Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Sakit Hati pembawa petaka


__ADS_3

Aditya nampak sedang menikmati segelas kopi di Balkon kamarnya, ia asik main game dari ponselnya. sesekali ia berteriak saat game nya over.


Seketika ia diam, ia menerawang menerobos gumpalan awan putih di pagi hari yang cerah itu. 'Aini, lihat ssja nanti', pikirnya, ia menyeringai.


Sementara Pak Dirman berada di pinggir kolam renang di belakang rumah, dengan jelas ia bisa melihat Aditya . "Tugas kalian belum selesai, terus pantau dan awasi anakku, aku yakin dia mempunyai rencana", Pak Dirman memandang Yoseph dan Wira. Sementara Bondan sedang berada di di depan rumah.


"Adit memang anak yang keras, kalau mengingi kan sesuatu, pasti harus dapat, sekali sakit hati, selamanya ia dendam, itu karena ia tumbuh tanpa didampingi kelembutan seorang Ibu, aku tidak ingin menikah lagi semenjak ibunya meninggal dunia", terang Pak Dirman.


"Kenapa Pak Boss, padahal pasti banyak wanita yang bisa dipilih untuk menjadi Ibu Den Adit", argumen Wira.


"Tidak, saya tidak mau, saya tidak mau mengalami sakitnya ditinggal mati istri lagi, saat ibunya Adit meninggal, dunia saya terasa hancur, rasanya tubuh ini di tindih puluhan batu besar, sesak dan gelap", terawang Pak Dirman.


"Sudah ah, kok malah ngomongin itu, itu kenangan terburuk, nggak usah lagi di ungkit, pokoknya, awasi terus Aditya, saya tidak mau tidak berbuat bodoh", pinta Pak Dirman.


Wira dan Yoseph mengangguk sambil saling memandang, baru kali ini Pak Dirman menceritakan kisah hidupnya kepada mereka.


'Pantas saja di rumah ini tidak ada wanitanya, aku jadi OB, sekaligus juru masaknya di rumah ini', pikir Yoseph.


Walaupun laki-laki, tapi Yoseph pandai memasak, karena ia diajarkan oleh ibunya, memasak dan membersihkan rumah itu tidak mutlak tugas seorang wanita, tetapi seorang laki-laki pun harus bisa, jadi disaat istri sakit, disaat istri sibuk, masih bisa mengerjakannya sendiri, itu yang selalu ibunya katakan.


Apalagi Yoseph sudah ditinggal ayahnya meninggal sedari kecil, jadi disaat ibunya bekerja, dialah yang mengurus dan mengasuh adik perempuannya.


Makanya ia berbeda dengan Wira dan Bondan, Yoseph seorang laki-laki yang berhati lembut.


Tak lama Bondan datang, ia menuju kamar Aditya. "Mau kemana kamu?", tanya Pak Dirman saat melihat Bondan datang.


"Maaf Pak, saya di panggil Den Aditya, tidak tahu mau apa, tapi saya disuruh ke kamarnya sekarang", jelas Bondan.


"Oh..., ya sudah, sana cepat!", persilahkan Pak Dirman.


"Ingat!, kalian awasi terus mereka, dan selalu laporkan perkembangannya, saya ada perlu sebentar", Pak Dirman bangkit dan meninggalkan mereka di sana, ia segera menuju garasi, ia hidupkan ķuda besinya, dan segera melesat dijalanan.


"Menurut kamu, apa yang sedang direncanakan Aditya?", Wira memandang Yoseph

__ADS_1


"Entahlah, yang pasti ini ada hubungannya dengan Aini", tebak Yoseph.


"Iya sih, soalnya dari kemarin Aditya ngikutin dia terus, sekarang malah ngajak Bondan", Wira memandang ke atas, ke arah balkon kamar Aditya.


Di sana nampak Aditya sedang membicarakan sesuatu dengan Bondan.


Tak lama mereka berdua turun. "Mana Ayah?", tanyai Aditya.


"Tadi katanya ada urusan, Pak Dirman sedang ke luar", terang Wira.


"Ok!, kita pergi sekarang saja", ajak Aditya kepada Bondan.


"Baik, saya terserah Aden saja",


"Nanti kalau Bapak tanya, bilang saja saya mau ke Villa bersama Bondan", pesan Adit.


"Iya..., siap Den!, nanti disampaikan",


Aditya pergi bersama Bondan, Aditya akan kembali menyusun rencana. Mereka menuju sekolahan Aini.


"Ya elah, ini sekolahnya Aini, sabtu besok mau ada acara perpisahan di sini, kita manfaatkan untuk menculik Aini", Kata Aditya dengan muka datar.


"Menculik?, apa nggak salah?", Bondan melongo, ia tidak menduga kalau rencana Aditya sampai sejauh ini.


"Kenapa emang, takut?, cemen loe", Aditya meninju lengan atas Bondan.


"Tapi ini sudah kriminal, Dit", ingatkan Bondan.


"Bodo, Gue mau disaat hari pernikahan Putra, pengantin wanitanya tidak ada", seringai Aditya.


"Ini bisa membahayakan kamu Dit, sayang, kamu masih muda, masa depanmu masih panjang, jangan sampai kamu menyesal",


"Sudah, kok jadi kamu yang memerintah aku", Aditya melototi Bondan.

__ADS_1


"Bukan begitu, kasihan Ayah kamu Dit, Pak Dirman pasti akan ikut menanggung akibat perbuatanmu, ayahmu sudah tua, dia hanya memiliki kamu, kamu terkena masalah, dia akan sedih sekali. Kamu itu harapan satu-satunya, hanya kamu yang dia miliki, tidak ada lagi", Nasehati Bondan.


Aditya terdiam, ia menerawang jauh, sepertinya ia lagi mencerna kata-kata Bondan. Telunjuk kanannya ia gerakkan mengetuk -ngetuk setir yang ada didepannya. Nampaknya ucapan Bondan tadi sedikit mempengaruhinya.


Namun bayangan dirinya saat di tolak Aini, kembali berkelebatan, kedua jari tangannya mencengkram setir dengan kuat, dan ia kepalkan tangan kanannya, lalu ia pukulkan pada setir dihadapannya.


"Tidak, Loe jangan halangi Gue, jangan pengaruhi Gue dengan argumen konyol Loe, Gue yang merasakan bagaimana malunya di tolak ", geram Aditya.


"Sudah!, tugas Loe hanya dengerin dan turuti Gue saja, kalau nggak mau juga boleh!, Loe bisa keluar sekarang, Gue juga bisa sendiri", Aditya menunjuk ke arah pintu mobil.


"Jangan begitu dong , ya....ya....ya...., Aku turuti , lagian aku cuma dibayar kan?, buat bantuin Loe",


"Nah...., gitu dong, kalau masih butuh duit, nggak usah banyak cing cong", seringai Aditya.


"Terus..., rencananya bagaimana?", Bondan menatap Aditya.


"Akhir pekan besok akan ada acara perpisahan di sini, pasti Aini juga hadir, setelah itu mau sekalian ada acara ke luar juga katanya, kita manfaatin moment itu buat menculik, Aini",


"Si Putra juga pasti ada kan?", tatap Bondan.


"Ya nggak lah, ini acara khusus buat siswanya saja, lagian Gue dengar di kampusnya si Putra juga ada acara , sepertinya dia hanya bisa menjemput Aini di sekolahan saja",


"Jadi besok kita ikuti bisnya Aini, nah di lokasi, kita cari waktu yang tepat buat menculik dia, Loe yang kerjain, Gue tetap siap di belakang kemudi, biar saat dapat, bisa langsung kabur, kita bawa dia ke Villa ", tegas Aditya.


"Ngerti nggak!, jangan bengong saja", Aditya meninju lengan atas Bondan.


"Iya...iya...Gue ngerti", Bondan mengusap lengannya yang terasa ngilu.


"Pokoknya rencana ini harus berhasil, Gue mau Si Putra merasa malu, karena tidak becus menjaga calon pengantinnya",


"Ha....ha....ha...., Gue sudah tidak sabar , hilangnya Aini akan membuat Putra tidak muka dihadapan keluarganya Aini.


"Terus, nanti Aini mau diapain Den?",

__ADS_1


"Ya...terserah Gue lah, Aini mau diapain juga, kalau Gue tidak bisa miliki dia, orang lain juga sama, nggak bisa", tegas Aditya dengan menyeringai bak srigala yang menunjukkan taringnya.


'Wah...., ini bahaya, ini bisa jadi kasus kriminal, harus segera lapor Pak Bos', pikir Bondan.


__ADS_2