Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Mendadak Dilamar


__ADS_3

"Mana uangnya?", Pak Dirman kembali menatap Putra.


Putra melirik Dani dan dengan isyarat ia menyuruh Dani membawa koper yang dibawanya kepada Pak Dirman.


"Ini, silahkan", Dani menyimpan Koper di atas meja.


Dirman segera membuka kopernya, dan tawa pun menggema," Ha ...ha....ha...., jangan bercanda kamu?, mana uangnya?, bilang saja nggak punya, pake gaya-gayaan , ngaku-ngaku punya uang, padahal kere", ejek Dirman.


Putra tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Pak Dirman.


"Lihatlah!, apa kamu sengaja mau mempermainkan aku?", Dirman memperlihatkan koper yang ternyata kosong.


"Mana uangnya?", Putra melihat Dani.


"Tadi sudah dimasukkan ke dalam sana, apa mungkin salah bawa koper?", Dani menepuk kepalanya.


"Ha...ha....ha...., bilang saja nggak punya uang, banyak gaya kamu, jangan harap dengan membebaskan Pak Arman, kamu bisa mendapatkan anaknya Aini", Ejek Aditya.


"Sebentar Pak, ini ada kesalahan, kami minta waktu untuk kembali membawa uangnya", usul Putra.


"Nggak usah, buang-buang waktu saja, sekarang bawa kembali Pak Arman ke dalam", perintah Dirman kepada Bondan.


"Ayah...." ,teriak Aini. Ia merasa tidak tega melihat Bapaknya kembali harus dibawa ke dalam. Arman terlihat pucat, ia pasti ia kedinginan di sana.


Baru beberapa langkah ke dalam, Arman pun roboh, tubuhnya lemas dan menggigil, sontak Aini berteriak memburu ayahnya.


"Tolong, Bapa, bawa bawa ke Dokter!", pinta Aini, ia tampak panik menyaksikan bapaknya jatuh pingsan.


Putra segera mendekat, ia bermaksud memberi pertolongan kepada Pak Arman, namun Bondan menghadangnya, "Diam kamu!, dia masih tanggung jawab kami", cegah Bondan.


"Pak Bos, bagaimana ini?", Bondan menatap Pak Dirman.


"Panggilkan Dokter keluarga ke sini!, perintah Pak Dirman.


Wira tampak menelepon seseorang, dan tak lama terdengar pintu di ketuk.


Seorang laki-laki berpakaian serba putih memasuki ruangan . "Tolong periksa dia!, usahakan dia cepat sadar", perintah Pak Dirman.


"Iya...tuan", dengan cekatan Dokter yang baru datang memeriksa keadaan Pak Arman.

__ADS_1


Terlihat Arman membuka matanya, ia melihat sekeliling. "Aini.....", panggil Pak Arman, ia mencari keberadaan Aini, putrinya.


"Saya di sini Pak, bagaimana keadaan Bapak?, Mana yang sakit?", Aini menghampiri bapaknya. Ia tampak cemas memegangi tangan ayahnya.


"Bapak pasti kedinginan, Bapak sudah makan?", Aini tampak begitu khawatir.


"Bapak tidak apa-apa, kamu pulang saja, kasihan ibumu",perintah Arman .


"Tapi Bapak sedang sakit, Bapak saja yang pulang, biar Aini yang menggantikan Bapak di sini .


"Tolong Pak, biarkan Ayah saya pulang, biar saya yang menggantikan Bapak di sini, kasihan, Bapak sedang sakit", pinta Aini.


"Jangan Aini!", biar Bapak saja yang disini", tolak Arman.


"Jangan, biar saya saja yang menggantikan mereka", Putra menawarkan diri.


"Siapa kamu?, hanya keluarganya Kek Ilham yang boleh menggantikan mereka di sini !", bentak Bondan.


"Tapi Pak Arman sedang sakit, ia harus mendapatkan perawatan, kalau terjadi sesuatu kepada dia, kalian nanti yang akan dimintai tangung jawabnya", jelas Putra.


Aditya, Bondan, Bimo, terlihat saling pandang, mereka membenarkan ucapan Putra.


"Pak, ini kesempatan kita untuk berbuat baik kepada mereka, biarkan saja mereka pulang, ini saatnya kita mencari simpati dari mereka, biar saya bisa mendekati Aini."


"Kalau Aini sudah menjadi milik aku, tanah itu juga bisa menjadi milik Bapak", Aditya bicara dengan Pak Dirman setengah berbisik.


"Ok, Bapak mengerti, sekarang kita biarkan mereka pulang, nanti setelah beberapa hari, kita kembali ke sana untuk menagih simpati", ucap Pak Dirman sama ia bicara setengah berbisik.


"Baiklah, hari ini saya lagi berbaik hati, berhubung Pak Arman sedang sakit, saya ijinkan kalian pulang ", ucap Pak Dirman.


"Alhamdulillah", Aini menghampiri ayahnya dengan senyuman mengembang.


"Terima kasih banyak Pak", Aini melirik ke arah Pak Dirman.


Tanpa pengawalan, mereka semua bisa keluar dari rumah Pak Dirman. Mereka segera membawa Pak Arman dan Aini ke rumah Kakek Ilham.


Kedatangan mereka disambut gembira. Namun Putra merasa ada yang janggal dengan keputusan Pak Dirman.


Selang beberapa hari, rombongan Pak Dirman kembali ke rumah Kakek Ilham. Kali ini mereka datang dengan membawa hantaran beraneka ragam, layaknya sebuah seserahan.

__ADS_1


Kakek Ilham yang tidak menyangka dengan kedatangan mereka, merasa kaget, apalagi mereka datang bersama Pak Danu dan beberapa tetangganya.


"Ada apa ini Kek, lho kok seperti mau ada acara penting", Nek Husna memperhatikan rombongan yang kian mendekati rumahnya.


"Ah mungkin ada tetangga yang hajatan Kek, tapi kok ke rumah ini ya?, salah alamat mungkin?", Celoteh Nek Husna sambil terus memperhatikan rombongan yang kini berada di depan rumahnya.


"Lho..., Kek, ternyata ke sini, ke rumah kita", Nek Husna tampak bingung.


"Assalamu'alaikum", Pak Danu mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam, apa ini tidak salah Pak Danu, seperti rombongan seserahan, mau pada kemana?", tanyai Kek Ilham.


"Iya, attu Kek, ini saya mengantar rombongan Pak Dirman , katanya ada keperluan yang penting sama anak Kakek, Pak arman.


"Arman?, ada, Nek tolong panggil Arman", pinta Kek Ilham kepada Nek Husna.


"Ayo silahkan masuk, sebagian bisa di luar saja, maaf rumahnya tidak muat", sebyum Kek Ilham.


Nek Husna memanggil Arman yang baru sembuh, Arman datang bersama Hana, dan Aini. Mereka juga tidak kalah kagetnya melihat rombongan orang yang sudah memenuhi halaman rumah ayahnya.


"Ada apa ini Kek?, orang-orang ini mau ke mana?",


"Begini, Pak Arman, saya datang kesini mewakili Pak Dirman, ia kesini dengan maksud baik terhadap anak Bapak", ucap Pak Danu.


"Anak saya, Aini maksudnya?, ada apa dengan Aini?",


"Jadi begini Pak, Saya ke sini untuk mewakili Pak Dirman, anak beliau Aditya ingin melamar Aini", ucap Pak Danu.


"Melamar Aini?, kok mendadak?", ada apa ini?",


"Tinggal panggil saja Aini, pasti ia mau menerima lamaran ini, mau nyari apa lagi, jadi menantu orang kaya seperti Pak Dirman itu impian setiap orang, masa Aini tidak mau?, ini kesempatan baik Pak Arman", Pak Danu menatap Pak Arman.


"Kalau saya terserah Aini saja, karena ini menyangkut hidupnya, saya tidak akan memaksa atau menyuruhnya, semua saya serahkan pada Aini saja.


Aini yang sedari tadi menunduk, merasa bimbang, ia memang tidak menyukai Aditya, tapi ia merasa berhutang budi karena kemarin mereka sudah berbuat baik kepada ayahnya saat sakit.


"Bagaimana Aini?, sudah punya jawabannya? Lihatlah Aditya, ia sosok sempurna, kamu tidak akan kekurangan apa pun jika memilihnya, selain itu, ayahmu juga tidak harus menyediakan uang untuk mengganti uangnya Pak Dirman yang kurang, kamu akan menyelamatkan keluargamu", Desak Pak Danu.


Arman melirik Aini, Ia memegang tangan putrinya,"Ikutilah kata hatimu, jangan terpengaruh, keputusanmu hari ini akan menentukan kehidupanmu nanti dan selamanya.

__ADS_1


__ADS_2