Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Aini Selamat


__ADS_3

Putra yang menemukan pin berinisial 'B', termenung , ia rasanya pernah melihat benda itu di pakai seseorang, tapu ia betpikir lagi , mungkin banyak juga orang yang namanya diawali dengan huruf 'B'.


Sekilas ingatannya kembali pada saat ia di Desa, "Yups..., ini kan pin yang biasa di pake di baju body guard itu", gumam Putra.


"Ting...ting....", ada notif masuk di ponselnya.


"Nomer siapa ini?", Putra mengabaikan notif yang masuk ke ponselnya. Putra berdiri dengan lunglai, ia menuju Mushola berniat menunaikan shalat dulu.


Dalam shalatnya Putra memohon keselamatan buat Aini. Hatinya resah dan takut. Setelah selesai shalat, Putra bingung, apa yang harus dilakukannya sekarang, pulang?, tidak mungkin, Aini masih belum ditemukan.


Kalau harus terus mencari juga kemana?, ia tidak tahu sekarang Aini di mana.


"Ya Allah..., beri petunjuk, dimana Aini", gumam Putra. Ia kembali membuka ponselnya. Karena penasaran, ia buka juga pesan dari nomer asing tadi.


Dan...., "Ya Allah, ini Aini?, ada di sini?, tapi kok pakai nomer baru", Aditya langsung bangkit, dan segera menuju mobil, ia akan menuju tempat yang di share lok Aini.


"Alhamdulillah...Ya Allah", Putra segera melajukan mobilnya. Tidak lupa GPS pun ia aktifkan untuk memandunya menuju lokasi.


Setelah beberapa lama, ia sampai di lokasi, namun di sana beberapa bangunan Villa.


Putra berniat untuk turun dari mobilnya , namun langkahnya terhenti saat ada sebuah mobil juga yang berhenti di depannya.


Ada dua orang laki-laki turun dari mobil itu. Putra masih bisa mengingat mereka. "Itu...., kan yang bertemu waktu di Desa Aini?, lagi apa mereka di sini?", Putra terus mengamati mereka.


Ternyata mereka masuk ke Villa yang ada di ujung jalan. 'Apa Aini juga ada di sana?", tapi kenapa aku jadi curiga sama mereka.


Putra bersiap untuk turun, begitu kedua orang itu masuk ke dalam Villa.


Putra berjalan mendekati Villa itu, ia melewatinya sambil mengamati keadaan didalamnya. Dan .... "Itu dia, ada Bondan di sana, ia sedang bicara dengan kedua laki-laki tadi.


'Sepertinya benar, Aini ada di sini, lokasinya sama dengan yang di share Aini tadi', pikir Putra.


'Lalu bagaimana caranya supaya bisa masuk', pikir Putra.


"Aku harus menyelinap", gumam Putra. Ia kembali melewati Villa itu, dan kembali ke mobilnya.


Putra memilih menunggu di mobil. Menunggu hari agak malam.


"Ayolah...angkat", Putra nampak sedang menelepon seseorang.


"Aini...., angkat dong!", kembali Putra bicara sendiri.


"Aku kirim pesan saja, biar nanti dia membacanya. [Aini..., aku sudah ada di sini, di luar Villa].

__ADS_1


'Semoga ia cepat membacanya', harap Putra. Hatinya masih saja resah. Walau kini sudah tahu Aini berada di dalam Villa sana.


"Aduh...., kemana Aini?, masih belum dibaca juga pesannya",


Putra berniat untuk kembali mendekati Villa itu, namun sayang, ada seorang laki-laki yang keluar dari Villa itu.


"Hah...., itu kan Bondan?, berarti benar Aini ada di dalam sana". Putra agak memiringkan tubuhnya, Bondan terus saja berdiri mengamati mobil Putra.


"Sial..., kenapa dia terus berdiri di sana", geram Putra. 'Apa mungkin dia mengenali mobil ini?.


Putra merasa lega saat Bondan mulai bergerak menjauhi Villanya.


"Apa aku langsung masuk saja?", gumam Putra.


"Ini pasti ulahnya Aditya?, kenapa?, kenapa harus Aini?",


"Awas saja kalau sampai Aini celaka?, aku kejar kamu sampai kemana pun", geram Putra.


Saat Putra akan kembali ke luar dari mobilnya, ada sebuah mobil lagi melewati mobil Putra, sekilas nampak seorang laki-laki tengah baya yang mengendarainya.


"Pak Dirman?, kok dia juga ada di sini?, apa mereka semua sekongkol untuk mencelakai Aini?", Putra menerka-nerka.


"Sepertinya ini karena proyek mereka gagal, apa lagi yang mereka rencanakan", Putra terus saja menerka-nerka.


"Mana mereka?", tanya Pak Dirman begitu masuk ke dalam Villa miliknya.


"Mereka ada di kamar Pak Bos", jawab Wira.


"Kenapa dibiarkan di kamar?, berdua lagi", Pak Dirman langsung menuju ruangan atas.


Dia tergesa -gesa menaiki tangga, dan begitu membuka pintu, ia nampak lega, ternyata Aditya dan Aini tidur terpisah.


"Kemana Bondan?", Pak Dirman kembali ke bawah.


"Bondan lagi membeli makan dulu Pak Bos",


Tak lama Bondan datang dengan dua kantong kresek berisi makanan.


"Pak Bos sudah di sini?", rengkuh Bondan.


"Iya..., baru datang, Aditya belum sadar?",


" Belum Pak Bos, karena sesuai perintah dari Pak Bos, saya campurkan obat tidur dalam minumannya", aku Bondan.

__ADS_1


"Iya ..., itu lebih baik, dari pada dia berbuat macam-macam, oh iya..., itu anak sudah diberi makan belum?",


"Belum... Pak Bos, ini baru saya beli makanannya",


"Nanti saja, saya lihat dia juga tertidur di sofa",


"Drrttt.....", ponsel Bondan bergetar.


Bondan melihat nomer baru masuk mengirimi pesan, itu adalah Putra. Ia tidak berhasil menghubungi Aini, jadi ia alihkan pada nomer yang tadi Aini pakai untuk menghubunginya.


Ada pesan dari Putra [Aini, aku sudah sampai di tempat , kamu baik-baik saja kan?, aku ada di luar],


"Pak Bos ini sepertinya keluarga Aini, mereka sudah ada di luar katanya", Bondan melirik Pak Dirman.


"Bagus lah kalau begitu, biar mereka langsung bawa pulang anak itu sebelum Aditya sadar, suruh masuk ke sini saja", perintah Pak Dirman.


Bersamaan dengan itu, Aini nampak turun, ia terbangun karena ponselnya terus berdering. Ia sudah mengetahui kalau Putra sudah ada di luar Villa.


Langkah Aini terhenti begitu melihat keempat laki-laki itu di ruang bawah. Pak Dirman yang melihat Aini, berdiri dan meminta Aini untuk turun.


"Sini Nak, turun!, ini ada makanan", tawari Pak Dirman.


Yoseph yang sejak awal menaruh hati kepada Aini, merasa kasihan kepada Aini. 'Pasti Aini merasa ketakutan dengan perbuatan Aditya yang telah menculiknya', pikir Yoseph.


"Sini, kami tidak akan menyakitimu", Pak Dirman kembali memanggil Aini. Dengan langkah perlahan, Aini turun. Pikirnya , Pak Dirman tidak akan berbohong.


Tanpa mereka sadari, Putra sudah ada di halaman Villa, ia mengendap mendekati kaca samping. "Kenapa tidak ada penjaganya", gumamm Putra.


Putra mengintip dari celah tirai yang terbuka, ia dengan jelas melihat keempat laki-laki yang duduk membelakanginya.


Hati terkesiap begitu melihat Aini yang sedang berjalan menuruni tangga. "Aini..., ?",


Bondan berdiri bermaksud memberikan sebungkus makanan kepada Aini.


"Kurang ajar!, ternyata bener dia yang menculik Aini", geram Putra, ia mengepalkan telapak tangan kanaannya.


Aini mau menerima pemberian Bondan namun tanpa di duga Putra masuk dengan mendobrak pintu hingga pintu yang tidak di kunci itu tebuka lebar.


"Stop!, jangan Aini", cegah Putra. Semua yang ada di situ merasa kaget dengan kedatangan Putra yang tiba-tiba.


Putra berlari menghampiri Aini, "Kamu tidak apa-apa?", Putra memegang tangan Aini.


"Sudah ku duga, ini perbuatan kalian, ini juga punya kamu kan?", Putra memperlihatkan pin dengan inisial huruf B kepada Bondan.

__ADS_1


__ADS_2