Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Aini diganti Arman


__ADS_3

Sepeninggal rombongan Bondan, Arman dan Kek Ilham terdiam, mereka sangat bingung, kemana harus mencari uang untuk mengganti kekurangan uang yang kemarin dibawa oleh ketiga adiknya.


"Bagaimana Kek, 60 juta itu bukan uang sedikit, dari mana kita mendapatkan uang sebanyak itu?", Arman menatap ayahnya.


"Man, sekarang kamu coba datangi adik-adikmu, mungkin saja uangnya masih ada , kamu bilang saja, proyeknya batal, jadi mereka meminta uangnya kembali", saran Kek Ilham.


"Kalau begitu saya pergi dulu Pak, semoga uangnya masih ada", pamit Arman.


Ia pergi menuju rumah adiknya yang bungsu, Anas. Sepeda motornya ia parkirkan di halaman rumah Anas.


"Assalamu'alaikum", Arman menunggu cukup lama sebelum pintu rumah terbuka.


"Wa'alaikum salam, Kak Arman?, silahkan masuk", Santi, istri Anas nampak kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


"Iya, terina kasih, Anas ada San?", Arman langsung to the point.


"Oh, Mas Anas...., ada, sebentar saya panggilkan", tak lama Santi kembali bersama Anas. "Ada apa Kak?", tanya Anas begitu melihat Arman.


"Begini, Kakak mau memberi tahu, kalau proyek yang di tanah Ayah itu batal, dan pembeli ingin uangnya kembali, jadi, Kakak mau mengambil uang kembali uang yang kemarin kamu ambil", jelas Arman.


"Apa, batal?", Anas kaget.


"Iya, jadi mana uang yang kemarin?, mereka menginginkan uangnya kembali", ulangi Arman.


"Ya..., uangnya sudah habis Kak",


"Habis?, uang sebanyak itu sudah habis?", Arman menatap Anas.


"Iya lah Kak, aku sudah belikan motor, ini, ini, dan itu", Anas menunjuk pada furniture rumahnya yang baru .


"Kamu ini ya, terus bagaimana Ayah mengganti uang yang telah kanu pakai?",


"Ya, terserahlah Kak, tapi yang pasti, uang yang aku ambil kemarin sudah habis", ketus Anas.


Hati Arman lunglai, 'kalau uang tidak bisa kembali, bagaimana nasib Aini?' pikir Arman.


"Apa mungkin, uang yang Azka, dan Amina ambil juga habis?", tanya Arman kepada Anas.


"Kemungkinan habis, kemarin kami belanja bersama, sudahlah Kak, tidak ada gunanya Kakak ke rumah mereka kalau hanya untuk menanyakan Uang mereka, di jamin sudah habis Kak", yakin Anas.


"Kak, kok bingung sih, kalau mereka minta uangnya kembali, bilang saja uangnya sudah di pakai, habis, mereka bisa mendapatkan separuh tanah Bapak untuk mengganti uangnya yang sudah aku pakai ", usul Anas.

__ADS_1


"Begitu juga dengan uang yang sudah dipakai Azka dan Amina, gampang kan", timpa Anas.


"Kamu itu ya, mereka hanya mau uangnya kembali, bukan tanah", Arman mulai marah.


"Ya, mau gimana lagi Kak, barang yang sudah dibeli, tidak bisa dikembalikan, apa lagi di jual lagi, sayang lah Kak, ini sudah tanggung", Ucap Anas dengan santainya.


"Dasar kamu ya, Ayah masih terguncang, kamu malah foya-foya dengan uang yang masih dalam sengketa, sekarang proyeknya batal, kamu sudah habiskan uangnya, apa kamu nggak kasihan sama Bapak dan Ibu?, mereka sudah renta",


"Aduh Kak, sudah!, jangan buat keributan di sini, malu sama tetangga, mendingan Kakak pulang saja", usir Anas.


Arman kaget, dan tentunya marah, apalagi Anas sudah berani mengusirnya.


"Baik, Kakak pulang, di sini hanya buang-buang waktu saja, tapi ingat ya, sekarang kamu sedang senang, berani mengusir Kakak, nanti saat kamu susah, jangan berani-berani datang ke rumah Bapak", Arman meninggalkan rumah Anas dengan kecewa dan marah.


Niatnya untuk mendatangi rumah Azka dan Amina ia urungkan, karena pasti keadaannya tidak akan jauh berbeda dengan Anas. Pasti mereka tidak akan mau mengembalikan uangnya.


Memang ketiga adiknya itu memiliki sifat yzng berbeda dengan adiknya yang lain. Mereka selalu menuntut lebih kepada Ayah dan ibunya.


Mereka memiliki gaya hidup mewah.


Dengan kecewa Arman kembali ke rumah. Ia tidak tahu harus bicara apa kepada Ayah dan ibunya, tapi yang pasti Arman merasa tidak berdaya saat memikirkan Aini. Ia takut Bondan benar-benar membawa Aini sebagai jaminan sebelum uangnya kembali.


Benar saja, Kakek Ilham, Nek Husna, Hana, dan Aini masih berkumpul di ruang tengah , mereka menunggu kabar baik darinya.


Arman menghempaskan tubuhnya di atas kursi, ia menatap semua orang yang ada di ruangan itu satu per satu.


"Pak, mereka sudah menghabiskan uangnya", ucap Arman.


Terlihat raut kekecewaan di wajah Kakek Ilham . "Habis?, secepat itu?, keterlaluan?", geram Kek Ilham.


"Sabar Kek", Nek Husna berusaha menenangkan suaminya.


"Tapi bagaimana besok?, mereka mau uangnya kembali besok, Nenek dengar sendiri kan ?",


"Iya, tapi kita harus tenang, kita coba pikirkan cara lain", ucap Nek Husna.


"Cara lain apa Nek?, tidak ada cara lain lagi?", Kek Ilham menunduk.


"Kita istirahat saja dulu, jangan sampai kita sakit, kita harus tetap sehat, itu yang terpenting", usul Arman.


"Kita menginap di sini saja Bu", Arman melirik Hana dan Aini.

__ADS_1


Mereka mengangguk. Malam itu mereka tidur di rumah Kakek Ilham. Arman berusaha terlihat tenang, padahal hatinya resah , memikirkan hal buruk yang mungkin saja terjadi esok hari saat Bondan dan rekannya kembali untuk mengambil sisa uangnya.


Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji, Arman membuka matanya dan melihat jam baru menunjukkan pukul 03.45.


Ia melirik ke samping kiri, Hana sudah tidak ada, mungkin ia sudah bangun duluan.


Ia mendapati mereka sudah berkumpul di dapur. Sepertinya mereka merasakan keresahan yang sama hingga membuat tidurnya tidak lelap.


"Ya, sudah, apa pun yang nanti terjadi, anggap itu ujian dari Gusti Allah", ucap Kek Ilham.


"Semoga ada mukjijat datang yang akan menolong kita", ucap Nek Husna.


"Aamiin", Aini dan Hana mengamini.


Hari semakin siang, sinar matahari sudah terasa menyengat kulit saat rombongan Bondan kembali ke rumah Kakek Ilham.


Walau kedatangannya sudah ditunggu, tapi tetap saja mendatangkan kegugupan saat rombongan mereka tiba di rumah Kek Ilham.


"Bagaimana Kek, sudah ada uangnya?", ucap Bondan dengan pongahnya, ia berdiri di teras rumah Kek Ilham.


"Maaf, uangnya belum ada, kami belum bisa menggantinya hari ini", ucap Kek Ilham.


"Kalau begitu, gadis manis ini yang akan jadi jaminannya, ia akan kami bawa ke Kota", ucap Bondan.


"Jangan, Aini masih sekolah, ia sedang ujian akhir, kasihan kalau sampai gagal ujian biar Kakek saja yang ikut ke Kota", ucap Kek Ilham.


"Jangan, biar saya saja Kek", Ucap Arman.


Ia mendekati Bondan, "Saya saja yang kalian bawa ke Kota, saya masih sehat, masih kuat, biarkan Kakek dan Aini tetap di sini?", tegas Arman.


"Ayah?", Aini menggandeng tangan ayahnya.


Ia menatap sendu ayahnya."Sudah, Ayah akan baik-baik saja, jaga ibumu!", Arman mengelus lembut kepala Aini.


"Man?",Kek Ilham menatap nanar putranya.


"Tenang Pak, aku akzn baik-baik saja, jaga mereka!", Arman melirik anak dan istrinya.


"Baik, kalau begitu, kami akan bawa ayahmu, sampai uangnya belem kembali, begitu uangnya ada, dia bebas", ucap Bondan.


Mereka pergi meninggalkan Desa dengan membawa Arman.

__ADS_1


Kepergian mereka diiringi derai air mata Aini dan ibunya, juga Nenek Husna dan Kakek Ilham.


__ADS_2