yang tampak leya-leye.
"Sabar Pak, saya mohon", Mirna mengatupkan kedua lengannya di dada.
"Iya..., saya salah...", Aditya menunduk.
"B**ci.Loe!", teriak Putra, ia hampir saja meninju wajah Aditya.
"Pak...", teriak Mirna , ia berusaha menenangkan Putra yang sudah diliputi amarah.
"Pak...saya mohon..., Adit sudah mengakui, itu yang penting", ucap Mirna. Ia berdiri diantara Mereka.
Putra yang sudah berdiri, kini duduk kembali di tempatnya semula. Ia tampak mengatur nafasnya yang terengah-engah karena marah.
"Dengar ya Dit, gara-gara ulah kamu ini, Aini dan anakku yang sengsara, aku yang dituduh melakukannya, padahal kamu pelakunya, enak-enakkan di sini",
"Masf Putra, aku sudah mencari Risma, tapi dia seperti hilang ditelan bumi", junur Aditya.
"Sekarang di mana Risma?", tatap Aditya.
"Aku bahkan hampir putus asa mencarinya, Bapak sakit, jadi aku tidak lagi mencarinya", ucap Aditya.
Putra terdiam, ini salahnya juga, dulu ia melarang , bahkan menahan Risma dirumahnya, jadi pantas saja kalau Aditya tidak menemukan Risma.
"Kamu yang masuk ke kamar Risma waktu di Bogor kan?", tatap Putra tajam.
Aditya mengangguk.
"Aaahhh....", teriak Putra, ia meninju lengan sofa di sampingnya
"Kamu keterlaluan Dit, kamu sudah menyengsarakan kami sekeluarga, kamu tahu!, gara-gara ini, Aini dan anakku pergi dari rumah", teriak Putra.
Putra menunduk, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, Putra menangis.
Aditya menatapnya dengan mata berkaca, begitu pun Mirna. Mereka ikut larut dengan kesedihan Putra.
"Aku siap menerima apa pun hukumannya untuk kejahatanku ini", Aditya menunduk, suaranya ikut bergetar, ia telah membuat wanita yang sangat ia perjuangkan dulu, menderita .
'Ada yang salah dengan hasil test DNA itu', batin Putra bicara.
"Aku bersedia menjadi saksi, kalau kamu tidak bersalah", ucap Aditya.
"Ya..., memang harus begitu, kamu harus ikut aku dan jelaskan semuanya dihadapan keluargaku", tatap Putra.
"Baik, saya bersedia", Aditya menunduk.
"Oke, kita pergi hari ini, biar semua cepat clear",
"Baik, saya setuju", ucap Aditya.
"Perlu kamu ketahui , anak Risma itu mungkin satu-satunya keturunan aku, karena pasca kecelakaan, aku divonis tidak bisa lagi punya keturunan", Aditya menunduk.
"Makanya hampir setahun ini aku terus mencari Risma, tapi tidak ketemu, aku sampai putus asa, apalagi Bapak juga sakit-sakitan", Aditya menunduk.
"Ini karma bagi aku, maafkan aku",
"Sudah..., itu urusan kamu, aku hanya ingin kamu jujur dihadapan semua keluargaku, dan aku bisa membawa anak dan istriku kembali",
Setelah pamit kepada ayahnya, Aditya ikut pergi bersama Putra dan Mirna. Aditya membawa mobil sendiri dan Mirna ikut bersamanya.
__ADS_1
Sebentar lagi kebenaran akan terbuka, bagaimana reaksi Risma setelah kelicikannya terbongkar?, ikuti cerita selanjutnya....