Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Risma berulah


__ADS_3

"Ris..., kamu kemana?, kemarin tidak masuk kantor, aku lho yang menggantikan posisi kamu kemarin.


"Aku di ajak makan siang Pak Bos, bareng klient yang dari Bogor", kabari Mirna.


Hari ini Risma yang datang lebih awal. Dia sudah duduk di kursinya begitu Mirna datang.


"Aku ada urusan mendadak kemarin, jadi lupa, nggak sempat ijin dulu", alasan Risma.


"Kamu sakit?, kok pucat begitu?", Mirna menatap wajah sahabatnya itu.


"Ah...masa", Risma mengambil cermin dan melihat dirinya di sana, benar saja, wajahnya nampak pucat, ada kantung matanya juga.


"Iya..., akhir-akhir ini aku malas makan, tidak selera, maunya ngemil saja",


"Jangan dibiatkan dong!, kamu harus segera periksakan diri ke Dokter", usul Mirna.


"Sudah, ini aku bawa obatnya juga", Risma mengangkat k,aresek putih berisi obat .


"Oh ya sudah, kalau sudah diperiksa kan tenang, jangan biasakan menyepelekan sakit, kalau sudah parah, susah diobatinya.


"Memangnya kamu sakit apa?, terlihat sehat kok", cicit Mirna.


"Iya, memang aku tidak sakit, kemarin itu hanya ada urusan penting saja, aku tuh lagi malas saja, pinginnya rebahan saja di rumah", Mirna memainkan pulpennya di atas meja.


"Makanya cepat cari jodoh, terus menikah, kan bisa rebahan di rumah, tanpa khawatir tidak bisa makan, kan sudah ada suami", senyum Mirna.


"Sebentar lagi , itu akan menjadi kenyataan", senyum Risma.


Tak lama Putra datang, ia langsung memasuki ruangannya. "Kok beda, Pak Putra seperti sedang kesal", Mirna meninggalkan meja kerja Risma, ia kembali ke mejanya.


"Mungkin, istrinya sudah mengadu, jadi dia terlihat kesal", gumam Risma.


Semua berjalan normal seperti biasanya, semua staf mengerjakan tugasnya masing-masing. Pah Hambali hari ini tidak terlihat masuk kantor, jadi sudah dipastikan hari ini Putra sendirian di ruangannya.


Semua klient yang sudah punya janji hari ini sudah datang, dan semua sudah bertemu dengan Putra.


Dalam hal ini Putra harus profesional, walau sejak menginjakkan kakinya di kantor ia ingin segera bicara dengan Risma.

__ADS_1


"Ting...", ada sebuah notif di ponsel Adis.


Itu adalah dari Putra yang memerintahkan Adis memanggil Risma untuk menghadap ke ruangan Putra.


"Hai..., dipanggil Pak Putra tuh", Adis berdiri di samping Risma yang sedang memainkan mouse, padahal terlihat layar laptopnya mati.


"Oh...iya, sebentar", dengan agak kaget Risma meraih tas dan mengambil cermin, ia ingin memastikan riasannya masih oke.


"Aduh...., semoga saja ini pertanda baik, Pak Putra mau membicarakan masalah kemarin", gummam Risma. Ia memoles kembali bibirnya dan menyapukan bedak ke wajahnya, tidak lupa ia juga semprotkan parfum ke tubuhnya.


Adis hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


Risma pun segera bangkit dan berjalan menuju ruangan Putra. Ia merasa bangga dipanggil oleh bosnya itu.


Tanpa mengucap salam dan mengetuk pintu terlebih dulu, Risma langsung mendorong pintu ruangan Putra.


Ia melihat tidak ada siapa pun di ruangan itu, kursi Putra pun kosong. 'Kemana irangnya', batin Risma bertanya.


"Silahkan duduk", sebuah suara mengagetkannya.


Risma belum sempat meliriknya, Putra ternyata sudah berada di belakangnya.


Yang tadinya merasa senang, kini Risma merasa takut, Putra menatapnya tajam. Risma hanya menunduk dengan hati yang berdebar-debar.


"Kemarin kamu yang menemui istri saya di rumah?", Putra membuka pembicaraan.


"I...iya...Pak" ,


"Apa maksud kamu membawa kertas ini ke istri saya?", kembali Putra bertanya.


"Itu kan bukti Pak, saya meminta Bapak bertanggung jawab untuk hal itu",


"Kenapa harus saya , itu bukan urusan saya, kamu salah orang",


"Pak, Bapak melakukannya sewaktu di Bogor", Risma menunduk.


"Di Bogor?, jangan ngarang kamu, di sana kita hanya bersama untuk urusan pekerjaan saja, dan itupun ditemani klient, selebihnya kita tidak pernah bersama lagi"

__ADS_1


"Kamu tidak ada bukti yang kuat untuk menjadikan saya orang yang bertanggungjawab dengan apa yang terjadi kepada kamu",


"Tapi Pak, hanya Bapak yang mengetahui kamar saya, jadi siapa lagi?",


"Lagi pula , malam itu saya panggil nama Bapak kok, dan saya yakin yang masuk ke kamar saya itu Bapak, siapa lagi?",


"Kamu melihat saya masuk ke kamar kamu?",


Risma diam, karena memang malam itu kamarnya gelap, lampunya mati, jadi ia tidak bisa melihat wajah orang yang masuk ke kamarnya.


"Kenapa diam?, jawab?, kamu melihat saya di kamar kamu malam itu?", ulangi Putra.


Risma menggeleng ,"Tidak, saya tidak bisa melihat, karena malam itu gelap, lampunya mati", Risma menunduk.


"Tuh...kan ..., kamu hanya menduga -duga, sudah bisa saya tebak, dengar Risma!, saya malam itu bersama Pak Mul, mencari oleh-oleh, apa perlu saya minta kesaksian dari Pak Mul?", Putra menatap Risma .


"Aduh...Pak, kalau bukan Bapak , siapa?, bagaimana nasib saya Pak kalau sampai saya melahirkan anak ini tanpa menikah, saya pasti akan dikucilkan warga, dan bagaimana juga nasib anak saya Pak", Risma mulai terisak.


"Kamu juga sebagai wanita itu, kamu harus bisa menjaga diri, jangan karena kamu suka, kamu cinta, bisa berbuat hal yang menghinakan dirimu sendiri",


"Kamu sadar kan dengan apa yang kamu lakukan malam itu?, kenapa kamu diam saja, tidak melawan?, tidak berteriak?, padahal kamu tidak tahu pasti orang itu siapa?", tatap Putra.


"Ini bukan main-main Risma...., sekarang kamu8 pojokkan saya, enak saja, orang lain yang berbuat salah, bukan saya", tegas Putra.


"Tapi saya mempunyai buktinya Pak, Risma merogoh saku jasnya, ia mengambil sesuatu, dan memberikannya kepada Putra",


"Ini punya Bapak?", Risma menaruh benda itu di meja dihadapan Putra, itu yang ia temukan di atas tempat tidur malam itu.


Putra mengambil benda itu, ia lihat dan teliti benda itu adalah sebuah pin. Putra termenung, sepertinya ia pernah melihat benda itu.


"Ini bukan milik aku, benda apa ini?, kamu sudah lama kerja di sini, apa pernah saya memakai benda ini?",


Risma pun terdiam, ia sedang mengingat, setahunya, ia sendiri belum pernah melihat benda itu, baru kali ini. Namun Risma menyangkal sangkaannya sendiri. Ia keukeuh dengan tuduhannya.


"Risma?, kamu dengar kan?, benda ini bukan milik saya, jadi kamu salah orang, kalau perlu benda ini akan saya jadikan bukti, kalau saya tidak bersalah, tapi pemilik benda inilah yang harusnya bertanggung jawab kepada kamu", jelas Putra.


"Tapi saya tidak mau Pak, saya maunya Bapak", ucap Risma tanpa rasa malu lagi.

__ADS_1


"Tidak bisa!, ini bukan main-main, kamu harus tahu, sebentar lagi aku juga punya bayi, ini akan menyakiti Aini, lagi pula sudah saya jelaskan, ini bukan milik saya!, kalau perlu saya akan bantu kamu untuk mencari pemilik benda ini" , Tatap Putra.


__ADS_2