
Dalam perjalanan Pulang, Bu Mona lebih banyak diam, kini dia duduk di jok belakang, menggendong Murano yang sudah tertidur.
Bu Mona merasa berhutang budi , bahkan kini ia merasa berhutang nyawa kepada keluarga Kakek Ilham. Ternyata Kakek Ilham adalah orang yang dulu ia tabrak lari, dan kini cucunya Aini, telah menyelamatkan Murano.
Dengan sekian banyak kebaikan mereka, apa mungkin dia membeli kembali tanahnya, untuk mewujudkan rencananya, padahal Kakek Ilham sudah jelas tidak ingin menjualnya.
Kakek Ilham hanya ingin hidup tenang di sisa usianya berkumpul bersama anak dan cucunya.
Sebuah keinginan yang sederhana, tidak muluk-muluk, bahkan saat dihadapkan dengan uang setumpuk pun, ia tetap tidak mau menjualnya.
"Pah, sepertinya kita harus membantu Kakek Ilham untuk mendapatkan kembali tanahnya", Bu Mona memulai pembicaraan.
"Jadi, rencanamu untuk membangun Perumahan di sini, bagaimana?",
"Itu kan baru rencana, hanya sebatas angan-angan, Mamih malu sama mereka Pah, Mamih berutang budi pada Mereka",
"Aduh..., kok Mamih jadi lebay gitu sih, Mih..., pikirin keuntungan yang akan kita dapat Mih, pasti besar, bisa buat beli mobil baru buat aku kuliah nanti", sewot Mirna .
"Ini lebih dari itu Mir, mereka sangat baik, mereka tidak menuntut Mamih saat menabraknya dulu, dan kini, cucunya sudah menyelamatkan adikmu", tegas Bu Mona.
"Ya...ya...ya..., sudah !, terserah Mamih, tapi yang pasti, mobil baru buat aku harus ada",
"Bagaimana Pah ?", Bu Mona menunggu pendapat dari suaminya.
"Kalau Papah sih setuju saja, Papah yakin, niat baik dan perbuatan baik, akan mendatangkan kebaikan juga buat kita", senyum Pak Purnawan.
"Terima kasih Pah, selalu mendukung Mamih" , Bu Mona tersenyum lega sambil mencium kening Murano.
'Sial, semua ini akan menjegal rencanaku bersama Aditya, akan makin sulit saja untuk memisahkan Aini dengan Putra', pikir Mirna.
Aditya nampak masih bersama Bondan dengan yang lainnya.
"Gimana, tadi apa yang dibicarakan Bu Mona dengan Kakek Ilham?", tanya Aditya kepada Bondan.
"Ah, kacau, tidak ada pembicaraan serius soal tanah ini, yang ada malah drama", keluh Bondan.
"Drama gimana maksud loe?", Heran Aditya.
__ADS_1
"Ternyata Bu Mona dulu sempat menabrak lari Kakek Ilham waktu sedang berjualan keliling di Kota",
"Terus gimana?", penasaran Bimo.
"Yah,jadinya Bu Mona merasa bersalah pada Kakek Ilham, nggak mungkin dong kalau sudah begitu , dia tega membeli tanah Kakek Ilham",
"Terus tadi waktu anaknya yang cowo hilang, Aini dan Putra kan yang menemukannya, jadi ya...., makin lengkap saja rasa berutang budinya Bu Mona kepada Keluarga Kakek Ilham", jelas Bondan.
"Kalau begitu..., sudah tidak ada harapan lagi bagi kita untuk bisa meneruskan proyek di sini, srpertinya Bu Mona akan balik mendukung Kakek Ilham, begitu kan?", Bimo menatap Bondan.
"Ya, begitu, kemungkinannya",
"Sudah!, itu kita pikirkan lagi nanti", Aditya beranjak masuk ke dalam tenda.
"Itu sepertinya mobil milik Putra, dia mau balik mungkin", Seru Bimo menunjuk ke arah jalan.
"Boss, si Putra balik tuh, mau dibiarkan saja?", teriak Bondan memanggil Aditya.
"Lagi malas Gue, biarkan saja", terdengar suara Aditya dari dalam tenda.
Mobil yang dikendarai Putra meluncur menuju rumahnya. Dia akan membicarakan pernikahannya bersama Aini dengan kedua orang tuanya.
"Eh..., anak Mamah, baru pulang?", sapa Bu Hellen begitu melihat Putra memasuki ruang makan.
"Ayo makan sekalian", tawari Pak Handoko.
"Sudah Pah, aku sudah makan", senyum Putra.
"Alah..., mentang-mentang sudah ada Aini, sudah lupa saja makan bersama kita, ya Pah",
Pak Handoko hanya mengulum senyum.
"Mamah juga dulu sering masakin Papah kan?", Putra menatap Bu Hellen.
"Mamah ini nggak pintar memasak seperti Aini, seringnya kita makan di luar ya Pah", senyum Bu Hellen.
"Nanti kalau Aini sudah menjadi mantu Mamah, Mamah akan belajar memasak dari Aini",
__ADS_1
"Wah..., sepertinya sudah ada lampu hijau nih, jadi boleh nih Pah, Putra menikahi Aini begitu dia lulus sekolah?", Putra menatap kedua orang tuanya.
"Gimana Pah?",
"Kalau Papah sih setuju saja, asal kamu tetap kuliah , kalau bisa sampai S2, atau Doktor sekalian, tapi ingat, kalau sudah menikah, kamu harus bisa memberi nafkah Aini dari hasil kerja kamu sendiri, itu kewajiban loh, kalau sanggup, Papah setuju kamu nikahi Aini", jelas Pak Handoko.
"Baik Pah, aku setuju", senyum Putra.
"Jangan begitu Pah, kasihan Putra, kalau harus kuliah sambil bekerja juga, mana bisa fokus", bela Bu Hellen.
"Putra kan anak kita satu-satunya, pewaris tunggal pah, biarkan dia menikmatinya, kenapa harus bekerja juga", Bu Hellen memegang tangan suaminya.
"Iya, kan Putra bekerjanya di Kantor Papah Mah, sekalian dia belajar cara menjalankan Perusahaan, nanti juga Dia kan yang akan menggantikan Papah di Kantor",
"Oh..., kirain bekerja gimana gitu", senyum Bu Hellen.
"Mamah nggak mau ngelihat kamu kerja serabutan",
"Sering-sering ajak Aini ke sini, biar Dia terbiasa", saran Bu Hellen.
"Maunya setiap hari Mah, setiap pulang juga ingin Putra bawa ke sini, tapi Nggak enak Mah, belum sah, malu sama tetangga, nanti bakalan ada bisik- bisik tetangga lagi", senyum Putra.
"Alah kamu ini, lihat nih Pah, ini mah minta cepat-cepat dinikahkan, biar bebas bawa Aini ke sini",
"Ya,memang harus begitu Mah, menikah dulu, baru bisa bebas ke mana-mana berdua, anak sekarang sudah pada ngerti soal itu, tapi kebanyakan yang kebablasan, menikah setelah mereka bebas bergaul, makanya tidak jarang yang baru beberapa bulan menikah, anaknya sudah lahir", senyum Pak Handoko.
"Nah..., dengar itu, jangan sampai kebablasan ya sayang, ingat nama baik keluarga juga harus kamu jaga, lagi pula tidak akan berkah pernikahannya, kalau diawali oleh perbuatan salah", Bu Hellen mengelus lembut kepala Putra.
"Makanya itu Mah, Putra ingin cepat menikah, biar nggak kebablasan", kekeh Putra.
"Iya,nggak apa-apa, biar Mamah cepat punya cucu, sudah nggak sabar mendengar tangis bayi, setelah kamu, Mamah tidak bisa mempunyai bayi lagi ", terawang Bu Hellen.
"Jadi Mamah berharap kamu dan Aini memberikan Mamah banyak cucu, biar rumah ini ramai oleh tawa dan tangis anak kecil, Mamah tidak mau kesepian di hari tua",
"Tapi nanti Aini boleh kan kuliah lagi?, sayang Mah..., dia itu pintar",
"Oh..., boleh , itu baik untuk masa depan kalian, Mamah setuju, kalau untuk anak-anak kalian, bisa menyewa baby sitter kan, tapi jangan khawatir, Mamah juga akan ikut membantu menjaga cucu Mamah", senyum Bu Helle
__ADS_1
Obrolan hangat mereka berlanjut hampir sampai tengah malam di ruang keluarga, sambil menonton tv.