Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Penentuan Hari H


__ADS_3

Deru mesin mobil terdengar di halaman rumah Kakek Ilham. Bu Hana sumringah, ia langsung berdiri dan setengah berlari menuju daun pintu.


Bu Hana menarik tuas pintu sudah tidak sabar ingin segera memeluk Aini. Dilihatnya Aini dan Putra baru keluar dari mobil.


Bu Hana langsung saja berlari menghampiri Aini dan memeluknya sambil menangis bahagia.


"Alhamdulillah Neng, kamu pulang, Ibu khawatir, takut Neng kenapa-kenapa", isak Bu Hana.


"Sudah Bu, Aini tidak apa-apa, seperti yang Ibu lihat, Aini baik-baik saja", Aini memeluk erat ibunya.


"Coba Ibu lihat, kamu benar tidak apa-apa?", Bu Hana memegang wajah Aini dan memperhatikan seluruh badan Aini dari atas ke bawah.


"Sudah Bu, Aini tidak apa-apa", tegas Putra.


"Siapa Hana?, apa itu Aini?, cepat bawa masuk, mungkin dia lelah", teriak Pak Arman dari dalam.


"Oh...iya...maaf..., Ibu terlalu senang, ayo masuk!", Bu Hana menggandeng Aini masuk, diikuti oleh Putra.


Di dalam, Aini bengong, begitu melihat banyak orang berkumpul, "Asik.....Teteh sudah pulang", teriak Murano begitu melihat Aini masuk. Ia berlari menghampiri Aini dan memeluk kaki Aini, karena ia masih terlalu pendek.


"Rano...., Tetehnya masih capek, sini sama Mamah dulu!", Bu Mona membujuk Murano.


"Nggak mau...nggak mau...., Rano mau sama Teteh", rajuk Murano.


"Iya...nggak apa-apa, sini duduk sama Teteh!, Aini menuntun Murano untuk duduk di kursi bersamanya .


"Aduh ...,maaf ya Neng, dari rumah juga antusias mau ke sini, mau ke rumah Teteh Aini katanya", senyum Bu Mona.


"Iya Bu , tidak apa-apa", senyum Aini.


Putra pun duduk di kursi kosong di samping Aini.


'Ini ada wedang jahe, kalian minum dulu, biar badannya hangat", Nek Husna membawa senampan gelas berisi wedang jahe.


"Terima kasih Nek", rengkuh Putra.


Ia mengambil dua gelas, yang satunya ia berikan kepada Aini. Itu spontan mengundang senyuman bagi kedua orang tua mereka.


Mirna melengos melihat pemandangan itu, hatinya merasa iri, tapi sekali lagi ia harus menerima keadaan ini, cinta tidak bisa dipaksakan.


"Sepertinya ini waktu yang tepat", Pak Handoko memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Waktu apa Pah?", Bu Hellen melirik.


"Mumpung kita semua sudah berkumpul, sebaiknya sekarang saja kita tentukan tanggal dan hari untuk pernikahan anak-anak kita ini", usul Pak Handoko.


"Wah..., kalau itu Mamah setuju, Aini kan sudah lulus sekarang", timpa Bu Hellen.


Bu Hana dan Pak Arman saling memandang, begitu kepada Kakek Ilham. Seolah meminta persetujuan dari Kakek Ilham.


"Kakek setuju, lebih cepat lebih baik, jangan menunda hal baik, kalau sudah bisa dilaksanakan , ya cepat laksanakan",


"Kakek lihat kalian juga sudah sama-sama cocok kan?", lirik Kek Ilham kepada Putra dan Aini.


"Buukkk....", serasa ada bola besar yang menimpa wajah Mirna, ia lagi berusaha menerima keadaan kalau Putra lebih memilih Aini, tapi kalau harus menyaksikan sendiri di depan matanya rasanya sangat berat.


"Mah...Pah...., Mirna ke luar sebentar, ada teman mau telepon", alasan Mirna.


"Oh....iya sayang", senyum Bu Mona.


"Apa kami masih boleh di sini?", senyum Bu Mona.


"Oh...silahkan Bu, kita sudah seperti keluarga kan?", senyumBu Hellen.


Aini melirik Mirna yang keluar menuju mobilnya, nampak ia sedang mengotak-atik ponselnya di dalam mobilnya.


"Kalau masalah itu, biar Kakek saja yang cari", lirik Pak Arman kepada Kek Ilham.


"Mmm...., kalau masalah itu, Kakek harus hitung dulu, memang semua tanggal dan hari itu baik, tapi kita cari yang terbaik, biar semua berjalan dengan lancar",


"Coba hari lahir Nak Putra apa?", Kek Ilham melurik kepada Putra.


"Mmm..., hari apa yah, Mah....hari apa?", senyum Putra, ia malah balik bertanya kepada Bu Hellen.


"Hari senin Kek, Putra lahirnya hari senin", senyum Bu Hellen.


"Baik, senin ya, kalau Aini Kakek tahu, hari rabu kan?, tuh...Alhamdulillah kalau dilihat dari hari lahir, Aini dan Putra sudah cocok, Senin itu dilambangkan dengan bunga, sedang rabu dilambangkan dengan daun, cocok", senyum Kek Ilham.


"Kalau saya tidak mengerti soal yang begituan Kek", senyum Pak Handoko.


"Iya, ini itu kebiasaan orang sunda, untuk menentukan hari yang terbaik.


"Sekarang hari lahir Pak Handoko dan Bu Hellen, juga hari lahir Arman dan Hana, biar nanti Kakek hitung dulu, jatuhnya pada hari apa", jelas Kek Ilham.

__ADS_1


"Saya hari rabu, suami saya jum'at", senyum Bu Hellen.


"Saya hari selasa Kek, kalau Hana hari rabu, benar ya Bu?", Pak Arman melirik istrinya.


"Iya benar Pak, hari lahir saya sama dengan Aini, hari rabu", senyum Bu Hana.


"Ya, nanti Kakek hitung-hitung dulu, pasti ada titik temunya, dan itulah tanggal dan hari baiknya", jelas Kek Ilham.


"Lama nggak Kek?", celetuk Putra.


"Ah..nggak, kalau sudah dapat mungkin dua atau tiga minggu lagi, kenapa...sudah nggak sabar ya?", senyum Putra.


"Ah...Kakek, betul itu Kek, tidak salah", Putra tertawa diikuti oleh tawa yang lainnya.


"Nah sambil menunggu hari H nya, kalian bisa belajar dulu bagaiman menjadi suami dan istri yang baik, biasanya suka ada penataran pra nikah, kalian bisa ikut dulu", jelas Pak Arman.


"Iya, ide bagus itu, jadi nanti kalian sudah tidak kaget lagi saat sudah menjadi suami istri", senyum Bu Hellen.


"Lagi pula penataran pra nikah itu sekarang sudah dijadikan syarat bagi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan, bukan begitu ya Bu?", Pak Pernawan melirik istrinya.


"Iya, dua minggu yang lalu juga ponakan saya sebelum menikah, diharuskan mengikuti penataran pra nikah dulu", senyum bu hellen.


"Iya besok saja saya akan mencari tahu ke Balai Desa ", ucap Putra.


"Sebentar Kekek, Ilham nampak mengambil sebuah kertas dan ballpoint, ia terlihat menulis nama Aini dan Putra, entah rumus apa yang beliau pakai, namun ada angka- angka yang sedang ia hitung.


Di higung-hitung...., dapatlah satu angka yang langsung ia lingkari. "Alhamdulillah, sudah dapat, nih tanggal 16 Agustus , lihat hari apa tanggal16 Agustus?", Kek Ilham memandang ke Arman.


"Sebentar Kek, Arman nampak melangkah mengambil kalender duduk di atas meja televisi.


"Emm..., 16 Agustus, hari Selasa Kek", Arman melihat kepada Kek Ilham.


"Nah itu, hari selasa tanggal 16 Agustus, itu hari pernikahan kalian", jelas Kek Ilham.


"Jadi masih ada waktu sekitar lima minggu lagi dari sekarang, kalian harus mulai di pingit, jangan sering-sering bertemu, biar pas hari pernikahan nanti pada kangen", senyum Bu Hana.


"Alhamdulillah, saya ikut senang, semoga acara nanti berjalan dengan lancar, selamat semuanya", senyum Bu Mona.


"Aamiin, terima kasih do'anya", senyum Bu Hellen.


Aini dan Putra saling pandang, hanya tinggal lima minggu lagi mereka akan menjadi sepasang suami istri.

__ADS_1


Mereka saling tersenyum bahagia.


__ADS_2