Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Keluguan Aini


__ADS_3

Pak Dirman beserta rombongan meninggalkan rumah Kakek Ilham. Mereka merasa malu, karena jati dirinya sudah ketahuan oleh warga.


Sementara di rumah Kakek Ilham masih berlangsung acara lamaran. Putra melamar Aini.


Arman senang ternyata Putra bukan anak orang sembarangan, ia seorang anak Pengusaha kontraktor dari Kota yang sering menangani proyek-proyek raksasa milik Pemerintah.


Tapi walaupun begitu, ia tidak memandang status sosial, ia tidak membeda-bedakan kelas


sosial, buktinya ia dengan senang hati melamarkan Aini untuk Putranya.


Arman mendukung Aini yang menerima lamaran Putra. Walau Aini baru beberapa bulan lagi lulus SMA, tapi itu tidak masalah bagi mereka.


Teman sebaya Aini hampir semuanya sudah menikah, bagi warga Desa, menikahkan anak gadisnya yang masih belia merupakan suatu kebanggaan, karena artinya anaknya disukai orang . Berbeda bila memiliki anak gadis yang belum juga menikah, mereka akan dinilai sebagai perawan tua.


Pagi ini Aini masih harus pergi ke Sekolah, Arman sudah mamanaskan sepeda motornya untuk mengantar Aini. Tetapi tanpa di duga, Putra sudah datang dengan mengendarai mobil.


"Pak, mulai sekarang, biar saya yang mengantar dan menjemput Aini, Bapak silahkan saja melanjutkan pekerjaan Bapak", Ucap Putra begitu ada dihadapan Arman.


"Aduh, jadi merepotkan, padahal Bapak juga masih ada waktu senggang untuk mengantar Aini", Arman tersenyum.


"Saya minta ijin, mulai sekarang, biar saya saja yang mengantar dan menjemput Aini", ucap Putra dengan rengkuh.


"Silahkan saja kalau tidak merepotkan Nak Putra",


"Iya Pak, terima kasih, saya akan menjaga Aini dengan baik", senyum Putra.


Tapi Nak Putra harus tahu, Aini itu tidak suka naik mobil, ia suka pusing kalau naik mobil, suka mabuk kendaraan", senyum Arman.


"Iya pelan-pelan saja Pak, sekalian latihan, kalau sering naik mobil, lama-lama bisa terbiasa",


Aini yang sudah siap dengan seragam sekolahnya, sedikit kaget begitu melihat Putra sudah ada di halaman rumahnya.


"Aini, sudah siap?, sekarang di antarnya sama saya saja", senyum Putra.


Ia memandangi Aini, sepertinya ia makin terlihat cantik walau tanpa polesan apa pun.

__ADS_1


"Aini kurang nyaman kalau naik mobil, suka cepat pusing, Aini takut mabuk di jalan", Aini tersipu.


"Nggak apa-apa, pelan-pelan saja, biar terbiasa, saya akan perlahan mengendarainya", Putra meyakinkan Aini.


"Maaf ya Nak Putra, Aini itu memang tidak terbiasa naik mobil, dia lebih memilih jalan kaki dari pada naik mobil", senyum Arman.


"Ya, kita coba saja dulu, ini akan terasa sulit, karena ini baru pertama, tapi nggak apa-apa Yah, masa nanti kalau sudah di kota , tidak bisa naik mobil", Putra menatap Aini dengan senyuman.


"Ya, sudah, kalau begitu Aini pergi dulu Pak" , Aini pamit bersalaman dengan Arman dan Hana yang baru saja keluar.


"Hati-hati Nak", Hana mengantar Aini sampai depan mobil yang di bawa Putra.


Pemandangan itu menjadi tontonan sebagian warga yang akan pergi ke sawah dan ladang.


Mereka ada yang tersenyum bahagia, ada juga yang merasa tidak suka.


Dengan memejamkan mata, Aini masuk ke dalan mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Putra. Ia duduk disamping Putra yang mengendalikan kemudi.


Putra melirik Aini yang mulai resah saat ia mulai melajukan mobilnya.


Awalnya Aini terlihat tidak nyaman, tapi setelah mengikuti anjuran dari Putra, ia mulai bisa menikmati perjalanannya.


"Ini berbeda ya, rasanya adem, berbeda dengan saat naik angkot", senyum Aini .


"Kalau naik angkot, belum apa-apa, sudah panas dan pusing, melaju sebentar saja langsung mau muntah, ini mah berbeda ya, wangi dan adem, apa karena ada Ac nya ya?", celoteh Aini.


Putra hanya mengulum senyum mendengar semua ocehan Aini, jelas saja berbeda, ini mobil bagus, full Ac, pasti nyaman.


"Yang mana sekolahnya?", tanya Putra.


"Itu di depan ada belokkan, di pinggirnya sebelah kiri", jelas Aini.


Benar saja di depan sana terlihat ada kerumunan anak sekolah dan para pedagang.


Mata mereka langsung tertuju pada mobil yang dinaiki Aini. Apalagi begitu melihat Putra yang lebih dulu turun, kehebohan terjadi di sana, terdengar jeritan para anak perempuan, mereka terpesona oleh Putra.

__ADS_1


Namun seketika mereka diam begitu Aini keluar dari pintu yang dibukakan oleh Putra. Teman-teman Aini langsung saling berbisik, ini kali pertama Aini di antar oleh Putra ke Sekolah, biasanya dia di antar oleh Arman, atau kadang hanya naik angkot saja.


"Sudah, sampai sini saja", pinta Aini saat Putra akan mengantarnya ke dalam .


"Nanti pulangnya saya tunggu lagindi sini ya", senyum Putra.


Aini membalas senyuman Putra " Iya, terima kasih, saya masuk dulu", Aini berlalu menuju kelasnya, meninggalkan Putra yang masih memandanginya hingga menghilang di ujung lorong.


Aini memang tife orang yang tidak begitu menyukai keramaian dan tudak suka sekedar ngumpul bersama teman-temannya, begitu nyampai ke Sekolah, ia suka langsung masuk kelas, menunggu pelajaran di mulai.


Ia ke luar kelas jika memang perlu saja, ke Kantin, ke kamar kecil, atau ke Perpustakaan. Ia memang agak pemalu.


Makanya tidak banyak teman yang akrab dengannya, karena mereka menilai Aini sebagai sosok yang tidak asik untuk diajak bergaul.


Tetapi demikian, Aini sebenarnya sosok yang mudah bergaul, kalau temannya dirasa sesuai dengan kepribadiannya.


Apalagi ia seorang yang pintar, jadi banyak didekati oleh teman-temannya. Intinya Aini banyak dicari oleh temannya, bukan mencari teman.


Setelah mengantar Aini, Putra sengaja menunggu di Sekolah, ia tidak langsung pug.


Sengaja itu dilakukannya untuk lebih mengenal lingkungan sekolah Aini.


Penampilan Putra dengan sebuah mobil di Sekolah, menjadi pusat perhatian, mereka mengira kalau Putra itu tamu Sekolah atau guru baru yang lagi PPL.


Kehebohan seketika terjadi saat para siswi mengetahui kehadiran Putra. Putra yang sengaja memesan makanan di sana, memilih duduk di jok depan dengan membuka pintu mobilnya.


"Alah ma, itu cowo ganteng ngapain nongkrong di sini?, apa ia guru baru?, bisa tambah semangat nih kalau gurunya sekeren itu", celoteh Mirna saat hendak memasuki gerbang Sekolah.


"Wow, kayaknya doi akan menjadi target selanjutnya nih", Aliya menyikut pundak Mirna.


"Apa sih yang gue nggak bisa, lihat saja nanti, sayang kita datangnya telat, kalau tahu mau ada cowo ganteng itu, mungkin tadi kita berangkat lebih awal", Mirna merasa kesal karena begitu nyampai gerbang Sekolah, bel masuk sudah berbunyi.


"Tenang aja lah Mir, kalau jodoh nggak akan kemana, dia juga pasti akan klepek-klepek kalau loe deketin", kompori Sinta.


Mirna, Aliya, dan Sinta adalah teman sekelasnya Aini. Mereka anak -anak dari orang tua Pengusaha sukses di Kota.

__ADS_1


__ADS_2