Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Aini tidak Matre


__ADS_3

"Makanya aku memilihmu, karena kecantikanmu eksklusif, tertutup dari pandangan-pandangan mata liar", senyum Putra sambil melirik kembali ke Aini.


"Ehm..., aduh ini ada Mamah lo..,Mamah dianggap nyamuk ya? ", senyum Bu Hellen.


Putra terkekeh , sementara Aini tersipu.


Mereka bertiga keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam.


Aroma wangi dan hembusan angin menerpa begitu kaki mereka masuk, sungguh beda sekali suasananya dengan di pasar tradisional, yang sering becek saat hujan, bau dan panas.


Deretan baju , sepatu, tas berjejer rapi, tapi Aini dibuat menelan saliva begitu melihat harga yang ditenteng di depan setiap etalase.


"Ini mah harganya bikin dompet menjerit", gumam Aini.


"Apa?, ada yang kamu sika?, kalau ada barang yang kamu suka, langsung bicara saja ya", pinta Bu Hellen.


"Ini sepertinya bagus", Putra mengambil satu piece kerudung dan memperlihatkannya kepada Aini.


Bu Hellen mendekat dan meraih kerudung pilihan Putra. Ini bagus, adem, lembut, kalau di pake tidak lepek, tidak panas, pasti kamu suka", Bu Hellen memberikannya kepada Aini.


"Iya bagus Mah, ini lembut sekali, pasti nyaman dipake", Aini membolak balik kerudung .


"Ya sudah, kalau suka ambil yang itu saja, kamu boleh pilih sendiri motif dan warnanya, nah ini...ini...ini...juga bagus", Putra mengambil lagi beberapa piece kerudung motif lain.


"Sudah, ini kebanyakan", tolak Aini.


"Biar saja, mumpung Mamah lagi baik, iya kan Mah", Putra melirik ibunya.


"Iya, Mamah kan sengaja mengajak Aini ke sini, biar bisa memilih barang sesuai keinginan kamu sayang, pilih saja apa yang kamu suka", senyum Bu Hellen.


"Aduh, ini mahal sekali Mah, yang lain saja", Aini kaget saat melihat harga kerudung yang dibelinya, satu piece di sini bisa untuk membeli satu lusin kerudung di pasar gembrong.


"Sudah, ini sudah diambil tidak bisa dikembalikan lagi", senyum Putra.


"Maaf..., kalau tahu harganya semahal itu, lebih baik nggak usah dibeli, cari yang lain saja",


"Sudahlah, Mamah ingin barang yang bagus, buat calon mantu Mamah ", senyum Bu Hellen.


"Kalau ada yang suka, ambil saja, nggak usah lihat harganya, nanti kepikiran terus, pas mau di beli sudah tidak ada," senyum Putra.


"Mumpung Mamah lagi baik" , bisik Putra di kuping Aini, Aini kaget karena jaraknya dengan Putra begitu dekat, ia melangkah mundur, untuk memberi jarak diantara mereka.


"Kamu ya..., gemesin", senyum Putra. Bu Hellen tersenyum melihat tingkah mereka.

__ADS_1


"Itu kita kesana dulu, di sana ada tas dan sepatu, kebetulan Mamah juga ingin mencari tas baru", Bu Hellen menuju tempat tas dan sepatu.


Lagi-lagi Aini dibuat berdecak tidak percaya dengan harga tas yang ada di Mall itu.'Ini mah bisa buat makan orang sekampung, harganya mahal sekali, sayang paling cuma dipakai ke tempat tertentu saja' , pikir Aini.


Bu Hellen asik memilih tas dan sepatu, sementara Aini hanya berkeliling saja melihat-lihat deretan tas dan sepatu, ia mencari tas dan sepatu yang harganya murah, tapi tidak ketemu.


"Sudah dapat, mana tas dan sepatunya ?", tanya Putra begitu melihat Aini yang datang dengan tangan kosong.


"Nggak ah, aku bingung",


"Bingung ..?, kenapa bingung, tinggal pilih saja, ambil yang kamu suka, nggak usah lihat harganya, itu biar Mamah yang tangani,


"Atau, aku saja yang pilihkan ya , kamu duduk di sini saja", Putra kasih pilihan.


"Iya, aku di sini saja, sedikit pusing juga", keluh Aini.


"Ya sudah, tunggu di sini!, Mamah juga masih di sana", Putra menunjuk ke arah Bu Hellen yang masih asik memilih tas dan sepatu.


Aini mengangguk. Putra meninggalkan Aini, ia bermaksud membelikan minuman dan snack buat Aini.


"Ini, minum dulu!", Putra memberikan makanan dan minuman kepada Aini.


"Terima kasih", senyum Aini.


"He....he..., lupa, nomer sepatunya berapa?", Putra kembali menemui Aini.


"Ini pegang dulu!", Putra memberikan keranjang berisi lima tas pilihannya.


"nomer sepatu kamu berapa?", ulang Putra , karena Aini hanya terdiam, ia melihat tas dihadapannya.


"Oh.....itu nomer tiga puluh sembilan", ucap Aini sambil melihat -lihat tas yang ada dihadapannya.


"Aduh...., ini mahal-mahal sekali, sayang, nanti kan cuma dipakai sekali -kali saja", Aini memandang Putra.


"Sudah, aku mau kamu nanti memakai tas-tas itu, nomer tiga puluh sembilan ya?, tunggu aku pilihkan", Putra kembali berkeliling mencarikan sandal dan sepatu buat Aini.


"Wah..., ini bagus , ini mah tas bermerk semua, pasti asli ya, bukan tiruan, harganya selangit", Aini bicara sendiri sambil memegang satu persatu tas pilihan Putra. Sesekali ia melihat para pembeli lain yang sama sedang memilih tas dan sepatu di sana.


"Astaghfirullah", Aini bergidik, ia melihat penampilan mereka yang kebanyakan memakai baju yang terbuka. ' Apa mereka tidak malu?, aku saja yang melihatnya jadi merasa malu sendiri', pikir Aini.


Tak lama Putra datang dengan membawa sekeranjang sepatu dan sandal. Ia duduk di samping Aini. " Ini tuan putri, coba satu-satu, takutnya ada yang kekecilan", pinta Putra sambil tetap tersenyum.


Aini mencoba satu per satu sandal dan sepatu yang dibawa Putra.

__ADS_1


Putra melihat kaki Aini pun berkaos kaki.


"Terus, nanti pakai sandal yang ini gimana?, kakinya kan tertutup kaos kaki?", Putra mengangkat salah satu sandal.


"Gampang, kan ada kaos kaki jari, jadi masih bisa di pakai ", senyum Aini.


"Oh..., ada ya?", senyum Putra.


"Di sini ada stand yang khusus menjual pakaian muslimah?", tanya Aini.


"Ya, ada lah, di sini itu komplit, kamu mau ke sana?",


"Iya, biar kita tidak muter-muter seperti ini, jadi di sana aku bisa membeli semua keperluan aku", senyum Aini.


"Oh..., gitu, nanti tunggu Mamah dulu ya",


"Ih...kamu itu harus banyak menundukkan pandangan di sini, banyak pemandangan maut di sini", kekeh Aini.


"Kalau tidak sengaja kan nggak apa-apa, itu rezeki namanya", kekeh Putra.


"Ih..., kamu , enak ya disuguhi pemandangan seperti itu", Aini memukul paha Putra yang ada di sampingnya.


Putra kaget, ia langsung memandang Aini, ini sentuhan pertama dari Aini, walau di pukul, tapi mampu menggetarkan hatinya, jantungnya seketika berdebar.


Aini pun menunduk dengan wajah memerah, ia refleks memukul Putra.


"Ma...ma...maaf, tidak sengaja", lirih Aini sambil tetap menunduk menyembunyikan wajahnya yang memanas.


"Ah...nggak apa-apa, sering -sering juga boleh", goda Putra. Ia makin gemes saja melihat Aini .


"Ih..., maunya", cemberut Aini.


"Iya..., mau setiap saat", senyum Putra.


"Sudah ah, kamu makin ngawur saja, mana Mamah ya, kok lama", Aini mengalihkan pembicaraan, ia melihat sekeliling mencari keberadaan Bu Hellen.


Namun sayang , Bu Hellen sepertinya masih asik memilih tas dan sepatu. "Wah, Mamah itu bisa berjam -jam kalau sudah masuk toko tas dan sepatu, santai saja dulu, ayo di makan dulu, biar tidak pusing", senyum Putra.


"Kita masih lama di sini, belum ke toko baju, ke toko perhiasan, jadi masih perlu banyak energi", senyum Putra.


Aini menurut, ia mulai memakan kue yang dibelikan Putra, sambil tetap melihat sekeliling.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi. Terlihat Pria itu mengepalkan tangan , dia nampaknya tidak senang melihat kedekatan Putra dan Aini.

__ADS_1


"Cukup hari ini saja kalian bisa senang-senang", gumam pria yang memata-matai Putra dan Aini.


__ADS_2