
Semua sudah tidak bisa dihindari lagi oleh Putra, kini dirinya tidak bisa lari dari tanggung jawab, bukti medisnya sudah ada, walau beribu kali menyangkal pun sudah tidak bisa merubah keadaan.
"Bagaimana?, biar nanti Papih dan Mamih yang atur, kita adakan secara sederhana saja, karena bagaimana pun, pernikahan kedua bagi seorang Putra, seorang Pengusaha muda sukses, tetap akan menimbulkan kehebohan di kalangan media, apalagi ini akan menjadi peluru jitu untuk membuat hancur Perusahaan Putra yang baru saja berkembang.
"Saya mau Pah, tapi ini tidak akan merubah semuanya, aku hanya mencintai satu wanita sampai kapan pun, dia tidak hanya mempunyai tempat di rumah ini saja, tapi tidak di hati Putra Pah", jelas Putra sambil tangannya menunjuk ke arah Risma.
"Pernikahan macam apa ini?, saya tidak mau", ucap Risma.
"Ya sudah , hasil test itu tidak ada pengaruhnya buat aku, kalau kamu tidak mau, ya sudah, itu artinya tidak akan ada pernikahan kedua dalam hidup aku, dan aku akan meninggalkan tempat ini bersama Aini, aku lebih baik hidup sebagai petani dari pada harus hidup mewah di sini bersama kamu", kembali Putra menunjuk ke arah Risma.
Risma kini yang menjadi mati kutu, ia sungguh tidak menyangka, baik Putra atau pun Aini bersikap di luar dugaannya.
Memang Risma telah berhasil memanipulasi hasil test DNA, tapi Risma tidak bisa memanipulasi hati Putra dan Aini.
__ADS_1
Risma berpikir lagi, kalau ia menolak menikah sesuai keinginan Putra, dia dan anaknya tidak akan mendapatkan apa pun dari keluarga Putra.
Apalagi Risma juga sudah mempunyai janji dengan Dokter, ia tidak bisa mengelak dari janjinya itu.
"Baik, saya mau, ini semua saya lakukan demi baby Khansa, karena ia pun berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya", ucap Risma.
"Sudah, kita atur cepat saja, biar semuanya cepat beres", ucap Pak Handoko.
"Kamu sendiri kan bilang, kalau keluargamu tidak akan dilibatkan dalam masalah ini", kembali Bu Hellen menatap Aini.
"Iya Mih..., Aini setuju, cari jalan terbaik saja untuk semuanya", senyum Aini.
Lagi-lagi sikap tenang Aini ysng seperti ini, yang membuat terluka hati Putra, dan membuat kesal hati Risma.
__ADS_1
"Sudah..., sekarang kalian istirahatlah dulu, dan kamu Putra, seperti biasa ayo segera ke Kantor, anggap saja tidak ada apa-apa, jangan membuat para klient dan stafmu curiga", perintah Pak Handoko.
"Tapi Pih...", Putra tampak memelas, ia lagi tidak ingin pergi kemana-mana, apalagi setelah mendapati bukti yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya.
"Tidak Nak, kamu tetap harus profesional, bagaimana pun keadaannya", jelaskan Pak Handoko.
"Hah...", Putra menarik nafas panjang, ia melangkah mendekati Aini dan baby Kendra, setelah pamit pada keduanya, Putra pamit kepada kedua orang tuanya juga, tapi tidak dengan Risma.
Putra pergi meninggalkan rumah menuju Kantornya. Dalam hatinya terbersit keinginan untuk memberitahu Mirna soal hal ini.
Putra tahu, Mirna adalah sahabat terdekat Risma, mungkin saja Risma mengetahui hal pribadi Risma, karena biasanya seseorang akan lebih terbuka kepada sahabat dari pada kepada keluarga ataupun kerabat.
"Iya..., aku harus coba bicara terlebih dahulu dengan Mirna", gumam Putra, ia makin memacu cepat mobilnya menuju Kantor.
__ADS_1