Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Suntikan Semangat


__ADS_3

Pagi ini Putra bangun pagi, ia begitu bersemangat untuk memulai aktifitasnya hari ini, setelah mendapat suntikan semangat dari Aini.


Pengalaman pertamanya bersama Aini mampu memberikan infus semangat bagi Putra . Apalagi hari ini akan full berada di Kantor Papahnya, ia akan ikut meeting bersama kliens terbesar bagi Perusahaannya.


Ia harus memberikan kesan baik bagi mereka. "Sayang, bangun!, kita shalat subuh berjamaah dulu, pagi ini aku kembali ke Kantor", bisik Putra sambil mengelus pipi Aini dengan tangannya yang masih basah.


Aini perlahan membuka matanya, ia tersenyum melihat suaminya yang masih bertelanjang dada, ia hanya mengenakan handuk sebatas pinggang dan lututnya. Rambutnya pun masih terlihat basah, dengan aroma maskulin dari shampo dan body wash nya.


Ini adalah pemandangan yang akan setiap hari Aini lihat, ia akan terbiasa dengan itu. "Iya...", senyum Aini. Ia bangun dan segera menuju kamar mandi. Rasa tidak nyaman di bagian pangkal pahanya sudah hilang, cara berjalannya pun sudah tidak ngangkang lagi.


"Alhamdulillah, ternyata cepat pulihnya", senyum Aini. Ia memberdihkan tubuhnya dan mengulum senyum begitu melihat banyak tanda merah di tubuhnya.


"Oh...jadi begitu ya", gumam Aini. Ia kembali mengingat semua perlakuan lembut suaminya kemarin , ini memang pengalaman pertama baginya, dan ia ingin mengulanginya lagi, merasakan sensasi rasa yang luar biasa.


Aini keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja rambut panjangnya ia ikat .


Putra pun sama, ini pemandangan pertamanya melihat Aini begitu, kalau tidak mengingat hari ini ada meeting penting, Putra ingin kembali mencumbui istri cantiknya itu.


"Jangan lama-lama berdiri di situ, cepat ganti baju", senyum Putra. Ia memandang Aini yang berdiri dihadapannya sambil memegangi ponselnya.


"Iya...sebentar, ini balas pesan dari Bapak dulu", Aini menyimpan kembali ponselnya di atas meja lampu tidur.


"Nanti bisa bangun, bahaya kan", senyum Putra.


Aini cepat-cepat menuju ruangan walk in closet untuk berpakaian, ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan suaminya tadi. 'bangun ?, apa yang bangun', pikir Aini sambil memakai hijab instantnya.


Mereka segera shalat subuh berjama'ah


Putra masih duduk di sofa, ia sedang mengoles roti tawar dengan selai coklat, sudah ada dua gelas susu panas di meja, Putra sudah terbiasa menyiapkan sarapan sendiri, jadi ia tak perlu menunggu Aini.


"Kok sudah siap sarapannya?, bukannya menunggu aku",


"Nggak usah, yang bisa aku lakukan sendiri, tidak akan meminta tolong padamu, kita saling aja", senyum Putra.


"Terima kasih,, Mas memang tidak ada duanya, suami ter best lah", senyum Aini.


"Ayo cepat sarapan!, Putra memberikan Aini sepotong roti tawar yang diberi selai.


Mereka menikmati sarapan pagi di kamar sambil saling bercanda.


"Nanti siang , kirimi aku makan siang lagi", Putra mengusap sisa selai yang tertinggal di bibir Aini dengan tisu.

__ADS_1


"Kalau boleh, aku juga mau ke sana, ke Kantor Papah",


"Boleh sayang, aku malah senang, jadi makan siangnya ada yang menemani", senyum Putra.


"Tapi aku malu, pasti di sana banyak pekerja lainnya", Aini menunduk.


"Nggak usah malu, bilang saja, kamu itu istri aku, pasti mereka juga akan bersikap baik", jelaskan Putra.


"Tapi aku kan seperti ini?, sedang mereka pasti keren-keren",


"Mau bagaimana pun, kamu itu tetap cantik, justru aku mau kamu tetap seperti ini, dengan setelan gamis begini, jadi orang di luar sana tidak akan melihat kecantikan tubuhmu", bisik Putra.


Aini menunduk, ia menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas. Ia merasa malu karena memang Putra sudah melihat seluruh bagian dari tubuhnya.


Begitu pun dirinya, yang juga sudah melihat seluruh bagian dari tubuh suaminya.


"Sudah, aku berangkat, ada meeting penting hari ini", Putra berdiri diikuti Aini, mereka berjalan bergandengan tangan menuju garasi.


Di sana Putra kembali pamit, Aini mencium punggung tangan suaminya, begitu pun Putra, ia mengecup mesra dahi istrinya.


Putra segera masuk mobil dan melajukannya menuju Kantor diiringi do'a dan lambaian tangan istri tercinta.


"Bi, untuk makan siang nanti, biar saya yang masak ya",


"Baik Non", Bi Surti kembali melanjutkan pekerjaannya .


Putra tampil berbeda hati ini, ia memakai setelan kerja, kemeja lengkap dengan dasinya, ini lebih memunculkan sisi maskulinnya, ia terlihat gagah.


Kedatangannya menjadi pusat perhatian seluruh stafnya yang sebagian besar wanita. Ketampanannya menghipnotis mereka.


"Keren..., dia terlihat gagah saja dengan setelan kerja itu", gumam Risma.


"Tapu ingat hey ..., dia sudah ada yang punya", cicit Adis.


"Hah..., bodo amat", kerling Risma.


"Huuusss...., kamu ya..., jangan cari gara-gara, nanti bisa terjadi huru hara", senyum Adis.


Pak Hambali datang kemudian, ia menghampiri meja Risma, "Ris, Pak Putra sudang datang?",


"Sudah Pak, baru saja memasuki ruangannya", terangkan Risma.

__ADS_1


"Oh...baik", Pak Hambali menyusul Putra ke ruangannya. "Hmmm..., awal yang bagus, tepat waktu juga itu anak", gumam Pak Hambali.


Ia memasuki ruangannya dan mendapati Putra sudah duduk di kursinya, ia terlihat sedang mempelajari berkas di depannya.


"Assalamu'alaikum, sudah siap untuk ikut meeting hati ini",


"Insha Allah Pak, mohon bimbingannya", senyum Putra.


Tak lama seorang OB memasuki ruangan mereka, ia menyimpan gelas berisi air putih di tiap meja mereka.


"Terima kasih", Putra melirik OB itu.


"Sama-sama Pak", rengkuh OB itu.


"Hari ini Pak Putra nampak berbeda sekali, terlihat gagah dengan setelan kerja itu, dan terlihat bersemangat sekali", senyum Pak Hambali.


"Ah...biasa saja Pak, ini kan perdana saya ikut meeting, jadi saya inginmemberikan kesan yang baik bagi klient-klient kita, apa lagi mereka itu kan klient penting buat kita, bukan begitu ", senyum Putra.


"Iya, benar. Bapak senang melihat anak muda seperti Pak Putra, padahal apa pun sudah tersedia, tidak usah cape-cape bekerja", senyum Pak Hambali.


"Iya sih Pak, tapi sekarang saya kan sudah punya istri, masa masih harus minta terus, istri kan tanggung jawab saya, bukan Papah dan Mamah", senyum Putra.


"Hebat lah Pak Handoko, bisa mendidik anak tunggalnya seperti ini", senyum Pak Hambali.


"Ini semua karena istri saya juga pak, dia hanya mau menerima nafkah dari hasil kerja saya saja, tidak mau menerima pemberian Papah dan Mamah", senyum Putra.


"Sudah saya duga, pasti dia kuncinya, jadi penasaran, saya jadi ingin bertemu dengan istri Pak Putra, boleh kan?",


"Ya..., jelas boleh Pak, hari ini rencananya ia akan ke sini, saya minta diantarkan makan siang ke sini", senyum Putra.


"Sekalian saja nanti kita makan siang bersama di sini", senyum Putra.


"Aduh ..., Alhamdulillah, terima kasih sebelumnya, tapi siang ini sehabis meeting, saya masih harus survei beberapa furniture dulu untuk Perumahan yang akan segera diresmikan",jelas Pak Hambali.


"Tapi saya akan sempatkan bertemu istri Pak Putra dulu, boleh kan?",


"Iya Pak, boleh", senyum Putra.


Terdengar suara pintu di ketuk, Adis masuk dan memberitahu kalau meeting segera dimulai dan para klient sudah menunggu di ruangan meeting


Pak Hambali mengajak Putra , mereka berjalan menuju ruang meeting.

__ADS_1


__ADS_2