Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Bukan aku


__ADS_3

"Assalamu'alaikum", Putra memasuki rumah dengan menenteng kantong plastik berisi makanan. Yang pasti itu oleh-oleh untuk Aini. Putra tahu, akhir-akhir ini, Aini lebih suka ngemil. Jadi ia membelinya untuk stok di rumah.


"Wa'alaikum sala", Bi Surti yang menjawabnya.


"Lho...kok Bibi?, Aini dan Mamih mana?", Putra keheranan.


"Nyonya tadi katanya ada urusan sebentar, Bibi juga kurang tahu, kalau Non Aini, sepertinya ada di kamar, Bibi tidak melihatnya lagi setelah tadi mengantar Nyonya ke depan" jelaskan Bi Surti.


"Oh...", Putra menatap ke arah kamarnya di lantai dua. 'Kenapa Aini, tidak seperti biasanya, dia selalu menyambutku pulang', pikir Putra.


"Kalau begitu, saya langsung ke atas dulu Bi, siapkan saja makanannya, saya akan mengajak Aini makan", perintah Putra.


"Baik Den, akan Bibi siapkan", Bi Surti menuju dapur, menyiapkan makanan .


Putra menaiki tangga menunggu kamarnya, "Pasti ada sesuatu, hari ini Aini juga tidak mengirimi makan siang", gumam Putra.


"Assalamu'alaikum...", Putra berdiri di depan pintu, menunggu ucapan salamnya di jawab oleh Aini.


Namun Aini tidak terdengar suaranya. 'Mungkinkah Aini sudah tidur?', pikir Putra. 'Ini sungguh aneh, ini bukan kebiasaan Aini', Putra terus bicara dalam hatinya.


"Apa aku ketuk saja, apa mungkin Aini sedang shalat?, atau mungkin sedang tidur, sehingga tidak bisa mendengar aku", gumam Putra.


Putra perlahan pegang gagang pintu dan dengan perlahan mendorongnya. Ternyata pintunya tidak di kunci.


Putra mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya. Putra mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang di kamarnya.


Putra tersenyum saat dilihatnya Aini terlihat sedang tidur. Putra mendekati Aini perlahan dan duduk di sampingnya.


Putra mengelus punggung Aini, dan membelai rambutnya yang digerai. Tidak terdengar deru nafas Aini. Ini tandanya Aini belum tidur, pikir Putra.


Tapi kenapa dari tadi tidak ada respon dari Aini dengan kepulangannya.


Putra terkesiap saat mendengar isakan. "Sayang...,Aini apa itu kamu?", Putra segera menggeser tubuhnya , ia melangkah ke depan Aini, hingga jelas terlihat wajah istrinya .


Aini sedang menangis, ia menangis dalam diam, hanya air matanya yang terus-menerus meleleh, membasahi bantal.


"Ya Allah sayang..., kamu kenapa?", Putra menyentuh bahu Aini, namun Aini menepisnya.

__ADS_1


Putra sangat sangat kaget, baru kali ini Aini bersikap kasar padanya.


"Tenang sayang!, ada apa?, jangan diam begini, aku jadi bingung, ayo katakan !, ada apa ?", Putra memandang lekat Aini yang tidak bergeming dari tempat tidur.


Mata Aini terlihat sembab, ini menandakan kalau Aini sudah menangis lama.


"Astaghfirullah, Aini..., tolong katakan , kenapa?, biar Mas bisa membantu", Putra memelas.


Akhirnya Aini pun banggun perlahan, sakit hatinya makin terasa begitu menatap wajah suaminya.


Wajah yang selalu ia rindukan. Namun itu dulu, kini , jika berita yang dibawa Risma itu benar, mungkin Aini akan kehilangan wajah suaminya untuk selamanya.


"Kamu kenapa?, ada apa?, ceritakan kepadaku Aini!".


Aini sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya memberikan kertas yang sedari ia pegang. Putra mengambilnya dan membaca isinya.


Putra meremmzaas kertas itu, ia marah terhadap orang yang sudah menceritakan berita bohong kepada Aini. ',Siapa ...?, ini ulah siapa?",


"Sayang...percayalah, ini salah sasaran, ini bukan aku, dengar, kita kenal sudah lama, masa kamu lebih percaya orang asing daripada suamimu sendiri", Putra menjelaskan.


Rasa sakit hatinya makin dalam begitu melihat suaminya. Aini sungguh tidak kuasa membayangkan suami yang sangat ia cintai sudah bersama wanita lain, hingga berbadan dua.


"Aini, dengarkan , ini semua tidak benar, kamu yang tenang dulu, kita bicarakan baik-baik, ingat!, kasihan dede bayi kita, dia pasti akan ikut merasa sedih.


"Sekarang kita makan dulu!, kalau perlu, nanti sesudah makan kita datangi Apartement Risma, kita minta penjelasan kepada dia", Putra memegang tangan Aini.


"Disini saja makannya", ucap Aini dengan suara parau.


"Kok di sini?", tatap Putra.


"Aku tidak mau Mamih dan Bibi melihatku seperti ini, kasihan mereka kalau sampai tahu penyebab aku seperti ini", Aini menunduk.


Putra memandang istrinya itu, ada rasa sayang dan rasa kasihan yang begitu besar padanya. Putra tahu Aini begitu mencintainya, hingga wajar saja saat ada berita tadi, ia begitu terguncang.


"Baik..., aku ngerti, tunggu !, aku ambilkan makanan, ini aku juga bawakan kamu beberapa snack, biar tidak repot nyari makanan saat malam", senyum Putra.


Putra menuju dapur dan membawa makanan untuk Aini dan dirinya.

__ADS_1


"Lho, mau dibawa kemana makanannya Den?", Bi Mimi menghampiri",


"Ini , mau dibawa ke atas, kita makannya di atas saja Bi", senyum Putra.


"Sini!, biar Bibi yang bawa attu Aden", tawari Bi Mimi, ia mau mengambilalih tempat makanan dari tangan Putra.


"Nggak usah Bi, biar saya saja, ini permintaan Aini", senyum Putra.


"Aduh..., memang kalau hamil itu suka aneh-aneh, tapi akan menjadi cerita yang tidak akan mudah lupa, sampai anaknya dewasa pun, pasti diceritakan lagi", senyum Bi Mimi.


"Oh iya Bi, Mamih belum pulang?",


"Belum Den",


'Alhamdulillah..., Mamih tidak akan melihat Aini seperti itu, bisa habis aku', pikir Putra.


"Sayang , ini makanannya, ayo makan dulu, kata Bibi kamu dari pagi tidak turun ke dapur, bagaimana makannya, kasihan si dede bayi, pasti sudah mencari-cari makanan", Putra memegang tangan Aini.


Aini menurut, ia memegangi perutnya, ia sudah membiarkan calon bayinya kelaparan, hanya gara-gara berita yang belum pasti kebenarannya.


'Maagkan Bunda sayang, sudah membuatmu ikut sedih', Aini bicara dalam hatinya sambil mengelus lembut perutnya.


"Makan yang banyak, biar kamu dan dede bayinya sehat", Putra kembali menatap Aini, ia merasa kasihan, Mata sayu istrinya kini berubah sembab, mungkin hampir seharian Aini di kamar dan menangis.


"Risma..., kamu sudah menyebarkan berita bohong, ini sudah membahayakan isti dan calon anakku", gumam Putra.


"Apa maksud semua ini?, ini sudah fitnah, kamu bisa kehilangan pekerjaanmu jika memang ini sudah kamu rencanakan",


Aini melirik suaminya, yang terlihat sedang komat-kamit . "Ngapain sih..., lagi baca mantra?",


Aini meliriknya sejenak.


"Apa?, kamu nanya apa?", Putra menatap Aini.


"Nggak!", cuma heran saja, jam segini sudah baca mantra.


"Iya, aku lagi baca mantra buat orang yang sudah sengaja ingin mengusik ketenangan kita, lihat saja nanti, dia belum tahu siapa aku, aku santet dia jadi kera, baru tahu rasa", Putra melirik Aini, dia terlihat menahan tawa. Namun itu sudah cukup untuk Putra, ia ingin membuat hati Aini senang lagi.

__ADS_1


__ADS_2