Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Makin Cinta


__ADS_3

Tak lama Pak Hambali masuk ke ruangannya dengan wajah memerah karena kepanasan. "Ampun Nak, panas sekali hari ini, padahal Bapak hanya keluar sebentar", keluh Pak Hambali.


Putra tidak tega melihat Pak Hambali seperti itu, ia teringat dengan jus mangga yang tadi diberikan Risma padanya.


"Ini Pak, kebetulan ada jus, buat Bapak saja, saya sudah kenyang, tadi Aini juga mengirimi saya makan siang, ini buat Bapak saja", Putra menyodorkan jus mangga kepada Pak Hambali.


"Aduh...,Alhamdulillah, Bapak terima ini, terima kasih Nak", senyum Pak Hambali. Ia membawanya ke meja kerja dan meminumnya.


"Emh...ini enak sekali Nak, beli dari mana?, biar besok-besok Bapak juga beli di sana, ketagihan ini ", kekeh Pak Hambali.


"Emh..., kurang tahu juga Pak, itu tadi Risma yang bawa", senyum Putra.


"Ooh...., tumben", senyum Pak Hambali.


"Sepertinya dia lagi bersedekah Pak", kekeh Putra.


Di luar Risma nampak senang, ia senyum-senyum sendiri sambil mengisi buku laporan di mejanya.


"Hai, senang sekai kayanya", Adis melemparkan kertas bekas yang sudah ia bukatkan dengan tangannya.


"Hai, kesambet apa kamu,, senyum -senyum sendiri ", Adis melirik Risma.


"Ah...nggak, aku lagi seneng saja", Risma kembali fokus dengan laptop di depannya.


Apa tadi Pak Putra mengapat kiriman lagi?", Risma melirik Adis.


"Apa?", Adis balik bertanya, sambil tersenyum.


"Maaf", senyum Adis.


"Tadi apa ada kiriman buat Pak Putra?", Risma mengulangi pertanyaannya.


"Emm..., kiriman apa ya ..., ada juga kiriman makan siang dari istrinya", jelas Adis.


"Nah...itu, jadi masih dikirimi makan siang?, bukannya lagi ngidam ya istrinya, biasanya orang ngidam itu kan malas ngapa-ngapain",


"Ya..itu mah mereka, tidak dengan istrinya Pak Putra", senyum Adis.

__ADS_1


'Ya...sudah lah, aku kan sudah memberinya jus mangga tadi, semoga dia suka', pikir Risma.


Semua staf kembali menyelesaikan pekerjaannya sampai jam pulang tiba. Pak Hambali keluar lebih dulu . Ia hampir melewati meja Risma, namun balik lagi.


"Ris, kamu beli dimana jus mangga tadi?", tanyanya.


"Oh.., jus mangga, itu di cafe seberang Pak", Risma menunjuk ke luar.


"Ada apa Pak?",


"Nggak, ingin tahu saja, tadi jusnya enak, manisnya cukup buat saya, jadi besok-besok saya mau beli di sana, oh iya terima kasih ya jus mangganya, enak, saya sampai ketagihan", senyum Pak Hambali, ia meninggalkan meja Risma


"Jus mangga?, Pak Hambali?, apa jus tadi diminum oleh dia?, bukan sama Pak Putra?", Risma langsung lemas memikirkannya.


Salah sasaran lagi dia.


"Hi...hi ....hi....hi...., jadi kamu yang beliin jus mangga buat Pak Putra, eh...di minumnya oleh Pak Hambali", cicit Siti yang kebetulan mendengar percakapan Pak Hambali dengan Risma.


"Iihhh, diam kamu, dasar tukang nguping", gerutu Risma. Dengan kesal ia bereskan meja kerjanya,rencananya untuk mencuri perhatian Putra, gagal lagi. Bahkan sampai bela-belain membeli jus mangga mahal.


Tak lama Putra pun keluar dari kantornya , sepertinya ia sedang bicara dengan seseorang lewat ponselnya.


"Oh.., boleh, Assalamu'alaikum Bunda", cicit Putra begitu menutup teleponnya.


'Iihhh....sebel, malah tambah bucin saja', pikir Risma. Kupingnya panas mendengar obrolan mesra Putra dengan istrinya.


"Susah banget sih, dasar berhati batu", geram Risma.


Putra sengaja menepikan dulu mobilnya di sebuah swalayan, ia memburu buah-buahan.


Semua buah yang ada disana ia beli, alhasil, saru kantong besar yang ia bawa berisi buah-buahan semua.


Rasanya ingin segera sampai di rumah, ia ingin segera bertemu istri dan calon bayinya yang masih ada di perut.


Putra melajukan mobilnya menuju rumah. "Assalamu'akaikum", Putra mengucap salam, dan langsung menuju lantai atas dengan kresek berisi buah ditangannya.


Ia buka pintu kamar perlahan, ia melihat ke seluruh isi kamar, tak ada tanda-tanda kehadiran istrinya.

__ADS_1


'Kemana dia?', pikir Robi. Ia kembali menuju lantai bawah, ia menuju dapur, siapa tahu Aini ada di sana, namun di dapur pun tidak ada.


'Kemana orang-orang, Bapak dan Ibu juga tidak ada' , pikir Putra. Ia mulai cemas, karena ternyata di rumah tidak ada siapa pun.


"Ya Allah, Aini kamu dimana?", Putra berlaribke luar rumah bermaksud bertanya kepada penjaga rumahnya, namun di gerbang ia melihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya, karena silau, Putra tidak bisa jelas melihat si pengendara.


Setelah mobil berhenti, barulah ia menyadari kalau itu mobil ibunya. Bu Hellen langsung pulang begitu mendengar kabar menantunya sedang mengandung.


"Mamih?", Putra tersenyum begitu melihat Mamihnya yang mengendarai mobil. Di dalam nampak Aini dengan kedua orang tuanya, juga Bi Surti.


"Alhamdulillah..., kirain kemana?, Mih", Putra langsung meraih tangan Mamihnya dan mencium punggung tangannya.


"Mih ..., kok tidak bilang dulu kalau mau pulang, aku kan bisa menjemput tadi", Putra membawakan tas yang yang dijinjing Bu Hellen.


"Ini kan surprise, Mamih langsung pulang begitu mendapat kabar Aini mengandung, Mamih senang, akhirnya sebentar lagi akan ada tangis bayi di rumah ini", senyum Bu Hellen.


"Dan Mamih bawa mereka semua belanja", Bu Hellen menunjuk ke dalam mobil, di sana Aini , orang tuanya dan Bi Surti tersenyum bahagia. Hari itu Bu Hellen mentraktrir mereka semua belanja di Mall.


Mereka bebas membeli semua keinginannya di sana.


"Oh...pantas, di rumah sepi, awas jangan sampai Aini kecapean ya", senyum Putra, ia segera membuka pintu mobil dan menggandeng Aini.


"Nggak cape kok, aku malah senang, apalagi bersama Ibu dan Bapak, ini baru pertama kali mereka ke sana", Aini melirik Bapak dan Ibunya yang terlihat bahagia.


"Iya, ibu baru tahu ada tangga berjalan di sana, belanja di sana itu adem, tidak panas, tidak bau, tapi ya itu, harganya selangit, mahal-mahal, masa Ibu membeli ini saja dapat satu, padahal kalau di pasar bisa dapat tiga ini", kekeh Bu Hana . Ia menunjukkan belanjaannya kepada Putra.


"Jadi...Ibu kapok belanja di sana?", senyum Putra.


"Nggak juga sih..., apalagi kalau dibayarin belanjanya, ya mau lagi", kekeh Bu Hana.


"Hari ini Bi Surti juga nggak usah masak, itu belanjaannya bawa ke dapur, Mamih tadi belanja masakan di sana, hari ini pokoknya semua senang-senang saja", sentum Bu Hellen.


Mereka semua berjalan menuju dapur. Hanya Putra yang membawa Aini langsung ke kamarnya, ia mendudukkan di atas sofa.


"Luruskan kakinya biar tidak pegal", senyum Putra. Ia terlihat sedang memotong buah-buahan yang tadi dibelinya.


"Ini tadi aku beli sepulang kerja, bumil itu harus banyak makan buah-buahan, bagus buat si dede bayi, bagus juga buat ibunya", Putra mengecup kening istrinya.

__ADS_1


Sebenarnya ada keinginan untuk mencumbu istrinya, namun Putra tahan, kini ia merasa takut, kalau aktifitasnya bisa menggangu calon bayinya.


.


__ADS_2