Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Sisi lain Aini


__ADS_3

Aini sudah ketakutan melihat perangai Aditya. Ia tidak sanggup melihat pertengkaran mereka, yang ia takutkan Putra terluka dalam pertengkaran itu.


Baku hantam sudah terjadi di antara mereka, saling pukul, saling tinju, dan saling tendang. Putra lebih unggul dalam duel tersebut.


Aditya berkali-kali kena tinju diwajahnya, ia pun meraung kesakitan. Namun bukannya berhenti, ia malah makin bernafsu untuk mengalahkan Putra. Ia bangkit, dan terus menyerang Putra dengan membabi buta, tapi ia jadi cape sendiri, banyak pukulannyacyang salah sasaran.


Sampai akhirnya ia tersungkur diantara kaki teman-temannya. Ia meludah ssmbil terengah-engah",


"Sialan!, berani melawan juga ya!" Ia memberi isyarat dengan gerakan tangannya agar Soni membantunya melawan Putra sedang ia di bantu oleh Bondan dan Bimo untuk berdiri.


"Kenapa masih urusin mereka, tuh kan lihat, kamu sendiri yang celaka", Bondan menggandeng Aditya.


"Kalau Pak Bos tahu, dia bisa marah besar, sudah Den, hentikkan!, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diharapkan", pinta Bimo, ia pun menghampiri Aditya.


"Kalian ini kaya cewe saja, rese, bukannya bantuin, malah ceramahin", sewot Adity.


"Sana bantuin Soni biar cepat mamp*s itu anak!" suruh Aditya kepada Bimo dan Yoseph.


Bimo dan Yoseph saling pandang, mereka ragu untuk menuruti perintah Aditya. "Kalian tuli apa?, cepat bantu Soni!", teriak Aditya begitu melihat Soni berhasil di pukul mundur. Karena diliputi rasa takut, Bimo dan Yoseph menurut saja saat diperintahkan membantu Soni.


Karena melawan Tiga orang sekaligus, Putra mulai kewalahan, ia mulai terdesak . Berkali kali pukulan lawan mendarat di tubuhnya.


Aditya puas melihatnya, ia menyeringai sambil menahan sakit. Kini tangan Putra mulai dipegangi oleh Bondan dan Bimo dan Soni yang memukulinya. Sungguh licik.


Aini menjerit melihat suaminya kini dikungkung oleh tiga orang. Hatinya geram dan sangat marah. Perasaan itulah yang akhirnya membangkitkan keberaniannya, ia marah, benar-benar marah.


Aini keluar dari mobil , ia langsung melayangkan tinju dan tendangannya kepada Soni yang sedang memukuli Putra.


"Kurang ajar...., beraninya keroyokan, kalian semua yang banci, ayo..., kalau berani lawan aku!", dengan berani Aini berhasil membuat Soni tersungkur, ia meringis karena punggung dan bokongnya sakit terkena pukulan dan tendanngan dari Aini.


Dengan sigap Aini pun berhasil melepaskan Putra dari pegangan Bondan dan Bimo, bukan itu saja, Aini dengan telak menendang Bondan dan Bimo.


Mereka tidak menduga dengan kedatangan Aini yang tiba-tiba. Kini Putra berada di tangan Aini. Semua bengong, kaget dengan tindakan Aini yang di luar dugaan.

__ADS_1


"Sayang...., kamu tidak apa-apa?", Putra memeluk Aini, ia kaget, tidak menyangka Aini seberani itu. Padahal tadi ia sangat ketakutan.


"Aku tidak apa-apa, kamu sendiri bagaimana?", Aini memegangi wajah suaminya yang kini terdapat luka lebam akibat pukulan Soni tadi.


Dengan mata yang kembali beringas, Aini kini berbalik kembali ke arah Aditya dan teman-temannya, ia melangkah mendekati mereka.


Semua bengong menatap Aini yang kini berubah , ia nampak berani menyongsong mereka, Aini berdiri dihadapan mereka yang masih terpana.


"Kalian yang tidak punya nyali, tidak punya malu, beraninya cuma rame-rame, dan kamu ya, A-d-i-t-y-a..., kamu sudah kalah telak, tidak salah aku menolakmu, karena memang kamu itu pecundang.


Beraninya kamu melukai suamiku. Ingat!!, mulai sekarang jangan ganggu aku dan suamiku, jika kalian tidak mau lebih parah dari ini, paham!!, dan sekarang....kalian semua pergi...!, pergi dari sini..., cepat....!!",teriak Aini ia melotot sambil bertolak pinggang .


Seperti terhipnotis, Aditya dan teman-temannya bangkit, ia mulai menghidupkan kembali kendaraannya dan satu per satu meninggalkan Aini.


Aini masih terpaku ditempatnya, ia merasa lemas, ia pun bersimpuh di jalanan, dan tangisnya pun pecah, ia sendiri tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya, tadi ia membuang semua rasa takutnya karena tidak tega melihat suaminya dianiaya di depan matanya.


Dengan tertatih Putra berjalan di bantu Pak sopir yang juga keluar.


"Aini sayang..., kamu tidak apa-apa?, terima kasih sudah membantu", Putra memegangi kedua pundak Aini dari belakang.


"Maaf..., maafkan aku, ini semua gara-gara aku, Aditya menyakitimu gara-gara aku", isak Aini.


"Sudah..., kamu tidak salah, aku yang berterima kasih karena kamu sudah berani melawan mereka, kamu pemberani", Putra mengecup pucuk kepala Aini.


"Ngomong-ngomong, dari mana kamu belajar bela diri, aku baru tahu, kalau istri cantikku ini pintar bela diri", senyum Putra. Ia mengusap air mata di pipi Aini, dan mengecupnya.


"Hmm...hmm....", Pak sopir berdehem.


Aini dan Putra tersenyum meliriknya.


"Sudah, kita lanjutkan perjalananya", ajak Putra. Ia menggandeng Aini menuju mobil.


"Ada apa Pak?", beberapa pengendara yang lewat bertanya.

__ADS_1


"Tidak..., tidak ada apa-apa",senyum Putra.


"Bismillah...., semoga lancar sampai ke rumah", gumam Pak Sopir.


"Aamiin", Aini dan Putra mengamini.


"Bapak salut Neng, tadi berani melawan mereka, Bapak saja takut, jadi malu", kekeh Pakn Sopir.


"Itu tadi refleks saja Pak, karena saya marah melihat suami di aniaya, jadi kemarahan saya itu menghilangkan ketakutan di hati saya, jadibyang ada berani saja, padahal saya bisa bela diri Pak", senyum Aini.


"Terus tadi kok bisa memukul dan menendang sih", kekeh Putra.


"Iya kan, aku bisa cuma mukul dan menendang saja", kekeh Aini.


"Tapi nggak kok, tadi semua terjadi karena ada kekuatan cinta, jadi ketakutanku berubah menjadi berani, karena aku tidak ingin laki-laki yang aku cintai terluka dan menderita", tatap Aini.


Aini menatap suaminya yang tersenyum sambil meringis, ia pasti merasa sakit di badannya akibat pukulan dan tendangan dari lawannya tadi.


"Pak..., kita mampir dulu ke Klinik ya, cari saja Klinik terdekat, kita obati dulu suami saya", pinta Aini. Ia melirik ke sisi kiri kanan jalan mencari keberadaan Klinik kesehatan.


Aini tidak tega melihat suaminya kesakitan.


Tak lama mobil menepi ke sebuah Klinik, Pak Sopir cepat-cepat membukakan pintu untuk Putra dan Aini. Dan segera membawa Putra ke dalam untuk mendapatkan beberapa pemeriksaan atas luka-luka yang didapatnya.


Alhasil, Putra mendapatkan beberapa balutan perban di tangan dan pelipisnya, juga mendapatkan beberapa obat untuk diminum.


Setelah selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kini Putra yang tertidur setelah tadi meminum beberapa obat. Aini yang kini berusaha untuk tetap terjaga, ia menopang kepala suaminya dengan pundaknya. Ia tidak ingin terlelap, ia ingin menjaga tidur suaminya tetap lelap . Ia khawatir kejadian tadi bakal terjadi lagi.


"Bapak iri melihat kalian, kalian pasangan yang serasi, jaga baik-baik anugerah cinta kalian, kalau bisa jangan sampai terpisahkan kecuali dengan maut saja",


"Iya Pak, terima kasih", senyum Aini.


"Dan semoga bisa kembali dipertemukan kembali di surga-Nya", senyum Aini.

__ADS_1


"Aamiin Neng", Pak Sopir melirik Putra dan Aini lewat spion belakang.


__ADS_2