
"Risma....Risma....", teriak Putra, ia langsung membawa Mirna dan Aditya ke rumah yang ditempati Risma.
"Aduh...., sudah mal....am...", Omelan Risma terhenti saat dilihatnya Putra sudah ada di ruang depan rumahnya.
"Kok bisa masuk", tatap Risma.
"Ini rumah aku, aku pegang semua kuncinya", ketus Putra.
"Tidak bisa datang dengan baik-baik apa?, ini sudah malam, atau sudah berubah pikiran ya?, kamu mau melakukannya malam ini?", Risma hendak memeluk tubuh Putra.
"Apaan sih..., kamu jangan salah sangka, akku menemuimu karena ada hal penting yang ingin dibicarakan", Putra menepis tangan Risma yang hendak memeluknya.
"Kamu ya, masih saja tahan harga, bukti test sudah jelas, kamu tidak bisa lagi ngeles", Risma cemberut.
"Masuk !, kalian di tunggu!", teriak Putra.
Risma mentautkan kedua alisnya, ia tidak tahu kalau Putra membawa orang lain ke rumahnya.
Risma tambah kaget lagi saat melihat Aditya dan Mirna.
"Ka..li...an...?", sapanya dengan tatapan tidak percaya.
"Iya...mereka, kenapa?, kamu kaget?", sinis Putra.
Mereka duduk berhadapan.
"Risma..., kamu sehat?, aku senang bisa melihatmu lagi, kamu pergi begitu saja, aku kehilangan jejakmu", senyum Aditya.
"Ya...beginilah aku, seperti yang kalian lihat, aku baik-baik saja",
Tiba-tiba terdengar tangisan bayi dari dalam kamar, semua melirik ke sumber suara.
Risma terhenyak, ia tidak menyangka baby Khansa akan menangis, dengan begini kan mereka bisa tahu kalau dirinya sekarang sudah punya anak.
__ADS_1
"Itu bayimu?", tatap Aditya.
"Euh...iya..., sebentar", Risma melangkah menuju kamar dan segera menggendong baby khansa ke luar.
"Ini anak aku dari Putra", senyum Risma.
"Bukan..., itu bukan anakku, kamu sudah berbohong Risma", sanggah Putra.
"Berbohong apa lagi?, bukti test DNA nya sudah
ada, kamu tidak bisa membantah", tatap Risma.
"Aku ayah dari bayi itu", sambar Aditya.
Semua diam, terutama Risma. Ia tidak menyangka dan sangat kaget dengan ucapan Aditya itu.
"Apa...?, kamu sudah gila ya, bagaimana kamu bisa seenaknya mengakui bayi ini anakmu, sudah jelas ini bayinya Putra", Risma membulatkan matanya ke arah Aditya.
"Aku yang memasuki kamarmu saat di Bogor waktu itu, dan aku sengaja mengarahkan semuanya kepada Putra, karena aku masih sangat kecewa, Putra merebut Aini dariku", aku Aditya.
"Tenang Ris!!, bayimu kaget lagi", Mirna mendekati Risma dan membawanya duduk.
Bayi khansa kembali menangis, ia kaget dengan teriakan ibunya.
"Ada apa ini?, itu kenapa baby khansa menangis", Bu Hellen dan Pak Handoko menghampiri.
"Pih..., Mih..., ini ada Aditya dan Mirna, mereka yang mengetahui kebenaran soal ayah dari baby Khansa", jelas Putra.
"Apa...?, jadi hasil test kemarin tidak benar?", tatap Bu Hellen kepada Putra.
"Iya Mih...", Aditya sudah mengakui kalau dia ayah dari Baby Khansa", jelas Putra.
"Tidak..., itu tidak benar!", teriak Risma.
__ADS_1
"Tenang Risma, ini masalah serius, jangan sampai karena kesalahan ini, semua jadi fatal, lihat Aini dan baby Kendra, apa kamu tidak kasihan?", tatap Putra.
"Kita ulangi test DNA, dan biarkan aku yang melakukannya, jangan libatkan lagi Dokter yang kemarin, aku yakin ada yang mensabotase hasil test kemain, kalau sampai ketahuan, kalian akan celaka Risma!", Putra menatap tajam ke arah Risma.
Keesokan harinya, mereka pergi ke Rumah Sakit Polri, mungkin kalau melakukannya di sini, tidak akan ada yang bisa memanipulasi hasil testnya.
"Kami minta hasil yang cepat, ini sample nya", Pak Robani memberikan berkas yang diminta pihak Rumah Sakit.
Semua berkumpul untuk menunggu hasil test, Putra sudah berulang kali menghubungi Aini dan memberitahukan hal ini.
Risma hanya diam saja, dia kembali mengingat kejadian setahun yang lalu saat di Bogor, ia pun melirik ke arah Aditya dan ia melihat benda yang sama tersemat di kemeja Aditya, benda yang ia temukan di atas tempat tidurnya
'Dit..., kenapa kamu lakukan itu, kamu sudah menipu semua orang, kamu sudah mempermainkan perasaanku', batin Risma bicara.
Pikiran Risma menjadi tidak karuan, jalan hidupnya ditentukan hasil test hati ini.
Dan benar saja, seorang Dokter menghampiri mereka, dan tanpa basa-basi, ia menjelaskan hasil testnya.
Di sana tertera jelas, kalau hasil test yang cocok itu milik Aditya dan baby Khansa.
"Ini sudah jelas, aku bukan ayah dari anakmu, jadi pernikahan kita batal Risma, aku akan kembali menjemput anak dan istriku, Aini", jelas Putra.
Aditya menunduk. " Aku minta maaf, akulah penyebab kekacauan ini, tapi aku sudah mencoba mencari Risma, tapi tidak ketemu",
"Sudah..., walau ini sudah terlambat, tapi ini masih bisa menyelamatkan pernikahan Putra dan Aini, dan kalian juga kami maafkan", Ucap Pak Handoko.
"Risma..., kamu sudah tahu kebenarannya, jadi kamu harus merelakan Putra", ucap Bu Hellen.
Seminggu setelah kejadian itu, Putra dan Aini kembali hidup bersama.
Sedangkan Risma pun bersedia dinikahi Aditya. Mereka kini hidup bahagia.
Putra dan Aditya pun kini bekerja sama, Aditya yang menyediakan konsumsi untuk semua pekerja di kantor Putra.
__ADS_1
Bahkan ada yang rencana yang lebih besar lagi, Baby Khansa dijodohkan dengan Baby Kendra, itu semua mereka lakukan untuk menghilangkan rasa dendam yang pernah ada diantara orang tua mereka.