Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Kena Batunya


__ADS_3

"Sekarang kamu kembali bekerja!, saya akan membantu kamu mencari pemilik benda ini, karena dia yang harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu alami", tegas Putra.


Risma segera meninggalkan ruangan Putra dengan perasaan yang tidak menentu, bagaimana kalau benar bukan Putra?, siapa yang bersamanya malam itu.


Batin Risma terus saja bicara, dia menebak-nebak siapa orangnya?. Risma akan sangat menyesal karena telah bertindak bodoh.


"Kenapa Ris?, ada apa dengan Pak Putra?" , Adis bertanya begitu Risma kembali ke meja kerjanya.


"Biasa..., soal kerjaan", alasan Risma. Dia belum berani berkata jujur, walau kepada Adis sekalipun.


'Ini tidak akan lama, sebentar lagi semua orang akan tahu, bahkan ini akan menjadi santapan empuk bagi para pencari warta, media pasti akan ramai membicarakan ini', pikir Risma.


'Dan hal ini akan mempengaruhi kredibilitas perusahaan, mau tidak mau, Pak Putra harus bertanggung jawab' , pikir Risma, ia seperti mendapat angin , untuk menyerang bosnya itu.


'Aku harus meluruhkan hati keluarganya Pak Putra, kejadian ini akan mempengaruhi perusahaan jika sampai ke telinga media', batin Risma kembali berkata.


Entah kenapa, Risma keukeuh ingin Putra yang bertanggungjawab ,walau kini dirinya pun ragu. Setelah benda yang ia temukan di atas tempat tidurnya, ternyata bukan milik Putra.


Tak lama Putra Pun lewat, ia tampaknya pulang cepat hari ini. Ia sudah berencana untuk mengunjungi Abah Ilham dan Nek Husna.


Sekalian mau mengadakan syukuran empat bulanan kehamilan Aini. Dia juga ingin menenangkan diri.


"Tumben Pak Bos pulang cepat", gumam Adis, ia melihat penampakan yang berbeda dari raut wajah bosnya itu.


"Pak Putra seperti sedang tertekan, wajahnya kusut, walau tetap ganteng sih...", cicit Adis.


Risma hanya diam saja, dia tampak cuek dengan Adis.


"Ah, bisa aja kamu, tapi tunggu, sebentar lagi juga aku akan duduk manis di rumah", senyum Risma. Ia sangat yakin , kalau dirinya bisa berada di posisi Aini sekarang, karena ia akan mendatangi Bu Hellen, dan mengaku sedang mengandung cucunya.


"Aku harus menyusun rencana, biar berjalan sempurna",gumam Risma.


Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa , Risma terlihat membereskan meja kerjanya, ia juga tampak akan pulang cepat.


"Aku ada urusan mendadak, semua pekerjaan sudah selesai, jadi aku pulang duluan ya?, Risma bicara di depan meja Adis.

__ADS_1


"Kalau ada yang mencari aku, suruh menghubungi nomer ponselku saja", pesan Risma kepada Adis.


"Oke, siap!, hati-hati dijalan, sampai jumpa besok", senyum Adis. Ia memperhatikan Risma sampai menghilang.


"Aneh itu anak, pulang kok nggak bilang-bilang", gerutu Mirna. Ia menaruh berkas yang sudah dikerjakan ke meja Adis, karena Pak Putra sudah pulang.


"Iya, lagi aneh itu anak, kadang sedih, sebentar sudah senang lagi",


"Lagi dapet kali , makanya sensi terus", Adis menerima file yang diberikan Mirna.


Saat jam pulang kantor tiba, Mirna langsung pulang , kali ini menuju rumahnya. Ia sudah sangat merindukan keluarganya, terutama adiknya Murano.


Di jalan, Mirna melihat kerumunan orang, ternyata ada sebuah kecelakaan di sana. Sebuah mobil mewah tampak menabrak pembatas jalan, sepertinya si pengendara kehilangan kendali hingga terjadilah kecelakaan tunggal itu.


'Astaghfirullah..., ini sepertinya mobil..., ini mobil Aditya?, Mirna terperanjat, ia membuka kaca mobil yang ditumpanginya.


"Stoop...!,Stop...!, berhenti Pak", Mirna berteriak meminta mobil yang ditumpanginya berhenti. Karena memang Mirna selalu naik kendaraan umum , padahal mobil pun ia punya, tapi ia tidak ingin tampil wah dihadapan teman-teman di kantornya.


Mirna langsung memburu mobil Aditya, begitu kagetnya ia saat melihat Aditya terluka di dalam mobilnya.


"Tapi Neng, kita harus laporkan kejadian ini kepada pihak berwajib dulu", jawab seorang pengendata motor.


"Iya..., saya tahu itu, biar itu nanti saya yang urus, sekarang, selamatkan dulu nyawa teman saya, satu detik pun akan sangat berharga untuk hidupnya", Mirna memelas.


"Ya sudah...., ayo kota keluarkan laki-laki itu dari mobil", ajak seorang pengendara, ia lebih dulu mendekati mobil dan mengeluarkan pengendaranya.


Mirna sudah sigap, ia sedari tadi menelepon ambulance, hingga saat Aditya diselamatkan, ambulance pun datang.


Mirna segera membawa Aditya ke Rumah sakit terdekat. Mirna bingung harus menghubungi siapa, dia tidak mengetahui keluarganya Aditya.


Hingga Mirna harus menunggu sampai Aditya sadar. "Kamu ya..., tidak mau berubah, sampai celaka seperti ini , kamu dalam keadaan mabuk lagi", gumam Mirna, ia melihat Aditya dari balik kaca, karena ia belum diperbolehkan untuk masuk ke dalan ruang perawatannya.


Tak lama ada tiga orang laki-laki mendatanginya.


"Apa benar Aditya du rawat di sini?, saya Dirman, ayah Aditya", ucap laki-laki itu.

__ADS_1


"Oh...iya Pak, itu Aditya masih belum sadar", Mirna menunjuk ke dalam ruang perawatan.


Pak Dirman pun melihat ke dalam, matanya berkaca-kaca, ia tidak menyangka anaknya akan sampai seperti ini.


"Adit..., kamu tidak pernah mendengarkan Bapak, kamu selalu bertindak sesukamu, dan ini yang Bapak takutkan", tampak Pak Dirman mengusap kaca pembatas.


"Oh iya, terima kasih, sudah menolong Adit", Pak Dirman melirik ke arah Mirna.


"Iya Pak, kebetulan tadi saya lewat, dan saya mengenali mobil Aditya, Adit ini teman sekolah saya Pak", senyum Mirna.


"Tapi kami sudah lama tidak bertemu, saya baru pulang dari Luar Negeri, saya kuliah di sana Pak",


"Iya..., Bapak juga ingin Aditya seperti itu, tapi dia selalu tidak mau, dia selalu menolak, dia selalu ingin melakukan apa yang dia mau, dia tidak mau di atur , oleh saya sekalipun", Pak Dirman menunduk, raut kekecewaan tampak jelas di wajahnya yang sudah tidak muda lagi.


"Iya, yang sabar Pak, semoga setelah sadar nanti, Aditya menyesali perbuatannya, dan bisa patuh dan sayang sama Bapak, yakin saja, di setiap musibah itu, selalu ada hikmah", Mirna menatap Pak Dirman, ada rasa iba di hatinya, ia bisa melihat bagaimana besarnya rasa sayang seorang ayah kepada anaknya.


Bagaimana pun anaknya, kasih sayang orang tua selalu ada.


"Dengan keluarga pasien?", seorang Dokter wanita menghampiri Pak Dirman dan Mirna sementara dua orang yang ikut dengan Pak Dirman, sudah ke luar kembali.


"Saya ayahnya Dokter",ucap Pak Dirman.


"Bisa bicara sebenar?",


"Di sini saja Dok, ini juga teman anak saya kok", Pak Dirman melirik ke arah Mirna.


"Baik..., jadi begini ya Pak, anak Bapak tidak mengalami patah tulang atau luka yang berarti, tapi akibat kecelakaan ini, kemungkinan anak Bapak akan susah mempunyai keturunan, ada benturan keras di perut bagian bawah, lagi pula anak Bapak dalam keadaan mabuk berat saat kecelakaan, kandungan alkoholnya tinggi, itu yang merusak sistem reproduksinya", jelas Dokter.


Pak Dirman melirik Mirna yang sedang menunduk, Mirna merasa berada di posisi yang salah, ia kini bisa tahu hal yang seharusnya menjadi rahasia Aditya.


"Apa tidak bisa diobati?", tatap Pak Dirman kepada Dokter.


"Kita lihat progres ke depannya dulu, saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien", senyum Dokter.


Setelah itu ia pergi meninggalkan Pak Dirman dan Mirna.

__ADS_1


__ADS_2