Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Jual Paksa


__ADS_3

Putra bangun begitu adzan awal berkumandang.


Ia mendapati Kakek Ilham dan Nenek Husna juga sudah bangun, mereka sedang bercengkrama di dapur, di depan tungku yang apinya menyambar-nyambar ke luar.


"Nek, Kek, saya permisi dulu mau kembali ke rumah Pak Danu, mumpung masih pagi", rengkuh Putra.


"Ya sudah, hati-hati, kalau perlu sesuatu jangan sungkan datang ke sini saja", senyum Nek Husna.


Setelah bersalaman,Putra segera meninggalkan rumah Kek Ilham, dia segera menuju rumah Pak Danu, sebelum Pak Danu mengetahui kepergiannya.


Untung saja rumah Pak Danu masih terlihat sepi, dan ketiga temannya masih tertidur, tapi Dani terbangun saat Putra duduk disampingnya.


"Kemana saja kamu semalaman nggak pulang?, benar-benar kesambet kuntil anak kamu ya", kekeh Dani.


"Hus, jangan sembarangan ngomong kamu, aku baru dapat info penting", bisik Putra.


"Info penting apa?", penasaran Dani


Saat Putra mau bicara, terdengar pintu rumah Pak Danu di buka, dan benar saja Pak Danu sedang berjalan ke arah mereka.


"Sudah pada bangun?", Pak Danu mengamati mereka berempat.


"Iya Pak , oh iya kalau Masjid di sebelah mana ya?", tanya Putra.


"Oh, kalian mau ke Masjid?, dari jalan di depan lurus saja nanti pas ada gang, masuk ke sana, ada tulisannnya 'Gang Masjid' ", jelas Pak Danu.


"Iya ,terima kasih Pak".


Pak Danu kembali ke dalam rumah, tapi sebelumnya dia memperhatikan kembali Putra dan ketiga temannya.


"Ada apa?, kok sepertinya aneh ya?, kamu lihat tadi kan, tadi Pak Danu melihat kita dengan pandangan agak aneh, seperti curiga gitu", ucap Dani.


"Iya sih, tapi apa?, nggak ngerti, ayo mending buruan bangunin tuh Soleh dan Iman kita ke Masjid sekarang", ajak Putra.


Dani menurut, dia membangunkan kedua temannya dan mereka segera menuju Masjid.


Di dalam Pak Danu sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana."Yang mana orangnya?, ini kan ada empat orang, yang mana? lagian tadi waktu saya ke sana, keempatnya ada di sana", jelas Danu.


"Iya saya ngerti Pak Bos"


"Baik, akan saya laksanaka",


Begitulah isi pembicaraan Pak Danu yang entah dengan siapa, tapi sepertinya seseorang yang ia hormati.


Di Masjid, Putra bertemu kembali dengan Kakek Ilham dan Arman. Bahkan keempat orang berseragam loreng itu pun ikut melaksanakan shalat berjama'ah di Masjid.


Putra menunduk, takut mereka mengenali dirinya. Tapi karena semalam gelap, jadi mereka tidak mengenali Putra.


Putra sedang bercakap dengan Kek Ilham dan Arman, ia memperkenalkan ketiga temannya.

__ADS_1


Bondan mendekati Kek Ilham, dia bersalaman dengan sikap rengkuh, jauh dari kata garang dan kasar.


Bondan memperhatikan Putra dan ketiga temannya, setelah itu mereka pergi meninggalkan Masjid.


"Yang mana orangnya?", tanya Bondan melirik Bimo saat mereka sudah ada di dekat tenda.


"Nggak jelas, semalam gelap, jadi sudah tidak ingat lagi", jawB Bimo.


"Hus...., bodoh!", gerutu Bondan . Ia segera masuk ke dalam tenda karena terdengar hand phone nya berdering.


"Siap Pak Bos, kami sudah bersiaga di Posko", terdengar suara Bondan oleh ketiga rekannya.


"Kalian sarapan dulu ada perubahan rencana, Pak Bos dan rombongan sedang diperjalanan menuju ke sini?" kabari Bondan.


"Kita akan eksekusi hari ini", tegas Bondan.


Sontak ketiga rekannya kaget, menurut rencana, masih ada waktu seminggu lagi. Entah dengan alasan apa, Bosnya mengubah rencana.


Tak lama ada dua mobil beriringan mendekat ke arah mereka. Yoseph mengenali mobil itu sebagai mobil milik Bosnya


"Bos datang ", serunya sambil cepat berdiri, diikuti oleh Bimo dan Wira.


Bondan pun terlihat ke luar dari dalam tenda menyambut kedatangan Pak Bosnya.


Dari mobil yang sudah terparkir, keluar seorang laki-laki tegap, ia menenteng sebuah tas koper hitam.


Dari mobil satunya lagi , turun seorang Pemuda keren yang sama menenteng koper warna hitam.


"Cepat antar aku ke rumah pemilik tanahnua kita selesaikan sekarang", katanya to the point.


"Baik Bos!", Bondan bersiap mengantar Bosnya, Bos Dirman. Ia adalah seorang makelar tanah dari Kota. Dia sering menangani proyek-proyek besar.


"Kalian bertiga berjaga di sini, kita akan ratakan tanah itu sekarang! ", perintah Dirman kepada Bimo, Yoseph dan Wira.


"Baik Bos !", mereka hampir serempak menjawab.


Bondan mengantar Bosnya, Dirman menuju rumah Kakek Ilham. Sementara ketiga rekannya stan by di dekat Posko , menunggu perintah selanjutnya.


Kakek Ilham sedang kedatangan anaknya, kali ini sepuluh anaknya bisa berkumpul, lengkap membawa anak-anaknya.


Di rumah tampak ramai dengan anak-anak yang berlarian di teras, Aini juga tampak di sana menjaga adik-adik sepupunya.


Sampai rombongan Bondan datang ke sana. Seketika mereka menghentikan kegiatannya.


Anak-anak memandangi mereka dengan wajah polosnya.


"Selamat pagi", ucap Dirman.


"Emh pagi", jawab Aini ragu.

__ADS_1


Neng Aini, Kakek Ilhamnya ada?", tanya Bondan yang sudah mengenali Aini.


"Kakek?, a ..ada didalam", gugup Aini. Ia segera menghambur ke dalam, memberitahu Kakek, Ayah, dan Paman bibinya kalau di depan ada tamu.


"Siapa?", tanya Arman.


"Yang kemarin Ayah", lirih Aini.


"Ya sudah, ajak adik-adikmu main di belakang", perintah Arman.


Aini kembali ke luar diikuti Arman. Aini membawa semua sepupunya ke belakang, sementara Arman mempersilahkan tamunya masuk.


"Pak Bondan, silahkan masuk!", persilahkan Arman, ia bisa mengenali Bondan, dari nama yang tertera di kemeja loreng yang dipakainya.


"Mari Pak masuk!", Arman masuk diikuti oleh Bondan dan yang lainnya.


"Kek, ini ada tamu",Arman melirik Kek Ilham. Dia begitu mencemaskan ayahnya, 'pasti akan ada sesuatu yang terjadi', pikirnya.


"Silahkan duduk Bapak -bapak!, maaf rumahnya sempit".


Anak perempuan Kek Ilham berpindah ke dapur, berkumpul dengan para menantu dan Nek Husna dengan perasaan khawatir.


"Kek, ini Pak Dirman, ini anaknya Aditya, mereka ini orang yang akan membeli tanah Kakek", to the point Bondan.


Kek Ilham menyambut jabatan tangan Dirman dan anaknya. Mereka juga bersalaman dengan anak-anak Kek Ilham.


"Kebetulan lagi pada ngumpul ini Kek, saya ingin melanjutkan penawaran kemarin, sekarang Pak Dirman yang langsung datang ke sini", ucap Bondan.


"Jadi bagaimana Kek?, ini saya sudah bawakan uangnya langsung, Kakek tidak akan rugi menjual tanahnya kepada saya", ucap Dirman.


"Pusat ingin segera melakukan peletakkan batu pertama, saya beli dengan harga tinggi, ini uangnya untuk semua tanah Kakek", ucap Dirman.


Ia membuka kedua koper besar berwarna hitam yang dibawanya. Koper itu diletakkan di atas meja di depan mereka.


Dan saat di buka, tumpukkan uang berwarna merah tampak di depan mereka.


"Bagaimana Kek?, apa masih kurang?" , Dirman melirik Kek Ilham.


"Sudahlah Pak, ambil saja, bisa kaya mendadak kita dengan uang sebanyak ini", ucap Anas. Dia dan keempat anak Kek Ilham lainnya tampak antusiash hùdengan uang yang menumpuk di depannya.


"Betul itu Kek, dengan uang ini Kakek bisa membeli apa pun, tidak perlu cape-cape dan tidak usah bermandi lumpur", tegas Bondan.


Sementara Aditya terus saja mencuri pandang ke arah belakang, Aini yang menjadi daya tariknya.


Bondan tampak berbicara lewat hand phone nya.


"KERJAKAN SEKARANG!", perintah Bondan kepada rekannya yang sudah bersiap dengan kendaraan beratnya.


"Aduh, bagaimana , Kakek tetap tidak ingin menjual tanah itu", ucap Kek Ilham.

__ADS_1


"Jual saja lah Kek, benar kata Bapak ini, Kakek sudah waktunya istirahat, sudah waktunya untuk menikmati hidup", ucap Azka.


Bondan dan Dirman saling lihat, ternyata sebagian anak Kek Ilham setuju kalau tanahnya mereka beli.


__ADS_2