Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Jangan Bicara


__ADS_3

Hari ini Aini tampak senang, karena untuk yang pertama kalinya setelah menikah, ia pulang kampung.


Apalagi kepulangannya saat ini untuk mengadakan syukuran empat bulanan kehamilannya.


Walau Aini masih sedikit terganggu oleh ulah Risma kemarin, tetapi Aini mempunyai keyakinan kalau berita yang di bawa Risma itu belum tentu benar.


Bisa saja Risma hanya mengada-ada ,untuk merusak kehidupan rumah tangganya dengan Putra yang belum lama di bina


Sampai hari ini, Aini tidak memberitahu siapa pun, kecuali Putra. Bahkan Aini tidak ingin kalau berita itu sampai di telinga orang tuanya.


"Semua sudah siap?, periksa lagi saja, siapa tahu ada yang kelewat",'Putra melirik Aini.


Aini coba mengecek kembali barang-barang yang akan mereka bawa ke kampung.


"Iya..., sepertinya sudah cukup, kita kan cuma beberapa hari saja di sana, setelah itu, kita akan segera balik ke sini lagi", Aini menarik nafas dalam, seolah ingin menghempaskan beban berat didadanya.

__ADS_1


"Mas, jangan bicarakan masalah Risma dengan Bapak dan Ibu, mereka bisa sedih mendengarnya",


"Biarkan ini menjadi urusan kita berdua, ini urusan rumah tangga kita, jangan libatkan mereka dalam hal ini",Aini menatap Putra.


"Aku minta maaf untuk masalah ini, kamu pasti merasa terganggu, tapi percayalah, itu semua hanya rekayasa", Putra menatap Aini dan memegangi tangannya.


"Iya..., aku hanya fokus pada bayi kita kok, apa pun yang terjadi, aku akan menutup mata dan telinga, tujuan aku hanyalah anak ini, biarkan dia tumbuh dalam lingkungan yang bahagia, aku akan bertahan hanya untuk dia", Aini menunduk.


"Jangan bicara begitu, itu justru akan membuatku makin merasa bersalah, percayalah!, aku akan segera mengungkap kebenaran di balik semua ini", tegaskan Putra.


Putra menggandeng tangan Aini menuruni tangga, mereka menuju lantai bawah. Di sana Bu Arimbi sudah siap, sedari tadi ia menunggu mereka di sana.


"Sudah siap?, nanti Papih menyusul ke sana, Papih masih diperjalanan", kabari Bu Hellen.


"Iya, Mih, kita sudah siap, maaf Mamih jadi lama menunggu", senyum Aini.

__ADS_1


"Bi, kami berangkat dulu, jaga rumah baik-baik, kalau ada tamu yang tidak di kenal, jangan di suruh masuk", pesan Bu Hellen.


"Baik Nyonya",rengkuh Bi Surti.


Bi Surti mengantar Bu Hellen sampai depan mobil, setelah semua siap, Putra melajukan mobilnya ke luar gerbang . Tidak lupa Bu Hellen juga berpesan kepada Pak Karman untuk tidak memasukkan orang sembarangan,


Mobil Putra melaju perlahan, seharusnya ini menjadi perjalanan yang menyenangkan, karena mereka akan bertemu dengan orang yang mereka sayangi.


Sudah lama sejak menikah, Aini juga belum bertemu dengan Abah dan Nek Husna. Aini sudah kangen dengan suasana di tempat tinggalnya.


Aini merindukan suara cicit burung di pagi pagi, Aini merindukan suara gemericik air dari pancuran. Aini merindukan masakan Nek Husna.


Sepanjang jalan mereka semua diam, Aini terus memandangi ke arah luar. Ada rasa senang dan rasa sedih yang bercampur . Ia senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan Abah dan Nek Husna.


Tetapi Aini pun merasa sedih, ia takut apa ysng diceritakan Risma itu benar adanya.

__ADS_1


'Bagaimana jika kabar itu benar,?, apa yang harus aku lakukan?", Aini menerawang.


__ADS_2