Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Aku Pamit


__ADS_3

Malam ini Aini tidak bisa tidur dengan tenang, ia terus kepikiran suaminya, besok mereka akan berpisah . Walau sudah mengetahui tujuannya, namun tetap saja hatinya merasa was-was.


Ini adalah untuk pertama kalinya mereka akan berjauhan, apalagi sekarang Aini sedang hamil muda, emosinya sering tidak terduga, kadang senang, sebentar sedih , mungkin ini dipengaruhi oleh hormon yang tidak stabil selama kehamilannya.


Semalaman ia hanya memandangi wajah suaminya yang lelap tidur, seolah takut tidak bisa memandanginya lagi.


Sampai pagi menjelang, ia baru bisa memejamkan matanya. Putra menyadari kalau semalam istrinya gelisah, ia pandangi wajah teduhnya yang menyiratkan kekhawatiran.


"Tenang sayang, aku akan segera kembali , untuk kita dan calon bayi kita",


"Ini adalah tantangan bagi kita, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua, sudah tidak pantas kita selalu meminta hak, sekarang saatnya kita punya kewajiban, terutama aku, saat ini aku yang wajib membuat hidup kalian bahagia, bukan Bapak dan ibumu, bukan Mamih dan Papih, jadi biarkan aku bekerja", ucap Putra sambil membelai tangan istrinya yang masih terlelap.


Sebentar lagi adzan subuh berkumandang, Putra tidak tega membangunkan Aini. Tapi tidak enak juga kalau shalat sendirian, dan berangkat tanpa pamit dulu kepada Aini.


Sampai kumandang adzan subuh bergema dari Masjid, Aini belum juga bangun. Putra memutuskan untuk shalat sendiri saja.


"Tunggu Mas, ini jam berapa?", terdengar suara Aini.


"Kok aku tidak dibangunin", Aini cemberut di atas tempat tidur.


"Maaf, aku tidak tega membangunkanmu tadi", senyum Putra.


"Ayo, aku tunggu!, kita shalat berjamaah", Putra menghampiri Aini yang sedang berjalan menuju kamar mandi.


"Hatu-hati",Putra menunggu Aini di pintu kamar Mandi.


"Sudah Mas, perlakukan aku wajar saja, biar aku nanti terbiasa saat jauh dari kamu", Aini menolak saat Putra akan menuntunnya.


"Ya, mumpung aku masih ada di sini, aku ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk kamu, istriku, calon Ibu dari anakku", senyum Putra.


Aini melengos, ada rasa sakit dihatinya, begitu ingat besok ia akan sendiri tanpa kehadiran suaminya.


Mereka shalat subuh berjamaah, dalam shalatnya Aini memohon agar suaminya dilancarkkan semua urusannya agar segera cepat kembali bersamanya lagi.


"Semua sudah siap Mas?, tidak ada yang tertinggal?", Aini memandang suaminya begitu selesai shalat.

__ADS_1


"Sepertinya sudah, aku cuma membawa beberapa stel baju ganti saja, semoga besok juga bisa kembali lagi", senyum Putra.


"Aamiin...", Aini memeluk suaminya yang sudah bersiap untuk pergi. Mereka berjalan menuju ruang makan.


"Sarapan dulu, kalau perlu bawa sekalian buat di jalan", perintah Bu Hellen.


Ia pun sama mengkhawatirnya anaknya, namun harus bagaimana lagi ini adalah proses menuju kedewasaan dan kesuksesan bagi anak tunggalnya itu


Setelah sarapan , Putra pamit kepada semua keluarganya. Mereka mengantar sampai ke halaman. Putra agak lama memeluk istri dan menyentuh calon bayi mereka yang masih berada di perut.


"Baik-baik kalian berdua ya, tunggu Ayah pulang", Putra mengecup kening Aini. Ia pun memeluk ibunya, dan pamit juga kepada kedua orang tua Aini.


"Saya pergi, titip Aini ya Bu, do'akan urusannya cepat selesai, biar saya bisa segera pulang", Putra mencium punggung tangan Bu Hana .


"Iya, tenang saja, Aini ada Ibu, ada Bapak, ada Mamih jug, kamu fokus sama kerjaan kamu saja", senyum Bu Hana, ia mengusap lembut kepala menantunya itu.


Setelah itu, Putra pergi dengan mobilnya, diiringi do'a dari semua orang yang mencintainya.


Setibanya di Kantor, Putra langsung menuju ruangannya, hari ini ada bimbingan singkat dari Pak Hambali sebelum dirinya berangkat.


"Risma yang akan menemanimu ke Bogor", kabari Pak Hambali.


"Oh iya Pak, baik", ucap Putra datar.


Setelah mendapat beberapa pembekalan, Putra di antar Pak Hambali menuju parkira, diikuti Risma, yang nampak senang akan menemani Bos mudanya .


Segudang rencana sudah ia reka, untuk bisa membuat Putra menjadikan dirinya, satu-satunya wanita dalam hidupnya dan menggantikan posisi Aini.


Putra ditemani oleh Pak Mul, sopir di kantornya.


Sepanjang jalan tidak ada percakapan apa pun. Putra fokus ke laptop, mempelajari beberapa berkas untuk persiapan meeting besok.


Risma terus saja mencuri pandang ke arah Bos mudanya itu. 'Akhirnya kita bisa pergi berdua juga Pak Bos, kita akan banyak mempunyai kesempatan untuk berdua, masa kamu masih akan setia ?', pikir Risma.


Sesekali Risma membalas chat dari Aditya, yang sedang memantau gerak-geriknya.

__ADS_1


Sekitar beberapa puluh meter di belakang mobil yang dikendarai Pak Mul, Aditya mengikutinya. Ia sudah mendapat share loc dari Risma.


Sehingga sudah bisa dipastikan kalau ia akan kembali mengacaukan kehidupan Putra dengan rencananya .


Setelah beberapa lama berkendara, Pak Mul menepikan mobilnya di sebuah Hotel. Di sinilah Putra dsn Risma akan menginap selama di Bogor.


Ada tiga kamar yang sudah di pesan pihak Kantor, untuk Putra, untuk Aditya dan 1 untuk Pak Mul.


Ada satu kamar lagi yang sudah dipesan oleh Aditya, untuk bisa mengawasi Putra.


"Oke, hari ini kita istirahat dulu, besok pagi , baru bkita meeting dengan klient", ucap Putra begitu sampai di depan pintu kamar hotelnya.


"Baik Pak", Risma mengangguk, ia lebih dulu membuka pintu kamar hotel dan segera memasukinya.


Setelah Putra, Risma dan Pak Mul masuk ke kamar masing-masing, datanglah Aditya. Ia juga menginap di hotel yang sama.


"Putra segera menyiapkan semua materi untuk meeting besok, ia ingin segera menyelesaikan semuanya, agar bisa cepat pulang.


Putra juga ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk orang tuanya, ia ingin membukti kan kalau dirinya mampu dan bisa diandalkan dalam mengelola perusahaan.


Malam ini rasanya Putra tidur lelap sekali, mungkin karena cape selama di perjalanan dan karena terus menerus menyiapkan materi untuk meeting esok hari.


Hingga ia lupa mengabari Aini kalau dirinya sudah sampai dengan selamat di Bogor.


Berbeda dengan Risma, malam itu ia tidak bisa tidur, ia gelisah tiap kali memejamkan mata, kelebatan sosok Putra terus mengganggunya.


Hatinya sering kali bergejolak begitu mengingat kini ia sedang berdua dengan bosnya, di tempat yang jauh dari orang-orang yang dicintainya.


Ini akan membuka lebar kesempatannya untuk mendekati, atau bahkan merebut Putra dari orang yang dicintainya.


Sementara Aditya sedang menyusun rencana, ia sudah menyuntikkan beberapa gram cairan ke botol-botol minuman yang sudah disiapkannya.


Minuman itu yang akan diberikan kepada Putra .


"Dengan ini, Kamu akan kehilangan Aini untuk selamanya', seringai Aditya. Ia yang akan menjadi sutradaranya kini.

__ADS_1


Entah apa yang akan direncanakan Aditya besok.


__ADS_2