
Kelulusan sekolah tinggal seminggu lagi, kini semua orang di sekolah sudah mengetahui kalau Putra dan Aini sudah tunangan.
Kenyataan yang membuat patah hati . Apalagi tersiar kabar kalau mereka akan menikah setelah Aini lulus nanti.
"Mir, kok kamu sepertinya pasrah gitu sih, sudah mengaku kalah sama Aini?", Sinta menyenggol tangan Mirna yang sedang duduk di kursi8 sekolah.
"Terus Gue mesti ngapain?, marah-marah?, ngamuk-ngamuk?, atau menangis menjerit-jerit gitu?", Cemberut Mirna.
Sinta dan Aliya saling pandang. Mereka kaget melihat perubahan sikap Mirna, yang awalnya menggebu ingin memisahkan Aini dari Putra, kini kok nampak pasrah dengan keadaan.
"Iya, jadi kamu ikhlasin Putra nih buat Aini, janur kuning belum melengkung nih Mir?", kompori Sinta.
"Ng....gimana ya...?, Gue lagi baik aja, Gue pikir cuma buang-buang waktu saja ngusik kehidupan orang lain, kuta juga sudah punya jalan hidup sendiri, siapa tahu dalan perjalanan hidup Gue ini, ada seorang pangeran tampan yang baik hati sedang menunggu Gue, jadi Gue juga mesti baik", senyum Mirna.
Sontak ucapan Mirna membuat Sinta dan Aliya melongo, sungguh berbeda 180 derajat.
"Apa kita nggak salah dengar?, wow, ada dengan teman kita sekarang?,bisa berubah menjadi baik dala sekejap mata", kekeh Aliya.
"Kalian tuh ya, harusnya senang punya teman yang berubah menjadi baik itu, bukannya di ledek", Mirna menepuk bahu Sinta.
"Kita cuma kaget saja, rasanya Amazing gitu, bagaikan di sulap, Mirna yang garang, kini menjadi baik hati, bener nggak Sin?", Aliya melirik sinta.
"Iya, Alhamdulillah", senyum Sinta.
"Apa ini ada hubungannya dengan Aini?, maksud aku, Kamu berubah karena Aini?", Aliya menatap Mirna.
"Nggak dong, ini mah memang pure niat aku saja untuk berubah", alasan Mirna. Dia gengsi mengakuinya. Padahal benar, Aini yang telah menginspirasinya untuk berubah menjadi baik.
Apalagi setelah ia melihat kehangatan keluarga Aini saat dirinya dan kedua orang tuanya ke rumah Kakek Ilham.
Dan Aini juga yang telah menyelamatkan adiknya, Murano. Dan juga kebaikan kakeknya Aini yang tidak menuntut apa-apa setelah ibunya menabrak Kakek Ilham. Itu semua cukup membuat luluh hatinya.
"Jadi..., kita akan berdamai dengan Aini?", Sinta kembali memandang Mirna.
__ADS_1
"Ya...begitulah, kita jalan masing-masing saja, jangan saling mengganggu", tegas Mirna.
"Oke..., kalau begitu kita harus pegang rem nih, biar tidak menabrak orang di jalan", kekeh Sinta.
"Jangan lupa pasang spion juga, biar tetap bisa berjalan di jalan yang benar", timpa Aliya sembari terkekeh juga.
"Nggak nyesel nih?, membiarkan Putra bersama Aini?", tanya Sinta.
"Nggak!, intinya ikuti arus saja, kalau sudah jodoh, tidak mungkin akan ke mana", tegas Mirna.
"Sudah!, kalian jangan terus ngompori aku, aku ini ingin berubah, dukung dong!", pinta Mirna .
"Kalian harus yakin saja, setiap kebaikan yang kita tanam, akan mendatangkan kebaikan-kebaikan lain bagi kita , nanti kita juga yang akan memanennya", lanjut Mirna.
"Wuih...., Ok Mir!, kita dukung seratus persen", kekeh Sinta.
"Kita juga mau dong kecipratan berkah dari kebaikan yang akan kamu tanam, karena kita dukung Loe!", kekeh Aliya.
"Ingat Al, damai itu indah", kekeh Sinta.
"Siipp..." , Mirna mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.
Mereka langsung diam saat Aini dan temannya masuk dan duduk di kursinya.
Di rumah, Bu Hellen berencana membawa Aini belanja untuk membeli semua keperluan pernikahannya. Ia sudah berpesan kepada Putra untuk membawa Aini ke rumahnya sepulang sekolah.
"Pah, Mamah ingin pernikahan Putra ini mewah dan meriah, dia kan anak kita satu-satunya",
"Tapi ..keluarga Aini apa mampu?",Pak Handoko melirik istrinya.
"Ya..., kita yang biayain dong Pah, kita beri mereka uang untuk acara pernikahannya Aini dan Putra ", usul Bu Hellen.
"Kapan Mamah di ajak ke rumah Aini?", Bu Hellen memandang suaminya.
__ADS_1
"Mamah harus tahu, Aini itu berasal dari Desa, orang tuanya seorang petani, jadi Mamah jangan kaget melihat keadaan mereka", pinta Pak Purnawan.
"Pah, dari awal, Mamah tidak mempermasahkan hal itu, yang terpenting, Putra bahagia. Aini adalah Putra, Mamah yakin , pasti Aini anak yang baik dan bisa menjadi pendamping yang baik bagi Putra, itu juga sudah cukup", senyum Bu Hellen.
"Kakeknya Aini itu orang terpandang di desanya, tapi mereka tetap hidup sederhana, padahal tanahnya luas, sawahnya juga luas, pokoknya Mamah pasti suka dengan suasana di sana", jelas Pak Pak Handoko.
"Dari pertama bertemu juga, Mamah sudah suka sama Aini, anaknya santun, pantas saja Putra langsung suka, padahal di kampusnya, tidak sedikit yang lebih cantik dari Aini, mereka juga modis-modis",
"Iya, tapi Aini itu berbeda dengan mereka, mereka banyak yang bangga memperlihatkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya, bahkan mereka sengaja mengeksposnya, hanya untuk mendapat pujian, tapi lihat Aini, kecantikannya alami, terlindungi oleh pakaiannya yang syar'i, itu yang Putra sukai dari Aini, kecantikannya terlindungi", senyum Pak Handoko.
"Mamah juga pasti akan terlihat lebih cantik, jiga mulai berhijab", kerling Pak Handoko.
"Mamah Pah, berhijab?, aduh bagus nggak ya?", Bu Hellen menerawang.
"Mah..., hijab itu bukan masalah pantas, tidak pantas, tapi berhijab itu melaksanakan perintah Allah SWT, bagi seluruh wanita muslim yang sudah balig", jelas Pak Handoko.
"Jadi, Papah mau Mamah berhijab?, begitu?", Tatap Bu Hellen.
"Nggak Mah, Papah hanya bilang, kalau berhijab itu, perintah Allah SWT, kepada seluruh wanita Muslim yang sudah balig, kalau masalah mau berhijab atau tidak?, itu kembali pada diri kita, mau taat?, atau mau ingkar?",
"Itu pilihan Mah", tatap Pak Handoko. Padahal dalam hatinya ia sedang berdo'a agar istrinya segera diberi hidayah untuk bisa berhijab.
Sementara Aditya makin meradang, mendengar kabar kalau Aini akan segera melangsungkan pernikahan dengan Putra begitu ia lulus.
Keinginannya untuk memisahkan Aini dari Putra, makin besar, sekarang, ia ingin mempermalukan Putra, sebagaimana dirinya yang dipermalukan Putra waktu itu.
'Apa harus aku menculik Aini?', pikir Aditya 'Itu jalan satu-satunya untuk memisahkan Aini dari Putra, Ya....., aku akan culik Aini sebelum menikah, biar Putra menderita, ha....ha....ha....', Aditya mengulum senyum sambil mengepalkan telapak tangan kanannya.
Dia raih ponsel dari dalam sakunya, "Aku ada kerjaan buat Loe, kesini cepat!, ajak sekalian Bondan, Bimo, dan Yoseph", perintah Aditya.
"Gue tunggu di rumah sekarang juga!", tegas Aditya.
Pak Dirman mendengar pembicaraan Aditya, dia berdiri di samping pintu kamar anaknya.
__ADS_1
'Apa Aditya masih terobsesi oleh Aini?, aku harus tahu apa yang sedang direncanakan Aditya, jangan sampai dia salah jalan', pikir Pak Dirman. Dia khawatir Aditya melakukan perbuatan yang bisa merugikan dirinya.
"Aku harus awasi dia", gumam Pak Dirman.