
Sepeninggal Aini dan kedua orang tuanya, Putra menghampiri Bi Surti yang sedang menemani baby Kendra dikamarnya.
Terlihat Baby Kendra gelisah, di beri minum susu tidak mau, ia merajuk khas bayi. "Kenapa dia Bi?", Putra menghampiri.
"Tidak tahu, Aden, di beri susu pun tidak mau, mungkin ia mencari Mamahnya", Bi Surti melirik kepada Putra.
"Oh..., sini biar saya coba gendong saja Bi", Putra mengangkat tubuh mungil baby Kendra dengan hati-hati",
Putra mendekap baby Kendra didadanya. Ajaib memang, ia langsung tenang, tangannya memegang erat baju Putra di bagian kedua pundaknya.
Bi Surti tersenyum melihat pemandangan itu.
"Kalau begitu, Bibi tinggal ke dapur dulu, nanti kalau rewel lagi, panggil Bibi saja", pamit Bi Surti.
"Iya, Bi", senyum Putra, ia bicara pelan, karena takut mengagetkan baby Kendra.
Bi Surti kembali ke dapur, ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Dari kaca , Bi Surti dapat melihat Risma sedang bicara lewat ponselnya, ia tampak senang , terlihat dari ekspresi senyumnya yang mengembang lepas.
"Tidak tahu malu itu orang, sudah memaksa Tuan Muda untuk menanggung semua bebannya", cibir Bi Surti.
"Semoga hasilnya sesuai harapan, hasil testnya negatif, biar Non Aini tetap di sini", gumam Bi Surti.
Dirinya tidak mau kalau sampai Aini pergi dari rumah ini. Dan ia pun akan merasa canggung bila harus mempunyai Nyonya muda seperti Risma.
Di Rumah Sakit, Dokter yang menangani baby Kansa, sudah mulai melakukan manipulasi data. Ia sudah mengingkari sumpah jabatannya, hanya untuk rupiah, dan bukan hanya itu, ternyata Dokter itu juga diam-diam menaruh hati kepada Risma.
Mereka berdua sudah sepakat, hanya ingin mengincar kekayaan keluarga Putra saja, mereka memanipulasi hasil test DNA, agar baby khansa mendapat warisan dari Putra. Seorang Pengusaha sukses dengan jumlah harta yang fantastis.
"Beres, ini tidak akan ada yang menyangkal, perfect", seringai Dokter. Ia mengcofy hasil laporannya, terdengar suara mesin printer bekerja, dan selembar kertas keluar.
Dokter segera mengambil kertas itu dan melipatnya lalu memasukkannya ke dalam amplop.
"Siippp...", seringai Dokter itu.
Ia kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia menerawang, membayangkan saat dirinya bisa bersama Risma dengan uang warisan yang pasti tidak sedikit.
Dasar memang orang-orang egois, mereka hanya memikirkan kesenangannya saja, tanpa memikirkan orang yang mereka sakiti nantinya, seperti Aini, Putra dan baby Kendra.
Tiga nyawa yang mereka taruhkan untuk kesenangan pribadinya, dan tidak terpikirkan juga, kalau mereka akan berurusan dengan pihak yang berwajib, karena sudah memanipulasi data. Apalagi bagi seorang Dokter, ini sudah melanggar sumpah jabatannya.
__ADS_1
Tapi namanya juga sudah gelap mana , tidak ada yang bisa menghentikan mereka.
Bu Hellen dan Pak Handoko yang kini sudah bersiap untuk kembali pergi ke Rumah Sakit, mereka tidak mengajak Aini ataupun Risma.
"Mih..., semoga hasilnya sesuai harapan", Pak Handoko melirik Bu Hellen yang duduk disampingnya.
"Iya...Pih, Mamih juga berharap begitu, Mamih tidak mau menggeser Aini, apa pun yang terjadi, ia tetap satu-satunya menantu Mamih", ucap Bu Hellen.
"Iya, Papih juga sama, kalau bisa diganti, biar kita tukar dengan uang saja, asalkan Risma bisa pergi dari kehidupan anak dan menantu kita", jelas Pak Handoko.
Mereka kini sudah sampai di halaman Rumah Sakit, mereka langsung menaiki lift menuju ruangan Dokter yang sudah ada janji dengan mereka.
Sepertinya Dokter itu juga sudah siap diruangannya, dia sudah menunggu kedatangan Pak Handoko dan Bu Hellen.
Bahkan Dokter itu sudah stand bye di pintu depan ruangannya. Sehingga saat Bu Hellen dan Pak Handoko keluar dari lift, ia langsung menyambutnya.
Bu Hellen dan Pak Handoko pun saling pandang, ini hal yang jarang terjadi untuk Dokter sekelas dia. Ia sampai meluangkan waktunya hanya untuk menunggu Bu Hellen dan Pak Handoko.
"Tepat dugaan saya, tidak salah kalau membuat janji dengan orang-orang profesional seperti anda, selalu tepat waktu", senyum Dokter.
Pak Handoko dan Bu Hellen hanya tersenyum saja mendengar pujian yang ditujukkan kepadanya itu.
Mereka mengikuti langkah Dokter menuju ruangannya. Setelah terlebih dahulu saling berjabat tangan.
"Terima kasih", ucapnya.
"Maaf, saya sudah ditunggu di ruang operasi, semoga hasilnya memuaskan", senyum Dokter.
"Baik, terima kasih Dok", senyum Pak Handoko.
Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena ucapan Dokter tadi sudah mengisyaratkan kalau dirinya sedang sibuk.
Pak Handoko dan Bu Hellen segera keluar dari ruangan, mereka pun bahkan belum sempat membuka isi amplop yang ada ditangannya.
"Nanti bukanya di rumah saja, biar Aini dan Risma bisa mengetahui hasilnya langsung", saran Bu Hellen.
"Baik, Papih setuju", Pak Handoko memasukkan amplop putih itu ke dalam tas istrinya.
"Ayo kita pulang saja", Pak Handoko menggandeng tangan Bu Hellen, mereka kini menuju lantai bawah lagi, dan bergegas memasuki mobilnya.
Bu Hellen dan Pak Handoko sudah kembali menuju rumahnya.
__ADS_1
Di rumah Risma sudah terlihat siap menyambut kedatangan Bu Hellen, ia sudah membawa serta baby Khansa dalam boks bayi.
Ia tampak sedang menikmati sepisin buah pepaya yang sudah disiapkan Bi Surti.
Hanya Aini yang masih berada di kamarnya, ia hari ini merasa tidak bersemangat, entah kenapa, semalam juga baby Kendra rewel, sehingga ia lebih banyak terjaga, sehingga kurang tidur.
"Ayo cepat bersiap, sebentar lagi Mamih dan Papih pulang", bujuk Putra.
"Kamu siap-siap saja dulu, biar baby Kendra sama aku dulu", tawari Putra.
"Iya...", dengan malas Aini menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cukup lama Putra menunggu Aini, untung saja Baby Kendra kini sudah tenang, ia kembali tidur karena semalaman rewel.
"Alhamdulillah..., anak pintar", gumam Putra. Ia menatap wajah mungil baby Kendra, yang kian lama kian mirip Aini.
"Ayo, aku sudah siap", Aini tersenyum disampingnya.
"Cantik", senyum Putra, ia menyubit lembut pipi istrinya.
Aini hanya tersenyum kecil. Ia menggandeng tangan suaminya keluar dari kamar, menuju ruang keluarga.
Risma bisa melihat kedatangan Aini dan Putra. 'Ini terakhir kalinya kamu bisa berbuat begitu sama calon suamiku", pikir Risma.
Risma melengos menghindari pemandangan yang mengusik hatinya.
Bertepatan dengan itu, deru mesin mobil terdengar, Pak Handoko dan Bu Hellen sudah tiba dirumahnya.
'Inilah saatnya', seringai Risma.
"Wah..., ternyata sudah siap, kalian sudah menunggu?", senyum Pak Handoko, yang langsung duduk du kursi yang masih kosong, begitu pun Bu Hellen.
"Mih, mana surat tadi?", Pak Handoko meminta surat dari Dokter yang ada di tas istrinya.
"Ini Pih", Bu Hellen memberikan surat yang diminta suaminya.
"Nah ini hasil test nya sudah keluar, Papih harap, kalian semua bisa menerima apa pun hasilnya.
Perlahan Pak Handoko membuka amplop putih yang sudah ada ditangannya. Sama, ia pun merasa dag dig dug.
Tangannya langsung lemas, begitu mengetahui hasilnya, tangannya yang semula tegak, kini terkulai lemas, dan kertas itu pun hampir lepas dari genggamannya.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat heran Aini dan Putra, begitu juga dengan Bu Hellen.
Hanya Risma yang tampak tersenyum, 'Bagus, kerja yang sempurna Dok', batin Risma bicara.