
"Brak ..., Astaghfirullah...", Aini terkejut, tangannya menyenggol sesuatu di meja lampu yang berada di samping tempat tidurnya.
Aini perlahan bangun, ia ingin mengetahui apa yang telah dijatuhkannya. Lampu tidur yang temaram menyulitkannya untuk merayap ke dinding mencari stop kontak lampu. Namun akhirnya ketemu juga dan Aini menyalakannya.
"Astaghfirullah", Aini menghampiri benda yang tergeletak di lantai. Ternyata itu foto pernikahan mereka. Kacanya retak, Aini berjongkok memungut fotonya fang kini retak.
Ia memandangi dan mengusap kacanya. "Aww..", Aini mengaduh, salah satu jarinya berdarah terkena pecahan kaca.
"Aini...Neng..., sudah bangun?", terdengar suara Bu Hana memanggil di luar pintu.
"Iya Bu, masuk saja, pintunya tidak di kunci", persilahkan Aini.
Bu Hana membuka pintu perlahan, ia kaget mendapati Aini sedang berjongkok di lantai.
"Neng?, kenapa?", Bu Hana tambah panik saat dia mendapati jari tangan Aini mengeluarkan darah.
"Astaghfirullah Neng, kenapa?", Bu Hana meraih tangan Aini dan membawanya duduk di sofa. "Tunggu Ibu mencari obat dulu",
"Di laci ke dua Bu, di sana ada obat luka", beritahu Aini.
"Bu Hana menurut, dan benar saja, disana ia mendapati kotak obat, dengan cepat Bu Hana menyambar kotak dan membawanya ke hadapan Aini.
Bu Hana mengobati tangan Aini. "Bu..., Aini takut",Aini memeluk ibunya.
"Aini takut, ini pertanda buruk", Aini menyembunyikan wajahnya di dada ibunya.
"Jangan berfikir yang bukan-bukan, cepat ke air, sebentar lagi siang, bukankah hari ini suamimu pulang?", Bu Hana mengelus punggung Aini.
"Lebih baik cepat shalat, berdo'a kepada Allah , memohon ampunan dan perlindungan-Nya dari setiap rencana jahat", Bujuk Bu Hana.
"Ini biar Ibu yang membereskan", Bu Hana melepaskan pelukannya dan membiarkan Aini ke kamar mandi.
"Ya Allah, semoga ini bukan pertanda buruk, walaupun harus terjadi, ini semua kehendakMu, berikan kami kesabaran untuk menghadapinya", gumam Bu Hana sambil membersihkan pecahan kaca di lantai.
Tak lama Aini keluar, dia langsung menunaikan shalat,sedang Bu Hana beranjak ke dapur untuk membuang pecahan kaca di plastik.
__ADS_1
"Dalam shalatnya Aini memohon keutuhan rumah tangganya dengan Putra tetap terjaga.
Aini sering mendengar, kejadian tadi pagi di kamarnya adalah pertanda buruk bagi kehidupan rumah tangganya.
Tapi Aini pasrah, karena ia tidak bisa mencegah apa pun yang akan menimpanya, sekalipun hal buruk. Aini hanya memohon tetap diberikan kesehatan dan kesabaran untuk melewatinya.
"Neng, kalau sudah selesai, kamu tunggu di meja makan ya!", kembali terdengar teriakan Bu Hana di balik pintu kamarnya.
'Iya Bu",Aini menyahut. Ia segera membereskan tempat shalatnya, dan segera bergabung dengan Ayah, Ibu dan ibu mertuanya.
Aini terlihat tidak selera makan, ia terlihat lebih banyak melamun di tempat duduknya.
"Makan yang benar, ingat!, walau kamu malas makan, tapi ada seseorang di perutmu itu yang juga butuh makan dari kamu", ingatkan Bu Hana.
Dia belum cerita kepada siapa pun tentang kejadian tadi, Bu Hana takut menambah kacau suasana dengan menerka -nerka peristiwa yang belum tentu terjadi.
Biarlah yang akan terjadi, ya terjadilah, sebagai manusia kita tidak bisa menawar dan menolak, tetapi tetap harus melaluinya walau dengan tertatih sekalipun.
"Iya Neng, apa ada yang mau dibeli?, Bi Surti hari ini mau ke pasar. Putra sudah menchat Mamih, hari ini dia akan pulang", senyum Bu Hellen
"Nggak Mah, Aini sedang tidak berselera makan",
Aini hanya tersenyum getir.
*
*
Sepanjang jalan Risma hanya diam, dia merasa kesal karena Putra memperlakukannya biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
Malah Putra asik ngobrol bersama pak Mul. Mereka membicarakan pengalaman pertama Pak Mul saat istrinya hamil dan melahirkan.
"Wah..., masa istri Bapak ngidam aneh gitu yah, ngidam kan biasanya kepingin makan ini dan itu, lah kok ini malah menyakiti suaminya", kekeh Putra
"Oh iya Ris, mau ini nggak?", Putra memberikan makanan dalam kantong kepad'a Risma.
__ADS_1
"Ada asinan buah dan asinan sayuran juga , segar di makan panas-panas begini",
Risma mentautkkan kedua keningnya. 'Kapan Putra belanja semua itu?',pikir Risma.
"Neng, semalam Bapak tungguin, tidak ada keluar kamar, padahal semalam kita belanja membeli oleh-oleh ini",senyum Pak Mul.
"Kenapa saya tidak dibangunkan Pak?,saya juga kan mau membeli oleh-oleh", Risma menatap Putra dari spion belakang
"Semalam Neng sudah tidur, lampunya juga sudah dimatikan, mana berani Bapak membangunkan", kekeh Pak Mul.
"Jadi..., semalam Pak Mul ke Toko oleh-oleh?", Risma menatap Pak Mul.
"Iya..., mengantar Pak Bos, ya...sekalian saja belanja , Pak Bos yang bayarin", Kekeh Pak Mul.
Risma termenung, 'semalam Pak Putra pergi bersama Pak Mul, lalu yang bersama aku siapa?', Risma mulai gelisah, karena semalam ada orang asing yang menyelinap ke kamarnya, menyelinap juga ke bawah selimutnya, dan ia bebas berbuat sesuatu pada dirinya, karena Risma sangka itu Putra, sehingga dengan rela memberikan miliknya yang berharga, walau bukan yang pertama.
'Biarin saja, tidak ada yang tahu ini, aku akan tetap meminta Pak Putra untuk bertanggung jawab atas hal yang terjadi kepadaku semalam, aku hanya mau Pak Putra, bukan orang lain', Risma bicara dalam hatinya.
Risma sadar, dirinya sudah berbuat bodoh semalam, hanya karena mengira itu Putra, dia diam saja.
'Tapi kalau aku paksa , Putra tetap tidak akan mau, jadi aku akan pengaruhi saja istrinya, apalagi saat ini dia sedang mengandung, pasti emosinya akan labil, dia akan sangat sensitif', pikir Risma.
'Aku harus cari jalan, supaya bisa bertemu dan berbicara langsung dengan Aini, bagaimana ya?', Risma terus merangkai rencana untuk memuluskan tujuannya.
Ia sudah tidak fokus lagi dengan Putra dan Pak Mul, ia bersandar sambil memejamkan mata, hingga tidak terasa ia pun tertidur.
"Heeek.....heeekkkk....", terdengar suara dengkuran.
Putra dan Pak Mul kompak menengok ke sumber suara, mereka kompak menahan tawa, ternyata Risma yang mendengkur. Ia tertidur lelap, sehingga tidak menyadari keadaannya, ia duduk menyender di kursi dengan mulut setengah mengannga, dan mendengkur lagi.
Sungguh penampakan yang berbeda, Risma kini menunjukkan sisi jeleknya saat sedang tidur.
"Mungkin dia kecapean Pak", senyum Putra. Ia pun baru kali ini melihat wanita tidur dengan mendengkur.
"Makanya benar Aden, kalau mau mengetahui sifat seseorang, harus dilihat ketika tidur", kekeh Pak Mul.
__ADS_1
"Istri saya tetap terlihat cantik walau pun sedang tidur, malah terlihat lebih cantik saat tidur", senyum Putra, ia menerawang, mengingat saat lagi berdua dengan istrinya.
Hal itu makin menambah besar rasa rindunya kepada Aini, padahal ia baru dua hari saja tidak bertemu.