Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Terungkapnya Rahasia


__ADS_3

Risma menunggu kepulangan Putra sampai tertidur di sofa, impiannya untuk bisa bersama Putra hilang sirna, Putra meninggalkannya di malam pertama pernikahannya.


Padahal Baby Khansa sudah di bawa bi Mimi, agar dia tidak mengganggu Ibu dan Bapaknya.


Saat Putra tiba di rumah, semua sudah sepi.


"Baru pulang Tuan?", tanya Penjaga rumahnya.


"Iya", jawab Putra datar. Ia langsung menuju garasi dan memarkir mobilnya di sana. Putra segera memasuki rumah dan langsung menuju lantai dua tempat kamarnya berada.


Tak sedikitpun terbersit untuk menemui Risma. Putra langsung mengunci pintu kamarnya dan segera memejamkan matanya, ia berharap kejadian seharian ini hanya mimpi saja, ia ingin terbangun seperti sebelumnya, di mana ada Aini dan Baby Kendra di sisinya.


Namun ini nyata, saat Putra terbangun, ia mendapati dirinya seorang diri, tidak ada lagi belaian lembut Aini yang mengusap pipinya saat membangunkannya, atau pun suara tangisan baby Kendra yang bagaikan alarm baginya, kapan pun ia menangis, Putra pasti akan segera bangun dan menghampirinya.


"Hah..., Aini...", Putra mendesah, ia sangat merindukan anak dan istrinya itu, padahal baru berpisah satu hari saja.


"Aku harus segera ke kantor, agar bisa bicara dengan Mirna, sepetinya dia mengetahui sesuatu soal Risma", gumam Putra.


Putra segera bergegas menuju kamar mandi . Beberapa saat kemudian, ia sudah rapi dengan setelan kantornya.

__ADS_1


Langkahnya cepat saat menuruni tangga, namun ia melihat Risma sudah ada di ruang keluarga, ia sedang menatap dirinya. Reflek Putra memperlambat langkahnya.


"Kamu ini kenapa?, amnesia apa?, aku ini istrimu sekarang, tapi kamu seenaknya saja keluar masuk rumah. Semalam aku menunggumu", tegas Risma.


"Aku tidak menyuruhmu menunggu, jangan harap aku akan menjalankan pernikahan ini , karena ini hanya akal-akalan kamu saja, ini juga keinginanmu, bukan aku",


"Kamu akan berdosa telah mempermainkan pernikahan ini", sewot Risma.


"Yang mempermainkan fakta dan data juga itu sama, berdosa", tatap Putra.


"Aku akan bongkar kebohonganmu, karena aku yakin, aku masih waras, aku tidak pernah bersamamu waktu di Bogor, ada orang lain yang melakukannya.", keukeuh Putra.


Putra pergi tanpa membawa mobil, ia sudah memesan grab yang sudah siap menunggunya di depan gerbang.


Ia pun segera pergi dengan grab itu menuju kantor.


"Maafkan Putra, dia masih butuh waktu, ini tidak mudah memang, jadi kamu mesti bersabar", Bu Hellen mendekati Risma yang tampak kesal melihat kepergian Putra.


"Ini sudah keterlaluan Bu, saya sudah bersabar menurut dan menutupi aib dia,tapi mana balasannya, dia makin seenaknya saja", gerutu Risma.

__ADS_1


Risma segera meninggalkan Bu Hellen, yanf tidsk menyangka akan mendapat sikap kasar dari Risma.


Tangisan baby Khansa pun tidak bisa meluluhkan hati Risma, ia bertekad mengikuti Putra ke Kantor dan mengungkap semuanya dihadapan para staf kantornya.


"Biar dia tahu, aku juga bisa membuat dia hancur, enak saja, ingin selalu dilindungi nama baiknya, sementara dia sendiri tidak bisa berbuat baik kepadaku walau sedetik saja",


Risma terus saja merutuki sikap Putra kepadanya.


Putra yang menaiki grab, tidak langsung menuju Kantor, dia sebelumnya sudah menghubungi Mirna untuk berangkat bersama.


Putra yakin , Mirna mengetahui sesuatu tentang Risma.


Mirna sudah siap di depan Apartement menunggu kedatangan bosnya itu.


"Masuk Mir", teriak Putra dari dalam mobil yang sudah ada du depan Mirna.


Mirna tersenyum dan memasuki mobil di depannya, mereka duduk berdampingan.


"Kita sarapan dulu di sini", ajak Putra, tanpa menunggu jawaban dari Mirna, Putra sudah lebih dulu keluar , diikuti Mirna.

__ADS_1


"Wah...itu dia, ngapain pake mampir ke cafe dulu", gerutu Risma. Ia memergoki Putra dan Risma memasuki cafe.


__ADS_2