
Yoseph melajukan mobilnya perlahan mendekati Aini yang tidak menyadari kehadirannya, Aini tampak asik dengan ponselnya.
Aini sedang berbalas chat dengan Putra yang mengabarkan akan menemui Kepala Sekolah sepulang sekolah.
Aini di minta menunggu di Kantin saja. Saat mobil yang ditumpangi Aditya sudah berada di depannya dan Aditya bermaksud keluar dari mobilnya, Aini pun beranjak dari tempat duduknya dan segera berjalan kembali ke dalam sekolahnya.
Aditya melengos saat turun dari mobil, Aini sudah berjalan jauh ke dalam dan menghilang di ujung lorong.
"Sial, lolos lagi dia", gerutu Aditya, dia memukul bodi mobilnya kesal. Sementara Yoseph merasa lega, dia tidak ingin Aini celaka.
"Melaju ke depan, kita tunggu lagi di sana", perintah Aditya dengan nada kesal. Yoseph menurut saja. Mobilnya melaju kembali ke tempat yang ditunjuk Aditya.
Mereka kembali menunggu Aini, tetapi Aini tidak muncul juga. Yang terakhir ada sebuah mobil keluar dari Sekolah, Aditya pikir itu mobil Guru dari sekolah tersebut.
Padahal itu mobilnya Putra yang didalamnya ada Aini.
"Kemana dia?, sudah hampir satu jam tidak keluar lagi",
"Coba tanya ke Penjaga Sekolahnya, apa masih ada siswa di dalam?", perintah Aditya.
Yoseph menurut, lalu dia keluar dan menghampiri Penjaga sekolah yang sedang beres-beres, dan mau mengunci gerbang.
"Maaf Pak, apa masih ada kegiatan di dalam?", tanyai Yoseph.
"Tidak ada, semua siswa sudah pulang semua", jawabnya.
"Oh..., terima kasih Pak", rengkuh Yoseph, ia kembali ke mobil.
"Sudah pulang semua katanya, di dalam sudah tidak ada siswa lagi", Yoseph memandang Aditya yang tampak kesal.
"Kemana dia!, dari tadi tidak terlihat keluar lagi, ya sudah, kita pergi saja, buang-buang waktu saja",
Yoseph kembali duduk di belakang kemudi, ia meluncur kembali menuju rumah.
Hari ini Putra berniat membawa Aini ke rumahnya, ia sudah mendapat ijin dari Pak Arman dan Bu Hana.
Mobil Putra memasuki sebuah rumah mewah yang besar, dengan halaman yang luas, Aini sampai sampai tidak berkedip menyaksikan kemegahan rumah yang kini ada di hadapannya.
"Ayo turun", Putra mengagetkan Aini.
__ADS_1
"Ini...rumahnya?", Aini masih duduk terdiam di dalam mobil
"Iya, kita sudah sampai, ayo masuk!", kembali Putra mengajak Aini masuk.
Aini pun keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Putra. Putra membuka pintu rumahnya, dan begitu di buka, tampaklah kemewahan dari semua furniture yang ada didalamnya.
"Duduk sini dulu ya!", Putra menunjuk kursi mewah di ruang tamunya. Aini menurut, ia duduk di sana dengan menunduk. Ia merasa malu, sungguh jauh berbeda antara dirinya dan Putra.
Dari rumahnya saja, bisa di lihat, Aini jadi merasa kecil dihadapan Putra. Tak lama Putra datang bersama seorang Ibu yang terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Mah, ini Aini", perkenalkan Putra. Aini tersenyum dan menyalami Mamahnya Putra.
"Assalamu'alaikum", Aini memberikan salam, dan dijawab ramah oleh Bu Hellen. Aini merasa lega, ternyata Mamahnya Putra bersikap baik pada dirinya.
"Aini masih sekolah ? masih pake seragam", Bu Hellen memperhatikan penampilan Aini.
"Iya Mah, tadi Putra langsung membawanya ke sini, tidak sempat pulang dulu", kekeh Putra.
"Nanti kalau mau main ke sini, pulang dulu, jangan pake seragam seperti ini", protes Bu Hellen.
Aini mengangguk. Ia kini mulai tidak nyaman karena Bu Hellen terus memperhatikannya.
"Silahkan di minum Neng!", tawari Bi Surti.
"Iya terima kasih", senyum Aini.
"Bi, menu makan siangnya bikinin sayur asem aja, sama balado ikan kembung saja ya!", pinta Bu Hellen sebelum Bi Surti kembali ke dapur.
"Oh iya Mah, Aini juga pintar masak lho, boleh Putra ajak Aini ke dapur ya?", pinta Putra.
"Boleh saja, tapi masa masih pake seragam, nanti kotor, di kamar atas, mungkin masih ada daster di lemari, suruh Aini ganti baju dulu", pinta Bu Hellen.
"Oh iya, lupa", Putra menepak kepalanya.
"Bi..Bi..., tolong bawa Aini ke kamar atas, carikan daster untuk mengganti seragamnya", pinta Putra.
"Aini ini pintar masak lho Bi", senyum Putra.
Aini dibawa Bi Surti ke kamar atas, dan segera kembali . Putra memandang Aini , penampilannya dengab daster panjang dan hijab instan membuatnya tambah kemayu.
__ADS_1
"Tuh kan cocok, pake itu", senyum Bu Hellen. Ia mendekati Aini, "Pilihan Putra itu memang tidak pernah salah, kamu cantik alami sayang, tanpa polesan", puji Bu Hellen.
"Putra gitu lho, selain cantik, Aini juga pintar memasak dan pintar mengaji Mah", senyum Putra.
"O...ya?, paket komplit dong sayang", senyum Bu Hellen.
"Coba..., Ibu pingin tahu, masakan Aini, Ibu tunggu ya!", Bu Hellen meninggalkan Aini bersama Putra dan Bi Surti.
"Iihh, kenapa sih, kok pake puji-puji Aini pintar masak segala , nanti kalau masakannya tidak enak, kan Aini malu",
"Sudah, ikut saja sama Bi Surti, nanti Bi Surti bisa membantu", senyum Putra.
"Tapi temenin ya?", pinta Aini manja.
"Buat tuan putri apa sih yang nggak bisa", senyum Putra. Ia mengikuti Aini dan Bi Surti ke dapur.
Aini kembali bengong begitu melihat furniture yang ada di dapur Putra. Bukannya menyiapkan masakan, ia malah melihat-lihat furniture disana.
"Kita masak di sini Bi, mana kompornya?,mana bahan -bahannya?", Aini tampak bingung.
Putra membimbing Aini, ini kompornya, tinggal pijit tombol putih ini, tuh..., apinya nyala kan, pijit lagi tombolnya, tuh mati..., bahan-bahannya di sini", Putra membawa Aini ke dekat lemari es.
"Tinggal buka pintunya, tuh...bahan-bahannya ada di sini, tinggal pilih!, mau masak apa", senyum Putra.
Aini makin bengong melihat aneka buah, sayuran, daging, ikan, kue, pokoknya komplit, semua ada di lemari yang dingin itu.
Bi Surti menghampiri, ia mengambil bahan masakan yang di pesan Bu Hellen tadi.
"Sudah Neng, ayo mau masak?", Bi Surti mengajak Aini .
Bi Surti dan Aini memasak , di saksikan oleh Putra yang terus mesam mesem, memperhatikan Aini, ia sudah tidak sabar ingin menjadikan Aini sebagai istrinya, rumahnya tidak akan sepi lagi jika Aini sudah tinggal bersamanya.
"Neng ,sudah biasa masak ya?", Bi Surti melirik Aini.
"Iya Bi, di rumah, Aini yang sering masakin Bapak dan Ibu, jika mereka masih di kebun",
"Oh..Neng ini tinggal di desa?",
"Iya Bi, saya ini orang kampung, anak seorang Petani", Aini Menunduk.
__ADS_1
"Jangan begitu Neng, semua orang itu sama, kaya dan miskin itu hanya takdir saja, kita tidak bisa memilih, mau ini, mau itu, tapi Allah yang telah menentukan, kita tinggal terima jadi saja", senyum Bi Surti.