Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Nasehat Nenek


__ADS_3

Setelah diantar Putra pulang ke rumah, Aini langsung mengerjakan semua pekerjaan ibunya yang tertunda . Aini mencuci piring, membereskan rumah dan memasak. Ia menyediakan makanan untuk kedua orang tuanya.


Aini memang tidak seperti kebanyakan teman sebayanya yang lebih mengutamakan untuk bermain, ia lebih suka berkutat di rumah saja.


Membaca, mengaji, dan main pun hanya -k-e rumah Kakeknya, Kakek Ilham, yang jarakm rumahnya hanya beberapa langkah saja da-ri rumahnya.


Aini paling suka ikut bersama Nenek Husna ke kebun atau ke sawah, tapi semenjak kebun Neneknya di obrak-abrik bulldozer, sudah tidak ada lagi kebun yang dapat Nenek dan Kakeknya garap.


Kebun yang telah hancur, dengan batang pohon yang berserakan, dibiarkan begitu saja. Tidak ada yang berani mengambilnya, semua warga menyebutnya itu tanah sengketa, belum jelas siapa pemiliknya sekarang. Bahkan Kakek Ilham pun tidak berani menginjakkan kakinya di sana.


Untung saja dua petak sawah dan sebuah balong ikan, tidak termasuk ke dalam tanah yang menjadi sengketa. Jadi Nek Husna dan Kek Ilham masih bisa bercocok tanam.


Seperti hari ini, setelah tidak mendapati Nenek dan Kakeknya di rumah, Aini langsung saja pergi menuju ke sana.


Benar saja, Nek Husna sedang di sawah yang padinya sudah mulai berisi. Sedangkan Kek Hamzah sedang membersihkan kolam ikan dari daun-daun yang berguguran.


"Assalamu'alaikum Nek", sapa Aini setelah berada dekat gubuk tempat Nek Husna duduk.


"Wa'alaikumsalam, sudah pulang Ai?",


"Iya Nek, dari tadi juga sudah pulang, itu beres-beres dulu di rumah",


"Pulangnya dijemput Nak Putra?",


"Iya, tapi langsung pergi lagi, ada urusan dengan teman dari kampusnya, katanya, Oh iya Nek, ternyata Kak Putra itu PPL disekolahnya Aini, jadi bisa sekalian bareng pergi dan pulangnya", senyum Aini.


"Alhamdulillah kalau begitu, Nenek lega, sekarang kamu sudah ada yang menjaga, sepertinya Nak Putra itu anak yang baik, jangan kecewakan dia!, jadi wanita itu harus setia!", lirik Nek Husna kepada Aini.


Aini mengangguk.


"Dari sekarang, kamu harus belajar , memasak terutama, karena laki-laki itu kalau urusan perutnya sudah terpenuhi oleh orang rumah, mereka tidak akan jajan di luar rumah", senyum Nek Husna, ia mengelus lembut kepala Aini.


"Lagi pula, Nak Putra itu bukan orang sembarangan, orang tuanya orang terpandang di Kota, kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan mereka nantinya, ya semoga saja mereka juga bisa kamu apa adanya", harap Nek Husna, masih sambil mengelus kepala Aini.

__ADS_1


"Apalagi kalau sampai benar, Nak Putra mau menikahimu setelah lulus sekolah nanti, kan tinggal beberapa bulan lagi", lanjut Nek Husna.


"Kalau nanti Aini dibawa pindah ke Kota bagaimana?", Aini memandang neneknya.


"Ya nggak apa-apa, setelah menikah, tempat seorang wanita itu ya di samping suaminya, dimana pun suaminya berada, ya mesti ikut, setelah menikah, suamimu yang memegang hak penuh atas dirimu, bukan ayahmu lagi", jelas Nek Husna.


"Kalau begitu, pasti Aini akan merindukan Nenek, Kakek, Ayah dan Ibu", Aini menerawang.


"Kan masih bisa berkunjung ke sini, nanti juga terbiasa", senyum Nek Husna.


"Aini takut Nek, takut karena Aini belum pernah jauh dari kalian", Aini memeluk Nek Husna.


"Nggak usah takut, ada suamimu nanti yang akan mengambil alih tanggung jawab ayahmu, Nenek yakin Nak Putra bisa lebih menyayangimu ",


Aini makin mengeratkan pelukannya kepada Nek Husna, dan Nek Husna pun membalas hangat pelukan Aini.


"Ingat ya Aini, suami itu 'Pangeran di dunia', artinya kamu harus taat, harus hormat, harus setia kepadany, selama perintahnya baik menurut agama, ikutilah!, karena suami yang baik tidak akan mencelakai istrinya",


"Bukan hanya suami, tetapi juga semua keluarganya, kalau Aini bersedia menikah dengan Putra, maka Aini pun harus bersedia menerima beserta keluarga besarnya",


"Tapi jangan khawatir, kalau memang ini sudah jalan dari Tuhan, perbedaan sebesar apa pun tidak akan menjadi penghalang", jelas Nek Husna panjang lebar.


"Iya Nek, terima kasih",


"sepertinya ini sudah matang, sudah tercium harum", Nek Husna melepaskan pelukannya dari Aini, lalu ia membuka tutup panci dihadapannya.


"Iya, ini liwetnya sudah matang, panggil Kakek Ain, kita makan dulu", pinta Nek Husna.


"Baik Nek", Aini bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju kolam ikan tempat Kek Ilham berada. "Kek, liwetnya sudah matang, kita makan dulu", teriak Aini di pematang sawah.


"Sebentar lagi Ain, ini tanggung, semalam anginnya besar sekali, jadi banyak dedaunan yang rontok", keluh Kek Ilham.


"Ini ada ikan mujaer yang terjebak , bawa ke Nenekmu, buat teman liwetnya", Kek Ilham memberikan kresek hitam berisi ikan mujaer kepada Aini.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sini Aini langsung bersihkan Kek", Aini mengambil kantong kresek berisi ikan dan membawanya ke pancuran. Ia membersihkan ikan di sana dengan pisau yang ia pinjam dari Kek Ilham.


Alhamdulillah, Kakek Ilham dan Nenek Husna sudah tidak trauma lagi dengan peristiwa yang menghancurkan kebunnya, mereka sudah menerima dengan ikhlas, walau hati mereka masih berharap besar akan kembali memiliki dan menggarap tanah tersebut.


"Aini masak ini dulu Kek, nanti Kakek langsung ke sana ya, setelah selesai", pinta Aini.


"Siap Ain, cucu Kakek", senyum Kek Ilham.


Auni kembali ke gubuk dengan sumringah karena sudah ada ikan ditangannya.


"Nek...Nek....., ini ada ikan mujaer, tadi Kakek menangkapnya", Aini menghampiri Nek Husna.


"Alhamhamdulillah Ain, kalau begitu, sini Nenek goreng, tolong petikkan cabai di sana, kita buat sambal goang aja", pinta Nek Husna.


Aini menurut, ia mengikuti perintah neneknya.


"Aini di disini Bu?, di rumah tidak ada", Hana, ibu Aini menghampiri Nek Husna ke gubuk.


"Ada, itu lagi memetik cabai, dari pulang sekolah juga di sini bersama Nenek, mana Arman?, kita makan bersama di sini", ajak Nek Husna.


"Syukurlah kalau begitu, Mas Arman masih di rumah Bu, mungkin nanti juga menyusul ke sini",


Benar saja, tak lama kemudian Arman datang membawa dua buah kelapa muda.


"Tuh kan panjang umur", senyum Hana saat melihat Arman datang. Aini pun datang, ia berdiri di depan gubuk sambil tersenyum.


"Asik, kita botram nih Nek, semua sudah ngumpul", senyum Aini.


"Botram?, apa itu Ain?", tanya Nek Husna.


Aini terkekeh, "Botram itu, makan bersama Nek",


"Oh, ada-ada saja , mana Kakek, ini sudah selesai semua, Man ambil daun pisang saja buat alasnya, Ibu lupa membawa piring", pinta Nek Husna.

__ADS_1


Arman menurut, ia mengambil selembar daun pisang, setelah dibersihkan, ia jadikan alas buat makan. Kakek Ilham pun sudah ada di gubuk, mereka menikmati makan bersama di gubuk.


__ADS_2