
Aditya yang sudah mulai pulih, berencana untuk segera pulang. Sebelum itu ia ingin berkonsultasi dengan Dokter yang menanganinya. Aditya masih belum percaya dengan vonis Dokter untuk dirinya .
"Tok...tok...tok...", Aditya mengetuk pintu ruangan Dokter.
"Silahkan masuk", terdengar suara dari dalam.
Aditya menarik gagang pintu dan memasuki ruangan. Di dalam ia melihat seorang Dokter wanita sedang duduk di kursinya.
"Pak Aditya, sudah sehat?", senyum Dokter Ana.
"Silahkan duduk!, ada yang bisa saya bantu?", senyum Dokter Ana.
"Iya Dok, saya sudah merasa lebih baik, dan perawat pun bilang kalau hari ini saya sudah boleh pulang, tapi sebelum pulang, saya ingin memastikan vonis yang diberikan atas diri saya, apa kondisi saya tidak bisa diobati?",
"Emh...soal itu, dari hasil pemeriksaan laboratorium, memang saya menemukan ada kerusakan pada bagian reproduksi Pak Aditya, dan hal ini memungkinkan terhambatnya produksi ******, sehingga akan menyulitkan Pak Aditya untuk mempunyai keturunan.
"Apa tidak bisa diobati Dok?", tatap Aditya.
"Sayangnya tidak ada Pak", senyum Dokter Ana.
"Kalau di operasi pun, tidak efektif, produksi ****** akan normal, tetapi tetap tidak bisa membuahi", jelaskan Dokter.
Aditya termenung, ia harus bisa menerima keadaan dirinya saat ini.
"Emh..., begitu ya, terima kasih Dokter , kalau begitu saya permisi", Aditya berdiri dan meninggalkan ruangan Dokter . Ia berjalan dengan lunglai.
"Kita pulang sekarang, Den?", Bondan menghampiri Aditya.
"Pak Bos sudah pulang lebih dulu", kabari Bondan.
Memang semalam Pak Dirman pamit pulang dan meninggalkan Aditya bersamanya.
"Iya..., kita pulang saja, aku mau istirahat , kok rasanya masih lemas, tapi Dokter sudah memperbolehkan pulang", gerutu Aditya.
Ia berjalan mengikuti Bondan menuju parkiran Rumah Sakit.
"Silahkan masuk Den, biar saya yang menyetir", Bondan membukakan pintu mobil untuk Aditya, dan ia segera menuju kemudi, dan melajukan mobil menuju rumah.
'Hanya Risma harapanku satu-satunya, ia mungkin kini sedang mengandung anakku', batin Aditya berkata. Ia memejamkan mata, sepanjang jalan hanya diam saja. Bondan sesekali mengintipnya lewat spion tengah.
__ADS_1
'Kasihan Den Adit, pasti ia sangat sedih dengan kondisinya sekarang', batin Bondan pun bicara.
Aini dan keluarga suaminya sudah bersiap untuk pulang ke Kota. Banyak wejangan dari Kakek Ilham yang berharga buat Aini dan Putra.
Mereka bersalaman, sebelum memasuki mobil.
"Baik-baik di sana Aini, jaga diri dan kandunganmu, nanti kalau sudah bulannya, Ibu akan menemanimu di sana", jelas Bu Hana.
"Ibu ingin mendampingi kelahiran cucu pertama Ibu", senyum Bu Hana. Ia tampak memeluk Aini.
"Nak Putra, Bapak percayakan Aini kepadamu, Bapak percaya, Nak Putra bisa menjaga Anak dan calon cucu Bapak", Pak Arman memegangi pundak Putra.
"Insha Allah Pak, saya akan menjaga Aini dan calon bayi kami ",
Semua memasuki mobil, kini ada dua mobil, Putra dan Pak Handoko.
"Mari semua, kami pamit dulu, Assalamu'alaikum", Pak Handoko melambaikan tangan kepada semua orang yang sedang berdiri di teras depan rumah Kek Ilham.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati kalian semua, semoga selamat sampai rumah", teriak Kek Ilham.
"Ada PR besar yang harus segera di selesaikan di rumah", Bu Hellen menarik nafas panjang.
"Nanti saja kita bahas dirumah Pih, semoga Aini tidak terguncang dengan berita ini, Mamih takut mengganggu pertumbuhan janinnya",
"Separah itu masalahnya?",
"Iya, ini akan berdampak pada semua orang juga",
"Papih jadi penasaran",
Tak berbeda dengan Bu Hellen, Aini pun terlihat gelisah, walau di kuat-kuatkan juga, hatinya tetap saja sakit. Wanita mana yang tidak sedih dan sakit hati, di saat sedang mengandung, mendengar ada wanita lain yang juga sedang mengandung anak dari suaminya.
Terlepas dari benar tidaknya, tetapi tetap saja hal itu mengusik hatinya.
Putra mencuri pandang ke arah Aini yang duduk disampingnya. Putra tidak menyangka perjalanan cintanya dengan Aini akan tersandung masalah seperti ini, masalah yang tak pernah ia lakukan.
"Oh...iya..., Pak Mul", celetuk Putra.
"Kenapa Mas?", Aini melirik suaminya.
__ADS_1
"Aku baru ingat, ada orang yang bisa menjadi saksi , Pak Mul , dia yang ikut bersama saat ke Bogor.
"Pak Mul mengetahui semua hal yang terjadi di sana, kamu harus percaya Aini, aku tidak bersalah, kamu satu-satunya wanita dalam hidupku", Putra meraih tangan Aini dan memegangnya erat.
'Iya..., aku percaya, aku mempercayaimu lebih dari siapa pun suamiku', batin Aini bicara. Ia tidak mampu mengucapkannya.
Namun hadirnya Risma, sedikit menggoyahkan keyakinannya. Mau tidak mau untuk sementara Aini harus menutup telinga dari omongan-omongan jelek tentang suaminya, apalagi kalau berita ini sampai di ranah media.
Kedua mobil sudah memasuki komplek mewah, sebentar lagi mereka akan sampai di rumah.
Tanpa di duga, saat mereka sampai di rumah, Risma sudah lebih dulu ada di sana. Dengan tersenyum tanpa dosa, ia duduk di kursi teras dengan tumpang kaki, lagaknya bikin jengah sang punya rumah.
Aini saling pandang dengan Putra, sungguh di luar dugaan mereka, Risma sudah bertindak seberani itu.
Bahkan ia tidak peduli dengan kehadiran Pak Handoko dan Bu Hellen.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa mencegah kedatangan wanita itu, dia memaksa ingin menunggu kepulangan Nyonya", Bi Mimi menghampiri.
"Sudah Bi, tidak apa-apa, ini akan segera beres kok", Bu Hellen melangkah menghampiri Risma di ikuti Pak Handoko.
"Oh...jadi ini Risma?, rupanya sudah tidak sabar ya, baru pulang langsung ke sini?, tapi tidak apa-apa, silahkan masuk!, biar kita cepat selesaikan semuanya", ucap Pak Handoko. Ia pun merasa tidak nyaman dengan kehadiran Risma.
"Iya, pak, lebih cepat lebih baik, sebelum berita ini sampai ke media", senyum Risma.
"Tidak akan sampai ke media, kalau kamu tidak banyak bicara", sambar Pak Handoko.
"Risma mengikuti langkah Bu Hellen dan Pak Handoko, ia langsung duduk sebelum dipersilahkan.
'Iisss, sudah kurang ajar ini anak, seenaknya saja, main datang, main duduk saja', gerutu Bu Arimbi .
Ia mulai jengah dengan sikap Risma yang seenaknya saja.
[Halo Dok, bisa datang ke rumah saya, hari ini juga, ada hal penting yang harus diperiksa], Pak Handoko menutup kembali sambungan teleponnya.
"Papih hubungi Dokter Ana?", tanyai Bu Hellen.
"Iya, biar cepat ditangani, kita harus hadirkan ahli di sini", Pak Handoko tampak memasukkan lagi ponselnya ke saku kemeja.
"Iya, itu lebih baik Pak, saya yakin seratus persen, ini bayinya Pak Putra", Risma tersenyum.
__ADS_1
Aini dan Putra yang ada di ambang pintu, kembali saling tatap, Putra mengeratkan pegangan tangannya ke tangan Aini, seolah menyiratkan bahwa dirinya tidak mungkin melepaskan Aini hanya gara-gara ulah Risma.