
Setelah makan, mereka semua bercengkrama di ruang keluarga sambil menonton TV. Putra mengambil buah-buahan yang tadi dibelinya dari Minimarket.
"Ini ada buah", ia menaruh sekeranjang buah komplit di meja.
"Wah...ini untuk siapa?", Bu Hellen melihat isi keranjang di depannya.
"Untuk Aini Mih, Ibu hamil kan bagus banyak mengkonsumsi buah-buahan", senyum Putra.
"Ya memang bagus, tapi tidak semua juga", Bu Hellen membuka keranjang di depannya.
"Nih,seperti anngur, salak, dan apalagi ini buah durian, ini tidak baik untuk ibu hamil, bahkan tidak boleh", Bu Hellen memisahkan buah-buahan tadi .
"Oh..., kirain semua bagus ", senyum Putra.
"Nanti juga tiap bulan kan harus periksa ke Dokter, kalian bisa bertanya langsung kepada Dokternya tentang makanan -makanan yang baik untuk Ibu hamil", terang Bu Hellen.
"Bi..., Bu Surti...", panggil Bu Hellen.
"Iya Nyonya", Bi Surti datang menghampiri .
"Bi,buatkan bumbu rujak ya, tapi jangan terlalu pedas, kita ngerujak", senyum Bu Hellen.
"Baik , Nyonya", rengkuh Bi Surti.
"Aduh..., padahal aku pingin sekali buah durian itu", bisik Aini kepada Putra.
"Mih, kalau sedikit nggak apa-apa kali, Aini lagi pingin buah durian", Putra menatap Bu Hellen.
"Jangan, nanti kamu sendiri yang merasakan , kalau tidak boleh , ya tidsk boleh, walau sedikit", Bu Hana segera membawa buah yang dipisahkan tadi ke dapur..
"Wanita hamil itu banyak pantangannya sayang, memang kalau dipikir itu tidak masuk akal, tapi kalau dilanggar, selalu ada saja akibat buruk yang terjadi, jadi jangan ambil resiko, turuti saja", senyum Bu Hana , ia mengelus kepala Aini.
"Iya..., beritahu saja, biar Aini ingat Bu",senyum Aini.
"Yang Ibu tahu saja ya, soalnya Ibu juga sudah lupa lagi, Nih kalau mau makan, pakai piring yang kecil, pisin, seperti ini, tolong ingatkan Aini ya Bi", Bu Hellen melirik Bi Surti.
"Baik, Nyonya",
"Iya sih, tidak masuk akal sih, Ibu hamil kan harus banyak makan, porsi berdua, tapi nggak boleh makan dengan piring besar", kekeh Putra.
"Iya, kalau menurut logika sih begitu", senyum Bu Hellen.
"Nih..., buat Non Aini mah ini saja, ada pepaya, melon, dan pisang, bagus tuh buat si dede bayi", Bi Surti memberikan pisin berisi buah kepada Aini lengkap dengan bumbunya.
__ADS_1
"Terima kasih Bi", senyum Aini. Rasanya seperti menjadi Putri raja saja, semua diperhatikan, tidak boleh ini dan itu, Aini menurut saja, karena itu pasti baik untuknya dan untuk calon bayinya.
"Hati-hati kamu , sudah ada calon bayi kalian di perut Aini, jangan terlalu lincah aktifitas di atas kasurnya", senyum Bu Hellen.
Aini menunduk malu, ia mengerti arah pembicaraan Ibu Mertuanya itu. Namun Putra malah terkekeh, "Tenang saja Mih..., kalau masalah itu ,aku sudah ada solusi jitu",
Aini mencubit paha suaminya, ia merasa malu kalau membahas masalah di atas ranjang bersama orang tua mereka.
"Aw...", Putra mengaduh sambil memeluk Aini .
"Nggak apa-apa kan Mih, sudah halal ini", senyum Putra, ia malah sengaja mengecup kening Aini di hadapan orang tuanya.
"Ihh...kamu ya", senyum Bu Hellen.
"Eh ...bagaimana di kantor, kamu sudah mulai betah kan di sana?", Bu Hellen mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah lancar Mih, kan selalu ada Pak Hambali yang membantu", senyum Putra.
"Ya ..., perlahan kamu harus bisa mengatasi semua sendiri", Bu Hellen menepuk pundak Putra.
"Oh iya Mih, rencananya besok aku mau meninjau proyek yang di Bogor, aku ke sana ditemani oleh seorang staf, jadi titip Aini, takutnya nggak selesai satu hari, lagi pula kalau pulang pergi kan cape", Jelas Putra.
"Kok baru bilang sekarang Mas?", Aini menatap suaminya.
Aini cemberut begitu mendengar suaminya ada urusan di luar kota, apalagi perginya ditemani oleh seorang staf, pasti staf wanita lagi.
"Jangan cemberut begitu, ini urusan kantor, kalau tidak aku tangani, siapa lagi?",
"Ini juga demi kalian", Putra memeluk Aini dan mengusap perutnya.
"Cepat istirahat sana!, besok harus berangkat pagi kan," Bu Hellen menatap Putra.
"Ingat , bulan ini masih masa percobaan, kamu Papih nilai kamu bisa menangani masalah di Kantor yang ini, Papih pasti akan lepas tangan, dan otomatis kamu yang akan naik menjadi Direkturnya di sini", jelas Bu Hellen.
"Aduh, jadi Durektur?, Bu, mantu kita sebentar lagi akan menjadi Direktur", senyum Pak Arman. Ia tersenyum bahagia.
"Itu rezeki orok Pak, Aini baru beberapa bulan mengandung, rizkinya sudah dimudahkan", senyum Bu Hana.
"Iya, rizki suami itu kan buat anak dan istrinya", senyum Bu Hellen.
"Putra kembali menggandeng Aini menuju kamarnya, begitupun dengan Bu Hana dan Bu Hellen mereka memasuki kamarnya karena rasa kantuk mulai menyerang.
*
__ADS_1
*
"Bagaimana berhasil tidak?", Risma sedang menerima telepon dari seseorang di dalam kamar tidurnya.
"Gatot", jawabnya dengan nada kesal.
"Gatot siapa?",
"Gagal Total Aditya....", gerutu Risma.
"Masa gitu saja gagal sih?",
"La iya, aku sudah kasih minumannya kepada dia, eh...malah Pak Hambali yang meminumnya, gimana tidak kesal",
"Ha...ha...ha...., ya sudah kamu sama Pak Hambali saja, dia kan duren, banyak uang juga", kekeh Aditya.
"Iih...,amit-amit, aku tuh pantas sama anaknya, bukan sama si Kekek", kekeh Risma.
"Tapi dia itu Duren yang kaya kan?, itu yang kamu cari?",
"Iya, tapi jangan yang setua itu juga, nanti anakku memanggilnya Abah, bukan Ayah", cicit Risma.
"Tapi tenang saja, besok itu mau ada acara ke luar kota, mudah-mudahan aku yang ke sana bersama Pak Putra, jadi lebih leluasa menggodanya kalau cuma berdua",
"Ke mana?",
"Ke Bogor, di sana mau ada acara gunting pita proyek baru dan beberapa urusan lain", terang Risma.
,"Nah..ini baru kabar bagus, kalau perlu, aku bisa membantumu menggolkan rencana ini"
"Gimana?", tanya Risma.
"Kabari lagi besok, kalau kamu yang jadi pergi, aku akan mengikutimu, biar bisa membantu di sana",
"Oke, kamu siap-siap saja besok, aku chat, langsung buka ya!",
"Kita jadikan perjalanan ke Bogor besok sebagai akhir dari perjalanan cinta Putra dan Aini", ucap Aditya.
Malam itu dia dan Risma merencanakan sesuatu untuk Putra, perjalanan pertama ke luar kota akan mereka jadikan sebagai perjalanan terakhir dari kisah Putra dan Aini.
Setelah sepakat, Aditya mentransfer sejumlah uang ke rekening Risma untuk keperluannya selama menjalankan rencana jahatnya.
Risma tidak sadar, kalau dia sendiri yang akan dimanfaatkan oleh Aditya untuk mencapai tujuannya . Aditya berencana ingin mencelakai Putra dengan menjadikan Risma sebagai senjatanya.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang direncanakan Aditya?,