Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Dendam karena Cinta


__ADS_3

Risma yang masih kesal memilih makan siang di luar, ia merasa sangat lapar, karena gengsinya ia tidak memakan kue pemberian Putra tadi, dan alhasil kue itu menjadi milik Siti.


Dan sebagai akibatnya, kini ia merasa pusing dan lambungnya pun terasa perih. Ia memutuskan untuk makan di cafe yang terletak di seberang kantornya.


Ia memilih kursi di dekat jendela, hingga ia masih bisa melihat kantornya dari sana.


Risma memesan beberapa makanan dan juga minuman, karena lapar, ia memesan sampai beberapa porsi.


Pelayan pun agak bingung, ini makannya untuk berapa orang?, kok pesanannya banyak.


Makanan sudah tertata semuanya di atas meja, Risma pun kaget, ia baru ngeh dengan pesanannya.


"What..., apa-apaan aku, sampai sebanyak ini?", namun karena gengsinya, ia bersikap biasa, padahal hatinya pun bingung,", ini pasti tagihannya akan banyak, bagaimana kalau uangku tidak cukup, Aduh...bodohnya aku", gumam Risma.


Sedang kebingungan seperti itu, ada seorang pemuda yang sedari tadi memperhatikannya, pemuda itu menghampirinya, "Risma?", sapa pemuda itu.


Risma mendongakkan kepala mencari sumber suara, "Oh...ini sebentar....",Risma seperti sedang mengingat.


"Aku Aditya, masa sudah lupa", senyum pemuda itu.


"Oh...iya...., Aditya, maaf aku lupa, habisnya lama sekali kamu menghilang", cicit Risma.


Mereka saling berjabat tangan, dan Aditya pun duduk di depan Risma.


"Kemana saja kamu, lama menghilang, kirain kamu sudah RIP", kekeh Risma.


"Soalnya sehabis acara kelulusan , kamu bak ditelan bumi saja", lanjut Risma.


"Enak saja, gila kamu , aku itu menghilang untuk menenangkan hati dan pikiran saja", Aditya melirik meja didepannya yang sudah penuh dengan makanan.


"Ouw...mau ada yang datang lagi, saya lihat ini makanannya banyak sekali", Aditya menatap meja didepannya yang sudah penuh dengan aneka makanan dan minuman.


"Oh...iya..tadi...aku sepeti udah Feeling bakal bertemu kamu , jadi pesennya banyak", cicit Risma, cari alasan.


"Hebat kamu feelingnya selalu tepat, aku ikut makan yang ini saja ya, nggak usah pesan lagi", senyum Aditya.


"I...iya..., boleh dari pada mubazir",


"Tenang, nanti aku yang bayar kok", senyum Aditya.

__ADS_1


Jelas saja ucapannya itu membuat Risma lega, ia sedari tadi bingung menghitung uang yang ada didompetnya, pasti tidak akan cukup untuk membayar semua pesanannya.


"Kamu sekarang kerja dimana?", Aditya memandang Risma.


"Aku kerja di Kantor miliknya Handoko Group sebagai resepsionis", Risma menunjuk ke arah Kantor Putra.


"Ouw..., Handoko Group?, sebentar, kalau tidak salah saat ini dipimpin oleh anaknya ya?",


"Iya, Pak Putra, baru beberapa minggu ia menjadi wakil bapaknya, masih didamping Pak Hambali sih, karena ia masih pemula, sambil belajar", senyum Risma.


"Enak ya, jadi anak pengusaha, cukup kuliah sebentar, sudah dapat posisi hebat", cibir Aditya.


"Nah kamu juga kan anak pengusaha?, bisa juga seperti Pak Putra, gampang kan", kekeh Risma.


"Sekarang dia itu lagi senang-senangnya, lagi semangat bekerja, secara istrinya lagi mengandung", Risma cemberut.


"Lho kok kamu sepertinya tidak suka begitu, ia kan Bosmu",


"Iya..., aku tuh nggak suka , seharusnya aku yang ada diposisi itu, bukan istrinya",


"Nah lho..., kamu suka sama Bosmu?, yang benar saja, tapi ini oke lho, sebenarnya aku juga nggak suka dia bahagia, istrinya itu wanita yang aku lamar, tapi di rebut sama dia, aku sakit hati dan malu", Aditya menerawang.


"Jangan ngeledek kamu , kamu juga sama kan masih jomblo, jangan-jangan ini juga lantaran Putra", Tebak Aditya.


"Emh...nggak salah sih..., aku tuh nungguin dia, setia, eeh..., pas ketemu lagi sudah bawa istri", Risma kembali merenggut.


"Kenapa tidak kamu goda lagi saja Putra, sudah di depan mata ini, apalagi istrinya kan sebentar lagi perutnya dung, sudah nggak cantik lagi, nggak seksi lagi kan, nah...disitu kamu masuk, gimana?",Aditya tersenyum evil.


"Boleh juga tuh ide Loe, tapi aku nggak yakin kalau Putra bisa tertarik sama aku, secara...dia itu bucin sekali pada istrinya", Risma cemberut .


"Ya..., kamu coba dulu, belum apa-apa sudah nyerah gitu, kamu dekati dia pelan-pelan saja, gampang, satu kantor ini, kamu lebih perhatiin dia, istrinya nanti akan jarang perhatiin dia karena perut buncitnya akan menghalangi aktifitasya, apalagi kalau bayinya sudah lahir, tambah repot saja dia, jadi...akan banyak waktu buat kamu untuk mendekati Putra, iya nggak?", Aditya terus ngompori Risma.


Risma senyum-senyum mendengar ide jahat Aditya, dia sudah membayangkan saat dirinya bisa masuk diantara Putra dan istrinya.


"Faham kan?", Aditya melirik Risma.


"Iya...iya ..aku faham, gila...ternyata kamu itu jago ya nyari ide jahat kaya gitu, nggak nyangka",


"Sebentar, dari tadi kamu terus ngompori aku, terus apa untungnya buat kamu jika aku berhasil menggoda Putra.

__ADS_1


"Ya, aku bakalan senang lah, aku bisa membuktikan kalau Putra itu pilihan yang salah buat Aini, aku ingin Aini merasa menyesal telah menolak aku dn lebih memilih Putra", kembali Aditya tersenyum evil.


"Nah ..., pesan jus mangga sana",


Risma mengernyitkan dahinya,"Jus mangga?, buat siapa?",


"Kamu lakukan sekarang, berikan jus mangga itu kepada Putra, itu sebagai bentuk perhatianmu pada dia, iiihhh...kamu itu , nggak peka, pantesan saja ngejomblo terus", kekeh Aditya.


"Mulai lagi kan, meledek aku", Risma cemberut, ia melambai memanggil pelayan.


"Jus mangganya satu, di bungkus", pinta Risma.


"Sekalian hitung ya Mba, semua tagihannya", timpa Aditya.


Pelayan itu kembali dengan membawa pesanan Risma dan memberikan tagihannya kepada Aditya.


"Ambil saja kembaliannya", Aditya memberikan pelayan itu uang.


"Terima kasih", senyum Risma , ia merasa terselamatkan oleh Aditya, uang di dompetnya pun utuh.


Mereka keluar dari cafe, setelah berbincang sejenak di lobi, mereka pun berpisah, Risma kembali ke kantornya, dan Aditya kembali melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.


Risma berdiri sambil memandangi Gedung didepannya, disanalah ia bekerja, dan ia pun melirik plastik berisi jus mangga ditangannya, 'apa harus aku seperti ini', pikirnya.


Tapi kebimbangannya itu pudar, begitu melihat Bos mudanya dari kaca jendela. Pesonanya tiada tara, walau sudah menikah dan mau memiliki anak, tapi pesona ketampanannya tetap memancar di mata Risma.


Risma bergegas menuju kantornya,"Ini waktu yang tepat untuk mulai mendekati Bos tampan itu", gumam Risma.


Ia memasuki kantornya dan langsung menuju ruangan Putra, setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Risma melangkah menuju meja Putra, saat itu Putra sedang asik di depan laptopnya.


"Maaf, Pak, ini tadi saya lancang membelikan ini buat Bapak, siapa tahu Bapak haus?", senyum Risma. Ia menaruh jus mangga di meja Putra.


"Oh...terima kasih Ris", jawab Putra singkat, ia masih fokus dengan laptopnya. Ia meliriknya,'Dari siapa Risma tahu kalau aku suka jus mangga', pikir Putra.


"Di sana ada cafe bagus Pak, makanannya enak, harganya ramah, siapa tahu Bapak mau mencoba makan siang di sana, bisa saya antar", tawari Risma.


"Oh...iya..., terima kasih", Putra tersenyum melirik Risma.


Senyuman itu ampuh membuat Risma baper, ia keluar dari ruangan Putra dengan hati berbunga.

__ADS_1


__ADS_2