
Putra menatap kepergian Aini beserta kedua orang tuanya, hatinya terenyuh melihat sikap Aini yang mau menggendong baby Khansa, secara itu adalah bayi calon madunya.
Putra kembali memasuki rumah, ia menutup pintu dan memperhatikan ke luar. S
Risma tiba-tiba datang, ia meraih tangan Putra bermaksud mengajaknya duduk di ruang keluarga.
"Lepaskan!", Putra menatap tangannya yang dipegang oleh Risma.
"Mas...., sebentar lagi hasil tesnya keluar, kamu jangan menghindar dari aku terus", Risma cemberut.
"Hasilnya belum tentu benar, kamu jangan banyak berharap dulu", Putra menarik tangannya dari pegangan Risma.
"Kamu tidak bisa menghindar dari aku Putra, hasil test itu akan menjerat kamu masuk ke dalam pelukanku", gumam Risma. Ia melangkah meninggalkan Putra.
Risma kembali ke rumah samping, ia memasuki kamarnya, dan menutup pintunya.
Risma meraih ponseknya, ia tampak sedang menghubungi seseorang.
[Halo Dok, bagaimana mereka sudah sampai?, pastikan hasil testnya sesuai , nanti aku berikan jumlah yang pantas untuk anda],
[Oke..., tenang saja, kita yang tahu rahasia ini, kalau sampai bocor, aku minta kembali uangnya dua kali lipat, oke, mereka sebentar lagi sampai, aku tunggu hasil kerjamu],
Risma segera menutup kembali ponselnya, ia kembali keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Heum..., sebentar lagi aku akan segera menggantikan posisimu Aini, kamu harus menerima aku sebagai madumu", gumam Risma, ia duduk di teras belakang rumahnya, ia sedang membayangkan dirinya jika sudah menjadi istri Putra, seorang bos muda kaya raya.
Tentu saja semua fasilitas mewah akan segera ia dapatkan.
Mobil yang dikendarai Pak Handoko sudah memasuki sebuah Rumah Sakit ternama dikotanya.
Mereka bertiga keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Pak Handoko yang ada di depan.
Semua pegawai Rumah Sakit merengkuhkan badannya begitu berpapasan dengan mereka, ini semua dilakukan karena Pak Handoko ternyata rekanan bisnis Pemilih Rumah Sakit.
Seorang perawat menghampiri , "Dengan Pak Handoko?",
"Iya, saya Handoko", jawabnya datar.
"Bapak sudah ditunggu diruangan Dokter, kabari Perawat ini.
Benar saja, disana Dokter Febri sudah ada , ia tampak sedang menulis di buku yang ada diatas mejanya.
"Oh..., sudah sampai rupanya, silahkan duduk!", , persilahkan Dokter Febri.
"Terima kasih, sekarang saya ke sini membawa bayinya", ucap Pak Handoko.
"Iya, kita kumpulkan dulu sample nya, buat perbandingan hasilnya, biar aqurat",
__ADS_1
"Baik Dok, saya serahkan saja semuanya, gimana Dokter saja", senyum Pak Handoko.
"Mana bayinya?", Aini berjalan menuju ruangan Dokter dan menghampiri salah satu boks bayi yang ada di sana", ia menidurkan baby kendra di salah satu boks bayi yang kosong.
"Ini Bayinya?", Dokter Febri menghampiri baby Khansa.
Aini hanya tersenyum ," Iya Dok, ini bayinya",
"Heum ..., bayi yang cantik", puji Dokter.
Hari itu dilakukan test, dan hasilnya masih akan keluar minggu depan.
"Saya kira hasil test nya bisa langsung ketahuan", senyum Aini. Ia seolah ingin mengetahui hasilnya sekarang biar ia cepat merasa lega.
"Masih harus bersabar Bu, ini kan bukan test biasa", senyum Dokter.
Ia nengenali kalau Aini bukan ibunya baby Khansa.
Sudah hampir satu tahun ini ia bolak-balik ke rumah yang didiami Risma.
"Sebaiknya Ibu pulang dulu saja, kasihan ini anaknya pasti gerah",,
"Oh...iya", Aini cepat -cepat menggendong kembali baby Khansa.
__ADS_1
"Semoga hasil test nya sesuai harapan kita, Mamah tidak mau jauh sama kamu", Bu Hellen memeluk Aini .
Mereka kembali menuju mobil.