Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Menyelamatkan Aini


__ADS_3

"Apa?, Aini hilang?, Gusti .....bagaimana ini Kek?",lirih Nek Husna. "Kita harus lapor polisi, biar bisa cepat ditemukan, ayo Man, laporkan Polisi saja!, kasihan Aini, Nenek takut terjadi apa-apa dengan Aini", Nek Husna memandang Arman.


"Begini Pak, Bu, Nenek dan Kakek tenang dulu, kita jangan panik, Aini lagi dicari, kita tunggu kabar dari Putra saja", terang Bu Hellen.


"Apa mungkin Aini diculik Pah?", Mirna memandang Pak Purnawan.


"Diculik?, siapa yang menculik Aini?, untuk apa?", Pak Purnawan balik memandang Mirna.


"Eh...., Mirna baru menduga saja, karena tidak mungkin kalau tersesat, kalau tersesat, pasti Aini masih berada di sekitar lokasi Study tour, tapi kalau diculik?, pasti Aini sudah jauh dari lokasi awal ,karena Penculiknya pasti sudah membawa Aini pergi", terang Mirna.


"Benar juga, jadi ada dua kemungkinan, Aini hilang karena tersesat, atau ada yang menculik", jelas Bu Hellan.


"Kalau cuma tersesat, mungkin akan lebih cepat ditemukan, tetapi kalau diculik, kita harus tahu dulu siapa Penculiknya, sehingga kita bisa memprediksi kemana Aini dibawa", Pak Handoko memprediksi.


"Iya ..., benar itu", Pak Arman manggut-manggut.


Diam-diam Mirna mengirim pesan kepada Aditya.


Ia ingin meyakinkan kecurigaannya. [Halo Dit, sekarang kamu di mana?, aku ada perlu nih],


Lama Pesannya tidak dibalas juga, Mirna akhirnya misscall nomer Aditya. Sama tidak ada respon.


'Huh, kemana ini orang' , pikir Mirna.


*****


Aini baru siuman dari pingsannya, ia mengerjap-ngerjapkan matanya, kepalanya terasa pusing, tubuhnya lemas. Ia dapati dirinya berada di sebuah kamar.


Aini terperanjat, Ya Allah, dimana ini?, Aini berusaha untuk duduk, walau kepalanya terasa pening, ia kembali melihat sekeliling. 'Ini dimana?, kenapa aku bisa berada di sini?", Aini nampak sedang mengingat.


"Aku kan tadi ada di kebun teh, kenapa ada di sini, mana tas dan ponsel aku?", Aini melirik ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan tasnya. Namun tidak ada.


Aini akhirnya duduk di atas tempat tidur , dia berusaha bersikap tenang, 'Tadi rasanya ada seseorang yang menyekap wajah aku, lalu ...., apa orang itu yang membawaku ke sini?', pikir Aini.


Belum hilang kepanikan di dalam hatinya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekati ruangannya. Aini kembali merebahkan tubuhnya, ia pura-pura terpejam.


Suara pintu terbuka jelas di telinganya, Aini berusaha menekan rasa takutnya, batinnya menjerit meminta perlindungan kepada Allah SWT.

__ADS_1


"Lama sekali pingsannya, apa obatnya terlalu banyak", terdengar suara lelaki di sampingnya.


Ia mengusap pipi Aini, dan memegang tangan Aini. Hampir saja Aini lupa, ia hampir mau menepis tangan laki-laki yang ada disampingnya, tapi ia keburu menyadari, kalau dirinya sedang berpura-pura.


"Apa perlu dipanggilkan Dokter?, tapi nanti bisa curiga", gumam Aditya. "Aku ambilkan air hangat dulu", Aditya kembali meninggalkan Aini.


Saat Aditya berbalik dan berjalan menuju pintu, Aini memicingkan matanya, ingin tahu siapa orang yang membawanya ke sini.


"Hah..., itu seperti Aditya, jaketnya aku kenal, apa dia yang membawaku ke sini?, kenapa?", lirih Aini.


Tak lama terdengar kembali langkah kaki menuju ke ruangan Aini. "Sayang..., bangun dong, lihat kita cuma berdua di sini, kamu akan menjadi milikku malam ini", Aditya duduk di samping Aini, ia hendak menyentuh kembali wajah Aini, namun di luar dugaan Aini kini menepis tangan Aditya.


"Jangan sentuh!", teriak Aini.


Sontak Aditya terperanjat kaget, ia tidak menduga dengan tindakan Aini.


"Berani-beraninya kamu membawa aku ke sini, kamu sengaja menculik aku?", tuduh Aini.


"Ha...ha....ha...,kamu sudah menolak aku, kamu tidak sadar sudah membuat aku malu, kamu sudah merendahkan aku di depan orang banyak, kamu sadar tidak?!", bentak Aditya.


"Dasar Pecundang, beraninya main belakang", cibir Aini.


"Aku akan membuat Putra malu, karena pengantinnya hilang, aku akan membuat Putra kecewa karena pengantinnya sudah ternoda,ha....ha....ha....", Aditya tertawa.


"Jangan berani sentuh aku!", Aini melotot, pandangannya dipenuhi kebencian.


"Tok....tok ..tok.....", suara pintu di ketuk.


"Masuk!", teriak Aditya.


Bondan masuk dengan membawa dua gelas susu hangat. "Den ini susunya, yang ini buat Den Aditya sudah ditambahin madu biar kuat", senyum Bondan.


"Tetima kasih, Adity nampak langsung mengambil dan meminum susunya. Sedangkan Bondan kembali meninggalkan kamar dan menutup pintunya.


"Ini untuk kamu, minumlah!", perintah Aditya, ia memberikan gelas yang satunya kepada Aini. Namun Aini menepisnya hingga gelas itu jatuh di atas kasur dan membasahinya.


"Kamu ya..., nggak bisa diajak baik-baik, mau main kasar?", bentak Aditya, ia mendekati Aini dengan pandangan sayunya, Aini ketakutan, ia mundur sampai ke ujung tempat tidur, kini ia terpojok di sana dengan memeluk kedua lututnya.

__ADS_1


Aditya makin mendekat....dekat...dan makin dekat, kini ia sudah berhadapan. Tubuh Aditya tepan di depan Aini, Aini sudah ketakutan setengah mati, ia mulai terisak, tubuh Aditya menyentuh lututnya, Aini menghindar, dan tubuh Aditya pun tersungkur di tempat Aini duduk tadi, ia tertidur pulas, suara dengkurannya pun jelas terdengar oleh Aini.


"Alhamdulillah", Aini merasa lega sekaligus bingung, kenapa Aditya sampai ketiduran seperti itu.


Ia bergegas menuju kamar mandi, ia berniat untuk membersihkan diri, kebetulan ia sedang tidak shalat, karena ia sedang mendapatkan siklus haid nya.


Aini mencari keberadaan tasnya untuk menggambil pembalut ganti, untung saja ia mendapati tasnya tergeletak di sofa yang ada di dalam kamar itu, namun tetap ponselnya tidak ia temukan, sehingga ia tidak bisa menghubungi Putra .


"Ini ada roti, mungkin bisa di makan?", Bondan sudah ada di dalam kamar saat Aini ke luar dari kamar mandi.


Aini malah berdiri mematung, "Ambil saja, ini aman!", Bondan menyodorkan roti kepada Aini.


"Jangan takut, Aditya, sudah saya beri obat tidur, besok siang mungkin baru sadar",terang Bondan.


"Kenapa?", Aini menatap Bondan. "Kenapa kamu malah menolong ", Aini mencoba melangkah menuju sofa dan duduk di sana, sementara Bondan duduk di samping Aditya yang tertidur pulas.


"Karena ini perintah dari Pak Bos, Pak Dirman, ia tidak ingin Aditya, anak satu-satunya terjerat masalah dan berurusan dengan hukum", terang Bondan.


"Kalau begitu, mana ponsel aku", Aini menadahkan telapak tangannya.


"Ponsel, coba cari di tasmu, aku tidak memegang ponsel kamu",


"Sudah, dari tadi aku cari, tapi tidak ada",


"Hmm..., mungkin Aditya", Bondan menghampiri Aditya, dengan hati-hati ia mencari ponsel Aini di saku jaket Aditya.


"Ups....", Bondan merunduk, saat Aditya tiba-tiba membalikkan badan.


"Aduh...., dimana ya", Bondan kembali berdiri setelah tahu Aditya hanya mengigau saja. Ia kembali mencari ponsel Aini. Dan setelah susah payah, dan dengan exstra hati-hati, Bondan berhasil menelentangkan tubuh Aditya.


Dan benar saja, ponsel Aini ada di saku jaket Aditya , sayang, ponselnya mati, karena dari kemarin berada di sana.


Aini belum bisa menghubungi siapa pun, ponselnya mati, tapi ia masih bisa mengingat nomer ponsel Putra.


"Boleh pinjam ponsel kamu?" , Aini memelas kepada Bondan.


"Ini pakai saja", Bondan memberikan ponselnya kepada Aini.

__ADS_1


"Terima kasih, aku akan selalu mengingat kebaikanmu ini", senyum Aini.


Tanpa menunggu lama, Aini langsung share lok kepada Putra dan mengirim pesan singkat ,[Tolong, Aini ada di sini].


__ADS_2