
Sudah hampir satu bulan Putra bekerja, pencapaiannya luar biasa, proyek-proyek baru berhasil ia raih, proyek lama pun berhasil ia selesaikan , dan klient pun merasa puas dengan kerja sama mereka.
Kehidupannya dengan Aini akan memasuki fase baru setelah Aini mengeluh sakit beberapa hari lalu, sampai Bu Hana dan Pak Arman pun menginap di rumahnya, karena Pak Handoko dan Bu Hellen baru bisa pulang dua minggu lagi.
Sedari awal, Bu Hana sudah curiga begitu melihat putrinya, "ini bukan sakit biasa, harus segera diperiksakan ke Dokter, apalagi Aini tidak mau makan, kasihan kan", usulnya kepada Putra.
Tanpa berpikir lama, Putra segera menelepon Dokter keluarga. Aini diperiksa dan hasilnya luar biasa, sebuah kabar gembira yang selama ini ditunggu mereka.
"Nyonya Aini tidak apa-apa, ini sakit yang wajar, cuma harus banyak istirahat saja, dan makan makanan yang bergizi", senyum Dokter Mitha.
Putra penasaran dengan ucapan Dokter Mitha. "Jadi sakit apa istri saya ini Dok?",
"Pak Putra tenang saja, ini biasa kok, sebentar lagi akan hadir Pak Putra junior", senyum Dokter Mitha.
Putra terdiam, ia sedang mencerna ucapan Dokter Mitha, "Maksudnya istri saya sedang mengandung Dok?", sumringah Putra.
"Iya, Nyonya Aini sedang mengandung, sekarang memasuki minggu ke enam", senyum Dokter Mitha.
"Alhamdulillah, aku sebentar lagi menjadi ayah", Putra memburu Aini dan mengecup keningnya,.
"Kita mau punya Baby sayang", Putra memeluk dan mengusap perut Aini.
"Saya tinggal dulu Pak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ini kondisi wajar kok", senyum Dokter, ia meninggalkan ruangan.
"Iya Dok, terima kasih",
"Ibu sudah menduga kalau Aini hamil, Ibu juga seperti ini saat mengandung Aini", senyum Bu Hana.
"Tuh, dengar sayang, mulai saat ini, kamu biarkan saja semua urusan rumah kepada Bi Surti, kamu fokus saja pada calon bayi kita, kamu harus banyak makan, dan banyak istirahat!, iya kan Bu?", Putra melirik Bu Hana.
"Iya benar, Ibu juga akan ikut membantu di sini", senyum Bu Hana.
Aini mengangguk, ia pun meraba perutnya, ia tidak menyangka sudah mulai ada kehidupan baru di sana, calon anaknya, rasanya bagaikan mimpi, ia akan segera menjadi ibu.
"Bu, saya titip Aini, saya harus ke kantor sekarang", Putra menatap Bu Hana.
"Berangkatlah, jangan khawatir, Ibu akan menjaga Aini" , senyum Bu Hana.
__ADS_1
Putra pamit kepada Aini dan Bu Hana, ia berangkat ke Kantor dengan semangat baru. Tak lupa ia memesan beberapa dus kue untuk para stafnya di Kantor.
"Selamat pagi semua", sapa Putra begitu memasuki kantornya.
"Pagi Pak", jawab sebagian stafnya.
"Ada apa ?, Pak Putra nampak semangat sekali", Adis bicara di mejanya, dan ucapan itu dapat di dengar oleh staf lainnya.
Belum berapa lama Putra masuk, ada seorang kurir membawa kue-kue, dan menyimpannya di meja resepsionis dan ia nampak menelepon si pemesannya .
"Iya , saya segera datang", Putra nampak keluar dari ruangannya dan menghampiri kurir itu. "Sudah, simpan saja di sana, terima kasih", ia memberikan uang tips kepada kurir itu.
"Adis, ini tolong bagikan buat semua staf", perintah Putra ia melirik Adis yang menghampirinya.
"Semuanya, Pak?, dalam rangka apa ini Pak?", senyum Adis.
"Saya lagi bahagia, istri saya sedang mengandung", senyum Putra.
"Oh..., selamat ya Pak, akan segera menjadi Ayah", senyum Adis.
"Sudah, bagikan ke semua ya", Putra segera kembali ke ruangannya dengan membawa dua dus kue untuk dirinya dan untuk Pak Hambali.
"Ini ambil satu-satu ya", perintah Adis.
Semua staf mengambil satu-satu, hanya Risma yang diam saja, dia sendiri yang tidak senang dengan kabar baik ini.
"Alhamdulillah...dapat rejeki pagi-pagi, terima kasih Pak Putra, semoga istri dan anaknya sehat dan selamat sampai waktunya tiba", Siti mengambil satu bungkusan di atas meja.
"Ini masih ada sisa satu, milik siapa?, siapa yang belum dapat?", Siti melihat ke semua teman stafnya.
Mereka mengangkat miliknya satu-satu, memperlihatkan kalau mereka sudah mengambil jatahnya.
"Punya Risma itu", celetuk Adis, ia tahu cuma Risma yang tidak mengambil bagiannya.
"Oh punya Risma, ini saya simpan sini ya?", Siti meletakkan dus bagian Risma di mejanya.
"Nggak usah, ambil saja, saya masih kenyang", ketus Risma.
__ADS_1
"Eist..., pamali menolak rejeki pagi-pagi, simpan saja untuk makan siang nanti", bisik Siti sambil tersenyum.
"Tapi kalau tetap tidak mau, biar buat aku saja, lumayan bisa hemat pengeluaran", cicit Siti. Ia meninggalkan meja Risma.
Risma benar-benar merasa kesal, ia mengepalkan tangan kanannya di bawah meja. Risma merasa kesal karena memang sejak awal ia menyukai Putra, Putra itu kakak kelasnya sewaktu SMA.
Namun Putra selalu menghindar darinya, padahal setahu Risma, Putra tidak pernah dekat dengan teman wanita di kelasnya. Eh...tahu-tahu sudah menikah dengan wanita dengan kasing seperti Aini.
"Wah...ada acara apa nih, sudah bagi-bagi rezeki", senyum Pak Hambali begitu memasuki ruangannya, dari luar ia melihat ada dus snack di meja setiap stafnya, begitu juga di meja kerjanya.
"Alhamdulillah, itu dari saya, sebagai ungkapan rasa gembira saya", senyum Putra.
"Wah...ada apa ini, sepertinya hal penting ya?", tebak Pak Hambali.
"Istri saya sedang mengandung Pak" , senyum Putra.
"Alhamdulillah, ini kabar bagus, tokcer juga rupanya", Senyum Pak Hambali, ia menepuk pundak Putra.
"Tambah lagi tuh, suntikan semangatnya, selamat ya, semoga anak dan istrinya sehat",
"Iya, terima kasih",
Hari ini seperti ada tambahan daya bagi Putra, ia bekerja dengan suasana hati yang gembira, namun ia harus mulai terbiasa untuk majan siang dengan makanan yang tersedia di Kantin, untuk beberapa waktu Aini tidak bisa mengiriminya makan.
Seperti siang itu, Putra malas sekali untuk keluar dari ruangannya, ia bermaksud memesan makanan lewat grab food saja. Saat sedang memilih-milih makanan, Adis memasuki ruangannya, ia membawa sebuah bungkusan.
"Pak, ini ada kiriman dari rumah", Adis menyimpannya di atas meja di depan Putra yang terlihat sedang fokus dengan ponselnya.
"Hah, dari siapa?", Putra menatap bungkusan itu , ia tidak merasa memesan sesuatu, ini juga baru mau pesan lewat grab food.
"Oh..ini makan siang untuk Bapak, kiriman dari rumah" , jelaskan Adis. Ia kembali keluar dari ruangan setelah menaruh bingkisan itu.
"Aini, kok masih mengirimi aku makan siang?", Putra membuka bungkusan didepannya dan tersenyum melihat makanan kesukaannya sudah tersedia di sana.
"Terima kasih sayang, kamu menyempatkan mengirimi aku makan suang, padahal aku hampir memesannya tadi", senyum Putra.
Ia mulai membuka dan menikmati makan siangnya sendiri.
__ADS_1
"Lebay banget, masa orang sekelas Pak Putra saja masih mau dikirimi makan dari rumah, padahal kurang banyak gimana makanan di sini", cibir Risma.
Ia selalu tidak suka dengan segala sesuatu yang berurusan dengan istri Bos mudanya itu.