Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Hari Bahagia SegeraTiba


__ADS_3

Mirna yang berada di dalam mobil ibunya merasa tidak karuan, mau bersikap biasa namun tetap hati kecilnya mempunyai rasa yang kuat kepada Putra.


Apalagi harus menyaksikan langsung dengan matanya sendiri , kedekatan antara Putra dan Aini.


Rasanya ia ingin pergi saja, membawa rasa gundah yang menggunung di hatinya.


Berkali-kali ia melirik ke arah dalam rumah, melihat senyum dan tawa diantara mereka, itu semua menambah kesedihan dihatinya.


"Lama banget sih...., kenapa nggak pulang saja , ini kan urusan keluarga mereka", gerutu Mirna, ia merasa kesal kepada kedua orang tuanya.


'Aku coba telepon Aditya saja ya, kok dia sampai gagal menculik Aini', pikir Mirna.


Ia segera mendial nomer Aditya, namun lama tidak ada yang mengangkat. "Lagi ke mana lagi nj orang, biasanya juga selalu online", gerutu Mirna.


[Ya..., ini temannya Adit ya?], terdengar suara diseberang sana, tepat saat Mirna akan mereject sambungan teleponnya. Mirna terdiam, karena yang ia dengar bukan suara aditya.


[Halo...halo...,], terdengar lagi suara dari sana.


[Iya..., Aditya nya ada?], dengan ragu Mirna menjawab.


[Aditya nya ada, tapi tidak bisa diganggu, ini saya ayahnya, apa ada pesan buat Adit?, nanti saya sampaikan], rupanya Pak Dirman yang menganggat ponselnya Aditya.


[Oh..., ah nggak ada Om, kalau begitu terima], Mirna menutup sambungan teleponnya, ia kembali menerawang, ada apa dengan Aditya?, kok bisa ponsel Aditya dipegang oleh ayahnya.


Mirna sedikit lega karena ia melihat kedua orang tuanya sudah keluar dari rumah Kek Ilham. Mereka bersiap untuk pulang.


'Tapi mana Murano?, kok nggak ada', Pikir Mirna.


Ia segera keluar dari mobil dan menghampiri kedua orang tuanya, ia menyalami semua orang yang ada di rumah Kek Ilham, termasuk Aini dan Putra. Tidak lupa Mirna pun mengucapkan selamat kepada Aini dan Putra.


Terlihat Murano nempel terus dengan Aini, ia tidak mau pulang. "Rano sayang, ini sudah malam, Teteh nya lelah mau istirahat, jadi sekarang Rano pulang dulu, besok-besok Rano boleh main lagi ke sini", senyum Aini.


Aini nampak menggendong Murano, ia mengantar Murano sampai ke mobil ayah ibunya. Ajaib memang, Murano menurut, ia tidak merajuk seperti biasanya.


"Nah...., Rano pintar, nanti sampai rumah jangan main game terus ya, ini Rano kan sudah punya ikan", senyum Aini.


"Iya...Teteh", senyum Murano.

__ADS_1


"Janji ya...?, jangan bohong lo, kalau bohong, Teteh tidak mau Murano main lagi ke sini", senyum Aini.


"Iya...Rano janji", Murano menjulurkan jari kelingkingnya kepada Aini. Dengan tersenyum Aini pun menyambut uluran tangan Murano. Kelingking mereka saling bertaut.


Setelah pamit, mobil Pak Purnawan meninggalkan pekarangan rumah Kek Ilham.


Tinggallah keluarga Aini dan Putra. Nek Husna menyiapkan makan untuk Aini dan Putra, sementara orang tuanya kembali berkumpul di ruang keluarga untuk membahas persiapan pernikahan Aini dan Putra.


"Alhamdulillah..., akhirnya waktunya segera tiba", senyum Putra. Ia makan berdua dengan Aini. Karena kedua orang tuanya sudah makan tadi bersama keluarga Bu Mona.


Aini hanya mendengarkan saja ia fokus saja mengunyah makanannya. Ia pun serasa mimpi, bertemu dan kini akan segera menjadi istri dari seorang pemuda kota, anak orang berada pula.


"Makan apa melamun?", Putra mengagetkan Aini.


"Pasti lagi membayangkan menjadi pengantin ya....", goda Putra.


Aini tersipu, karena ucapan Putra telak meninju hatinya. Memang benar ia sedang membayangkan menjadi istri dari Putra.


"Sabar saja , impian kita akan segera terwujud", senyum Putra.


Bu Hana melirik ke arah Pak Arman ,"Wah ... pasti mahal ya Pak?",


"Oh...Pak Arman dan Bu Hana tidak usah khawatir, semuanya saya yang tanggung, uang yang kemarin saya titip ke Aini, itu untuk keperluan Aini", senyum Bu Hellen. Ia mengerti pasti keluarga Aini akan merasa keberatan dengan biayanya.


"Aduh..., Alhamdulillah, jadi merepotkan lagi", tunduk Bu Hana.


"Enggak Bu, ini kan sudah menjadi kewajiban saya sebagai orang tua Putra, karena Putra ingin menikah muda, sementara dia nya masih kuliah, ya soal biaya ini itu, saya yang tanggung, yang penting anak saya bahagia", tegas Pak Handoko.


"Nanti juga kalau sudah waktunya, Putra punya penghasilan, mungkin dia sendiri yang akan membiayai Aini", senyum Bu Hellen.


"Alhamdulillah, Aini memang beruntung, mempunyai calon Mertua yang baik dan penyayang", senyum Pak Arman.


"Pokoknya Bapak dan Ibu di sini menyiapkan buat konsumsinya saja, saya pernah menghadiri undangan pernikahan ala sunda, makanannya enak-enak, nah saya juga ingin menu makanan yang seperti itu di acara pernikahan Putra nanti", jelas Bu Hellen.


"Menu seperti apa ya Bu?", Bu Hana penasaran.


"Waktu itu ada sate,capcay, sambal goreng kentang,dan ada rujak yang pakai bumbu kacang, itu apa ya, saya sampai ketagihan", senyum Bu Hellen.

__ADS_1


"Oh...itu rujak jakin, memang itu khasnya , selalu ada diprasmanan sunda", senyum Nek Husna.


"Boleh juga ditambah makanan lainnya, seperti jajanan khas sunda, batagor,baso tahu, baso, ice cream juga boleh", senyum Bu Hellen.


"Kalau Papah mau ada es buahnya gitu Mah, pasti seger", senyum Pak Handoko.


"Wah... Jadi banyak dong Pah?" senyum Bu Hellen.


"Ya...nggak apa-apa, Papah ingin semua orang yang hadir puas, perutnya kenyang gitu Mah", kekeh Pak Handoko.


"Boleh...ide bagus Pah, pokoknya siapkan saja menunya yang banyak, biar nanti saya tambah lagi uangnya", senyum Bu Hellen.


"Nggak usah Bu, kami juga sudah menabung, khusus untuk acara ini, untuk pernikahan Aini ini, kami sudah menabung dalam bentuk kambing, sudah ada berapa ya Pak, kambingnya Aini?", Pak Arman melirik Kek Ilham,


"Emm....,ada banyak Man, tiap tahun induknya beranak terus, kalau untuk acara nanti sudah siap sekitar delapan belas ekor, sebagian bisa disembelih untuk sate, sebagian lagi bisa untuk di jual, kalau untuk ikan, bisa tuh kolam Kakek di kuras saja, ikannya dibikin pais", jelas Kek Ilham.


"Alhamdulillah..., ini semua rizkinya Aini, memang anak itu sedari dalam perut, selalu dimudahkan rizkinya", senyum Bu Hana.


"Saya juga tidak menyangka,Putra bisa langsung suka, apalagi langsung antusias ingin menikah muda begitu bertemu dengan Aini, padahal semasa sekolah belum sekalipun dekat dengan teman wanitanya, tapi begitu bertemu Aini, dia langsung semangat", senyum Bu Hellen.


"Tapi maaf ya Pak, Bu, kami begini adanya", Pak Arman menunduk


"Sudah Pak, jangan diungkit lagi, kami tidak mempermasalahkan hal itu, yang terpenting anak kita bahagia, dan segera memberikan banyak cucu", senyum Bu Hellen


"Oh...iya..., saya juga ingin ada kesenian sundanya juga, ada acara penyambutan pengantin, dan jaipingan ya Pah?", Bu Hellen kembali melirik suaminya.


"Oh..., lengser mungkin yang Ibu maksud", Bu Hana melirik Bu Hellen.


"Ya...itu kayaknya, saya suka itu", senyum Bu Hellen.


"Baik, semua akan saya siapkan, makanan khas sunda, jajanan khas sunda, dan kesenian sunda", senyum Pak Arman.


"Semoga rencana kita berjalan lancar dari awal sampai akhir, sehat dan selamat semuanya", harap Kek Ilham.


"Aamiin", serentak semua.


Bu Hellen dan keluarga pamit, mereka meninggalkan rumah Kek Ilham dengan hati senang.

__ADS_1


__ADS_2