Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Rencana Menikah Muda


__ADS_3

"Pah, lihat nih, ternyata berita ini masih di muat di sini ya", Bu Mona memperlihatkan sebuah artikel yang ada di koran yang ia sedang baca .


"Artikel apa Mah?", Pak Purnawan yang sedang menikmati kopinya melirik sebentar.


"Ini, mengenai proyek bodong yang tadinya mau membangun Sekolah calon perwira, sepertinya, view nya bagus kalau di buat perumahan di sana", Bu Mona makin serius membacanya.


"Ah, paling itu tanah yang tidak jelas Mah, nanti kita malah kena tipu lagi" sanggah Pak Purnawan.


"Tapi kok Mamah tertarik ya Pah, ini sebuah ide baru, kita bisa membangun Perumahan di sana , masih jarang lho, perumahan dengan View alam pedesaan yang masih Asri".


Pak Purnawan diam sejenak, ia mencerna semua ucapan istrinya, memang ada benarnya, ini akan menjadi ide yang memukau.


"Di sana kita akan menjadi pengembang pertama, pasti akan banyak peminatnya, iya nggak Pah?".


Pak Purnawan manggut-manggut, ia mulai mengerti dengan ide istrinya.


"Sebentar, kita harus survei langsung ke sana Mah, biar jelas, bukan hanya tahu dari berita saja", usul Pak Purnawan.


"Oke, Mamah catat dulu nih, ada alamatnya", Bu Mona tampak menuliskan sesuatu.


"Ini ide bagus Pah, jarang kan ada perumahan di Pedesaan, view desa yang asri dengan latar belakang pemandangan sebuah gunung, itu akan menambah nilai jualnya Pah", Bu Mona tampak antusias.


Pak Purnawan pun manggut-manggut, ia memuji kepintaran istrinya yang selalu mempunyai ide brilian.


"Tidak salah memang, dari dulu kamu selalu memberikan ide-ide brilian, hingga perusahaan kita tumbuh menjadi besar, kamu selalu menemukan celah istimewa di setiap perkara, dan itu menguntungkan", puji Pak Purnawan. Ia merengkuh tubuh istrinya itu dan mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Bu Mona.


"Ah, biasa saja Pah, lagi pula, Mamah sudah bosan menangani proyek di kota terus, banyak saingannya lagi. Lihat banyak pengembang yang rugi gegara proyeknya stag, hanya buat sample saja, tidak ada peminatnya", jelas Bu Mona.


"Lah ...akhirnya jadi proyek mati karena tidak ada peminatnya", timpa Bu Mona.


"Nanti biar kita sekalian bawa anak-anak ke sana, sekalian healing saja, mencari udara segar ", senyum Pak Purnawan.


"Setuju Pah",


*****


"Sial, kemana perginya tadi , padahal kita tunggu dari pagi, tidak ada kembali lagi", gerutu Aditya , dia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. 'Apa jangan-jangan Aini ada di dalam salah satu mobil yang tadi keluar, tapi bareng siapa?', pikiran Aditya terus menerka-nerka.

__ADS_1


'Atau akhir pekan besok, aku datang lagi ke sana , sekalian mencari tahu kelanjutan proyeknya. kita kamping di sana saja ', pikir Aditya.


Keasrian Desa Aini ampuh membuatnya merasa tenang, apalagi kalau bisa menaklukan hati Aini.


Ia mainkan ponselnya, ia hubungi Bimo, Bondan, Wira dan Yoseph untuk memintanya menemani dia diakhir pekan ke desa Mandalajati.


******


"Aini belum pulang Bu?", Arman melihat ke dalam rumah yang terlihat sepi.


"Sepertinya belum Pak, tadi di rumah Kakek juga tidak ada", Hana merasa khawatir. Mereka baru saja pulang dari sawah.


"Paling bersama Den Putra, Pak", tebak Bu Hana.


"Bagaimana attu Pak, kalau Den Putra benar-benar mau menikahi Aini", Bu Hana melihat suaminya, menunggu jawaban darinya.


"Ya, nggak apa-apa Bu, sudah jodohnya, mau apa lagi, kelihatannya juga Aini senang dengan Den Putra", jawab Pak Arman enteng.


"Lagi pula ,lihat teman-teman Aini, mereka sudah pada menikah semua",


"Tadinya kan Ibu mau Aini kuliah dulu Pak",


"Pak, apa nanti keluarganya Putra bisa menerima Aini, kita kan orang yang tidak punya, sedangkan Putra itu anak orang yang berada".


"Ibu kan lihat sendiri, Pak Handoko orangnya gimana?, ia tidak mempermasalahkan keadaan kita, saat pertama kali ke sini juga."


"Iya, mudah-mudahan nanti pada saat Aini nikah, kita sudah punya rizkinya", harap Bu Hana.


"Ya nggak usah memaksakan Bu, kita adakan sesuai kemampuan saja, sederhana saja, kan yang terpenting itu sahnya.


"Tapi Aini itu Putri kita satu-satunya Pak, masa kita tidak bisa menggelar pesta yang meriah untuk Aini", rengek Bu Hana.


"Ya..., do'akan saja, semoga ada rezekinya, Bapak juga ingin Aini menikah dengan pesta yang meriah", Pak Arman menerawang.


"Masih ada waktu dua bulan sebelum Aini lulus sekolah, kita bisa menabung dulu, sawah keburu panen kan Pak?, kita bisa jual sebagian.


"Kolam lele yang di belakang rumah juga sudah bisa dipanen kan Pak?, itu bisa kita jual juga",

__ADS_1


"Iya, semoga saja pas waktunya semua bisa terkumpul", harap Pak Arman.


"Nah, mulai dari sekarang, Ibu harus ajari Aini bagaimana menjadi istri yang baik, terutama masalah memberikan hak pada suami", senyum Pak Arman.


"Ah...Bapak, kalau masalah itu mah sudah naluri, tidak perlu diajarkan lagi, nanti juga bisa sendiri", Bu Hana membalas senyuman Pak Arman


"Iya..., kan Aini anaknya jarang bergaul, ini juga baru ketemu Nak Putra, langsung suka",


"Iya, kan sudah waktunya, usianya sudah balig, pasti akab mulai menyukai laki-laki, itu mah normal Pak",


Dari kejauhan terdengar deru mobil, makin lama makin terdengar jelas, tampak oleh mereka sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Kek Ilham.


"Alhamdulillah, itu mereka datang", Bu Hana tersenyum gembira.


Bu Hana dan Pak Arman tampak senang melihat kedatangan Aini dan Putra. Kini Aini sudah berganti baju, tadi Putra membelikannya beberapa setel.


"Assalamu'alaikum", Putra dan Aini mengucap salam begitu sampai di depan mereka.


"Wa'alaikumsalam, Aduh...., Ibu sudah menduga, Aini terlambat pulang, pasti nggak akan kemana-mana, pasti bareng Nak Putra" , senyum Bu Hana.


"Iya ..Pak, Bu, maaf tadi saya langsung membawa Aini ke rumah, Ini akhir pekan, besok Aini libur, kebetulan Mamah juga lagi ada di rumah, jadi bisa bertemu dengan Aini, maaf ...saya tidak minta ijin dulu", rengkuh Putra.


"Oh..., tidak apa-apa Nak, kalau bersama Nak Putra Bapak percaya", senyum Pak Arman.


"Ini Aini, baru baru ya,Ibu baru melihat", Bu Hana menilik-nilik baju yang dipakai Aini.


"Iya Bu, tadi dibelikan Kak Putra", senyum Aini


"Aduh, terima kasih sekali, ini pasti mahal, baju toko ini mah", senyum Bu Hana.


"Ayo masuk !, Ibu dan Bapak juga baru pulang dari sawah, keenakan ngobrol di sini", Bu Hana membukakan pintu.


Putra menaruh bawaannya di atas meja tamu, "Bu, ini ada nasi dan kue, sengaja dibawa dari rumah , karena Aini saya culik, jadi pasti tidak ada yang menyiapkan makanan sepulang dari sawah", senyum Putra.


"Itu Aini yang masak kok Bu, tadi Aini memasak di sana, wah dapurnya bagus Bu, ada kulkas yang tinggi, masaknya juga pake kompor gas, terus ada Ac nya juga, jadi Aini masak di sana tidak kepanasan", jelas Aini, ia antusias menceritakan keadaan dapur di rumah Putera.


Mereka terlibat obrolan yang hangat.

__ADS_1


Ada sebuah mobil meluncur dijalan yang menuju Desa Mandalajati, beberapa kali mobil itu berhenti untuk menanyakan sesuatu kepada orang-orang yang kebetulan ada di pinggir jalan.


Beberapa puluh meter dari mereka, meluncur juga sebuah mobil , sama sepertinya mobil itu juga menuju Desa Mandalajati.


__ADS_2