
"Kita jalan-jalan ke luar, mumpung hari cerah", ajak Putra begitu mereka selesai sarapan. Tidak lupa Putra membereskan meja dan piring-piring yang kotor.
Putra tidak membiarkan Aini membereskannya sendiri. Mereka keluar kamar dan menuju hamparan kebun teh di sana.
"Kok, ini hampir sama ya dengan tempat yang aku kunjungi waktu itu", Aini melirik Putra.
"Ya sama, sama-sama kebun teh, tapi berbeda tempat, kebun teh itu banyak, ada di beberapa daerah yang udaranya sejuk,
"Aku itu tidak pernah pergi ke tempat-tempat wisata lho.., paling ke sawah dan ke kebun saja", senyum Aini.
"Sekarang, kamu bisa pergi kemana pun kamu mau, aku siap untuk menemanimu pergi kemana pun", senyum Putra.
"Nggak ah..., aku lebih nyaman berada di rumah saja, asalkan bersama kamu", senyum Aini , ia mengeratkan pegangan tangannya di tangan Putra. Inginnya sih memeluk pinggang, tapi ia malu, karena sekarang mereka sedang berada di tempat umum.
"Kita naik kuda yu!, berkuda sambil mengintari keindahan kebun teh pasti akan indah",
"Tapi aku takut", tolak Aini.
"Kita berdua yang naik, aku yang pegang kendalinya", bujuk Putra.
"Nggak, aku takut, aku itu takut ketinggian, kalau kudanya ngamuk gimana, aku nggak mau titik", Aini langsung diam, berdiri mematung membiarkan Putra berjalan sendiri.
Putra tidak menyadari itu, ia terus saja berjalan, sampai sudah beberapa langkah, baru ia menengok ke samping, Aini?", Putra menoleh lagi ke belakang, dilihatnya Aini masih berdiri mematung di sana.
Putra menghampiri kembali Aini, "Aduh..., maaf, marah ya?", Putra meraih tangan Aini dan memegangnya.
"Kamu itu yah..., baru sehari aku bersama kamu, sudah begitu", Aini cemberut.
"Kita duduk di sana saja", Putra membawa Aini ke bawah pohon, dan duduk di sana sambil memandangi hamparan kebun teh yang menghijau.
"Maaf...sayang...", Putra memeluk Aini.
Sikap Putra itu mengundang banyak perhatian dari para pengunjung lain.
"Sudah ah...lepas..., malu dilihatin orang", Aini melerai pelukan tangan Putra.
"Biarin saja, kita kan sudah menikah", Putra malah sengaja mencium kening Aini.
"Iihhh..., iya..., tapi kan tidak enak juga dilihatin orang, mereka semua tidak tahu kalau kita sudah menikah", tunduk Aini.
"Ya sudah, ayo kita ke sana saja, nggak apa-apa kalau tidak mau berkuda, kita main sepeda saja, bisa naik sepeda kan?", Putra melirik Aini.
__ADS_1
"Aku juga tidak bisa bersepeda", cicit Aini.
"Aku itu tidak boleh belajar ini, belajar itu, Bapak dan Ibu sangat sayang sama aku, jadi mereka takut kalau aku terluka, makanya aku itu katro banget, bersepeda saja tidak bisa", senyum Aini.
"Naik mobil saja aku takut, apa lagi naik kuda", kekeh Aini.
Putra menatap Aini lekat, senyumnya yang manis, tawanya yang renyah, ampuh menghipnotis dirinya.
Aini menunduk malu, ia menyadari Putra sedang menatapnya. "Kenapa, ada apa?, ada yang salah dengan aku?",
"Kamu jangan tersenyum sama orang yang baru kamu kenal ya?, apalagi sampai tertawa", tatap Putra.
Aini mentautkan kedua alisnya, "Kenapa?",
"Aku takut mereka tertarik sama kamu, senyum dan tawaku hanya untuk aku", senyum Putra.
"Iihhh..., lebay...", kekeh Aini.
"Tuh...kan..., senyum dan tawamu itu bikin aku terhipnotis", senyum Putra.
"Lihat!, kita bersepeda gandeng seperti itu, jadi kamu hanya tinggal mengikuti gerakan aku saja", Putra menunjuk ke arah pengunjung yang sedang bersepeda gandeng.
"Lucu ya, aku baru lihat lho", senyum Aini.
"Jangan sedih ..., sekarang kan sudah ada aku, aku siap menemanimu kemanapun kamu mau, aku akan tunjukan dunia kepadamu", senyum Putra.
"Terima kasih", senyum Aini.
"Bagi aku , kamu itu seperti permata, kamu itu langka, keindahanmu terjaga, kamu itu istimewa, kamu itu segalanya buat aku", tatap Putra
"Aduh...., gombal", senyum Aini.
"Benar, aku berkata jujur, kamu itu berbeda dengan kebanyakan mereka, mereka memang cantik, tapi lihat, kecantikan mereka dikomersialkan, orang-orang disekitarnya bisa dengan leluasa memandangi tubuh mereka yang dengan sengaja dibiarkan terbuka", Putra melirik Aini.
"Kamu tidak menyesal kan memilih aku", goda Aini, ia menatap Putra.
"Iya menyesal, aku menyesal karena tidak sejak dulu bertemu", kekeh Putra .
"Aku ingin punya banyak anak dari kamu, Mamah juga ingin seperti itu, biat rumah kita nanti diramaikan oleh tangis dan tawa mereka", Putra menerawang.
"Coba kalau semalam sudah bisa..., pasti ...", Putra menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Pasti apa?", Aini mencubit pinggang Putra.
"Ya...pasti kamu suka, di jamin nanti kamu duluan yang minta", goda Putra.
"Iihhh... ,apaan sih..., kamu ya....", Aini menepuk pundak Putra, namun tangannya di sambar oleh Putra, kini tangan Aini dipegangnya lalu dikecupnya. (So Sweets),
"Wajah Aini memanas mendapat perlakuan itu dari Putra.
" Aku ingin kamu yang pertama dan terakhir untuk aku, kamu itu pria pertama dalam hidupku", tunduk Aini.
"Aku tidak mau sakit hati, apalagi oleh kamu", senyum Aini. Ini adalah untuk pertama kalinya ia bicara dengan Putra mengenai perasaannya. Mungkin ini yang disebut pacaran setelah nikah.
Mereka bebas mengutarakan semua rasa dengan ucapan dan dengan tindakan, sudah tidak ada yang akan melarang, karena semua sudah sah, sudah halal.
"Kamu mau itu nggak?", tawari Putra begitu melihat seorang penjual makanan yang membawa keranjang.
"Boleh..., panggil yang itu saja, yang Ibu itu", bisik Aini, ia melihat ada penjual ibu-ibu yang sedang duduk.
Putra menurut, ia menghampiri si Ibu penjual dan membawanya ke hadapan Aini. "Silahkan Neng, mau apa?", tawari si Ibu dengan senyum ramah.
"Itu ada apa saja Bu?", Aini balik bertanya.
"Ini ada ketan bakar dan sambal oncomnya, ada aneka gorenga, ada mie cup juga", jelas si Ibu.
"Saya kopi sayu Bu", pinta Putra.
"Oh..baik Den, sebentar", si Ibu nampak menyeduh segelas kopi yang diminta Putra, dan memberikannya segera.
Sementara Aini memilih beberapa gorengan, dan susu jahe. Setelah itu membayarnya.
"Ini kembaliannya Den", Ibu penjual memberikan uang kembaliannya.
"Nggak usah Bu, buat Ibu saja", tolak Putra.
"Terima kasih Den, semoga pernikahannya langgeng, dan segera diberikan keturunan yang sholeh dan sholehah", ucap si Ibu tulus dengan tersenyum.
"Terima kasih kembali Bu, semoga jualannya cepat habis", senyum Aini.
Si Ibu kembali menjajakkan jualannya dengan menawari semua pengunjung yang ditemuinya.
"Kasihan ya?, Ibu itu pasti seorang tulang punggung, ia juga pasti meninggalkan anak-anaknya di rumah, seorang Ibu yang tangguh", tatap Aini.
__ADS_1
"Iya..., seharusnya seusia itu sudah waktunya menikmati hidup, tinggal duduk di rumah saja", senyum Aini.
"Aku akan membuat hidupmu lebih indah, kini dan nanti, kita akan tetap bersama sepanjang usia", Putra kembali menggenggam erat tangan Aini.