Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Cinta Berubah Menjadi Benci


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, Mirna bangun pagi-pagi, ia memintakan Bi Siti untuk membuatkannya nasi goreng buat sarapan.


Kedua orang tuanya merasa heran, Mirna sudah stand by di meja makan lengkap dengan seragamnya.


"Apa tidak salah, kamu tidak sedang ngelindur kan sayang?", tanyai Bu Mona begitu tiba di depan Mirna yang sedang sarapan.


"Ya nggak lah, ini aku Mirna, anak Mamih", senyum Mirna. Ia sibuk mantengin ponselnya.


"Bi, Murano mana?, apa dia masih tidur,", Bu Mona melirik Bi Siti yang sedang menata roti , selai, susu, dan buah-buahan di atas meja makan.


"Iya, Nyonya, tadi waktu Bibi ke kamarnya, Den Rano masih tidur, tadi Bibi ke kamarnya, sekalian mematikan TV", jelas Bi Siti.


"Aduh, kebiasaan itu anak, pasti semalaman main game",


"Bi, tolong buatkan kopi susu buat saya ya", pinta Bu Mona sambil mengoleskan selai coklat ke atas roti tawarnya.


"Baik, Nyonya", rengkuh Bi Siti, ia segera ke belakang untuk membuatkan pesanan Bu Mona.


"Papah Mana?, tanyai Mirna.


"Ada, sebentar lagi juga turun", Bu Mona fokus pada sarapannya. "Ada apa?, mau apa nanyain Papah?", Bu Mona penasaran.


"Anu Mih, aku mau bawa mobil sendiri, boleh?", harap Mirna, ia menatap ibunya .


"Lho, memangnya kemana Pak Dayat?",


"Ada, tapi kan berangkatnya siang, sambil nganteur adik Rano, aku mau pergi sekarang, nanti bisa terlambat kalau perginya di antar Pak Dayat", cemberut Mirna.


"Biasanya juga kamu bareng adikmu, kenapa?",


"Mamih, di Sekolah itu lagi ada Mahasiswa yang lagi PPL, jadi jam masuknya dipercepat", jelas Mirna kesal, ia merasa orang tuanya terlalu protectif padanya.


"Coba bilang dulu aja ke Papah",


Tak lama, Pak Purnawan keluar dari kamarnya, ia menenteng sebuah tas yang agak besar. Hari ini ada meeting penting dikantornya.


"Tumben, tuan puteri sudah siap, biasanya juga baru melek", ledek Pak Purnawan sambil terkekeh.


"Ah..Papah, nanti Mirna kapok bangun pagi lho...", cemberut Mirna.


"Pah, Mirna bolehkan bawa mobil sendiri ke Sekolah?", Mirna menatap papahnya penuh harap.


Pak Purnawan menyuapan sepotong roti ke mulutnya, dan mengunyahkan , setelah itu dia terdiam beberapa saat, seperti sedang berpikir, "Emm, boleh saja, tapi ingat, jangan ngebut!",


"Terima kasih Papah", Mirna setengah melompat menghampiri papahnya dan memeluknya.


"Iihh..., kenapa diijinkan Pah", tegur Bu Mona

__ADS_1


"Biarin saja Mih, biar dia belajar mandiri, anggap saja ini hadiah karena sudah bangun pagi",


"Ya sudah, kalau ada apa-apa?, Papah yang tanggung jawab",


"Iii, Mamih, kok gitu sih", cemberut Mirna.


"Sayang, Mamih itu cuma khawatir saja, banyak hal tidak terduga di jalanan",


"Iya, Mirna juga akan hati-hati, ya sudah Mirna berangkat duluan, sudah ditunggu teman-teman", Mirna bangkit dari duduknya, ia rapikan riasan wajahnya , lalu pamit kepada kedua orang tuanya dengan senyum sumringah karena telah mengantongi ijin untuk membawa mobil sendiri.


"Dengan ini , Putra akan mikir dua kali untuk mengabaikan aku, aku ini bukan orang sembarangan", gumamnya.


Di pinggir jalan yang sudah dijanjikan, tampak Aliya dan Sinta sudah menunggunya. Mereka kaget saat sebuah klakson berbunyi tepat di depannya. Yang lebih kaget lagi saat melihat Mirna yang berada di belakang kemudi.


"Masuk hey..., kok malah bengong!", teriak ,mirna saat melihat Sinta dan Aliya yang bengong.


"Gila Loe Mir, mana Pak Dayat?, kok nyetir sendiri?", Sinta keheranan.


"Lah..kan Gue juga bisa, kenapa harus Pak Dayat?",


"Awas !, jangan sampai berakhir di Rumah Sakit ya?", kekeh Aliya.


"Sembarangan kalian, hey... dengar ya..., Gue udah lulus kursus menyetir, jadi kalian nggak usah takut", yakinkan Mirna.


"Oke , siap!, kita berangkat", Mirna mulai melajukan mobilnya menuju Sekolah.


"Masih sepi gini, kita kepagian nih, Mir", seru Sinta.


"Kan sengaja tahu, kita berangkat lebih awal, biar tahu si kelelawar berangkatnya sama siapa?, dasar sudah pada pikun ya", gerutu Mirna.


"Lah, ini mah bisa buat tidur lagi", Aliya yang menguap, menyandarkan kepalanya ke jok mobil dan memejamkan mata.


Semakin siang semakin ramai yang datang, satu per satu siswa berdatangan. "Hey, kalian, perhatikan baik-baik, jangan pada tidur!, lihat nanti si kelelawar datang sama siapa?", seru Mirna, mengingatkan kedua sahabatnya.


"Aduh, aku sudah pegal nih, mana nggak ada?, ini sudah hampir masuk lho Mir", keluh Sinta.


"Masa nggak akan datang?,ini baru hari kedua Putra PPL di sini", Mirna juga terlihat putus asa.


"Heh.., sia-sia dong aku bangun pagi, ayo , kita masuk saja!", ajak Mirna. Ia membuka pintu mobilnya .


"Mir....mir...mir..., tunggu!, lihat itu bukannya mobil Putra", teriak Sinta.


Benar saja ada sebuah mobil memasuki pelataran sekolah, tepat di depan mobil Mirna. Setelah beberapa saat, turunlah Putra.


"Oh..., itu Putra baru datang", senyum Mirna.


Ia hampir saja keluar dari mobilnya, tapi ia urungkan saat Putra membuka pintu belakang mobilnya, dan ada Aini yang turun dari sana.

__ADS_1


"Tuh kan, Aini Mir, dia ikut bersama Putra", seru Aliya.


Aini keluar dari mobil Putra dan mereka berjalan menuju kelas.


Mirna merasa kesal,ternyata dugaannya benar, selama ini Aini berangkat bersama Putra.


Walau kesal, walau dongkol, Mirna, Sinta, dan Aliya memasuki gerbang sekolah menuju kelasnya.


"Apa sih yang dia lihat dari Aini?, bisa-bisanya dia tertarik pada gadis kampung berkerudung", gerutu Mirna.


Di kelas, Aini sudah duduk di kursinya bersama teman yang selalu baik padanya, namanya Arum , hanya Arum yang merasa nyaman berteman dengan Aini.


Mirna memasuki kelas dengan pandangan tajam tertuju kepada Aini, ia duduk di kursinya diikuti Sinta dan Aliya.


Hatinya masih sangat dongkol, sia-sia saja pengorbanannnya hari ini, bela-belain bangun pagi berharap bisa memikat Putra dengan membawa mobil sendiri ke Sekolah.


Eehh, sudah keduluan star sama Aini.


*****


Hari ini Aditya sudah berencana untuk menemui Aini di sekolahnya, ia ingin mengetahui aktifitas Aini, jadi ia bisa tahu Aini pergi ke mana saja. Ini akan memudahkannya untuk menyusun rencana .


Yang Aditya rasakan bukan lagi cinta, melainkan dendam dan benci, karena ia merasa sakit hati akibat penolakan Aini. Baru Aini yang berani menolaknya, di depan orang banyak lagi .


Aditya pergi mengajak Yoseph, anak buah ayahnya.


"Di depan belok kanan", pinta Aditya pada Yoseph yang duduk di belakang kemudi.


Yoseph menurut saja dia tidak banyak bertanya. "Tuh , di depan berhenti ya?" , pintanya lagi.


"Stop!, di sini !, agak mundur sedikit",pinta Aditya.


"Di sini?, sekolah siapa ini?", Yoseph keheranan. "Sudah, turuti saja nggak usah banyak bertanya", tegur Aditya.


Lama mereka diam di sana, sampai Yoseph merasa kesal, ia sudah beberapa kali menguap.


Tak lama keluarlah para siswa , ini memang sudah jam pulang sekolah.


Yoseph pikir Aditya mau menjemput seseorang. Namun sampai semua siswa pulang, tak ada satu siswa pun yang ia jemput. 'sebenarnya siapa yang Aditya tunggu?',pikir Yoseph.


Ada dua orang siswi keluar gerbang, yang satunya langsung pulang, dijemput oleh sebuah sepeda motor. Tapi yang satunya lagi tampak masih menunggu.


"Degh..., jantung Yozeph langsung berdebar saat mengenali siswi tersebut. 'Aini?, jadi ini sekolahnya Aini?', pikir Yoseph.


"Dekati siswi itu!", perintah Aditya.


Yoseph menurut, dengan hati masih berdebar, ia melajukan mobilnya mendekati Aini. 'Mau apa Aditya kepada Aini', pikir Yoseph.

__ADS_1


__ADS_2