
"Kita mau ke mana?", lirik Aini kepada Putra.
"Ini daerah mana ya, Papah yang telah memilihkan", Aditya membuka amplop pemberian papahnya. Disana sudah komplit, ada tiket hotel, tiket tempat wisata, dan uang tunai juga, untuk jajan katanya.
"Duh, Papah..., ada-ada saja", senyum Putra.
"Kita mau ka daerah Ciwidey ya Pak?", tanya Putra kepada Pak sopir.
"Iya Den, kita mau ke Ciwidey, di sana dingin, cocok untuk pasangan pengantin baru, bikin betah di kamar", kekeh Pak Supir.
"Ah...Bapak, bisa saja", senyum Putra. Ia memandang Aini dan menggenggam tangannya erat. 'Ini sudah sah, dia sudah menjadi hak aku', pikir Putra.
Aini hanya tertunduk, 'Aduh...gimana ini, pasti Mas malam ini akan meminta haknya, sedangkan aku tidak bisa, pasti Mas Putra akan kecewa', pikir Aini.
'Pasti Aini sudah gugup duluan, ini tangannya sampai keringat dingin', pikir Putra, ia tersenyum menatap Aini.
"Masih jauh ya Pak?, bisa mencari pom bensin dulu, saya mau ke kamar kecil", pinta Putra.
Pak Supir tersenyum , "Nanti di depan Den, sebentar lagi, tuh kan..., apa Bapak bilang, di sini itu dingin, pingin ke luar terus",
Tak berapa lama mobil pun menepi di sebuah pom bensin. "Mau ke kamar kecil nggak?", Putra melirik Aini.
Aini mengangguk, ia mengikuti Putra menuju kamar kecil. "Aduh..., gimana ini malah mules lagi", gumam Aini. Ia meringis menahan sakit dan begah di perut bagian bawah.
Putra terlihat membeli sakantong makanan, dan dua buah mie instant cup untuk menghangatkan tubuhnya.
"Sudah selesai?, ini ..., enak dimakan dingin-dingin begini", senyum Putra. Ia memberikan cup mie instant yang satunya kepada Aini.
"Terima kasih" , ucap Aini. Mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan mereka.
"Aduh...", Aini mengaduh begitu mobil tiba-tiba di rem. Air mie instant cup nya menciprat ke tangannya.
"Hati -hati Pak!", Putra menegur dengan suara agak keras. Ia mengambil tisu dan mengeringkan tangan Aini yang terkena cipratan air mie instant.
"Iya...maaf Den, itu mobil di depan tiba-tiba berhenti, Neng maafkan Bapak ya?", Pak sopir melirik Aini.
"Sudah Pak, tidak apa-apa kok", senyum Aini, Aini memegang tangan Putra, dan menatapnya sambil tersenyum.
Setelah itu, mobil melaju perlahan, rupanya Pak sopir takut mengulangi hal seperti tadi.
Aini terlihat mengantuk setelah perutnya terisi . Ia tertidur sambil terduduk. Putra menyadari itu, lalu ia mendekatkan duduknya drngan Aini, dan menyandarkan kepala Aini ke pundaknya.
Hingga Aini tertidur lelap.
Mobil yang dikendarai Putra sudah menepi dan memasuki halaman sebuah Hotel mewah .
"Silahkan Den, kita sudah sampai", Pak sopir memberitahu.
__ADS_1
"Oh iya terima kasih, sebentar ya Pak, istri saya tertidur", rengkuh Putra.
"Iya Den", senyum Pak Supir.
Lalu Putra terlihat menelepon resepsionis Hotel dan mengkonfirmasi kedatangan dirinya. Ia juga meminta room boy untuk menjemput dan membawakan barang -barangnya ke kamar yang sudah dipesan kemarin.
Sementara Putra masih duduk dengan Aini yang masih tertidur di pundaknya. Putra tidak tega untuk membangunkannya. Ia malah bingung, 'Bagaimana ini, Aini nyenyak sekali tidurnya, mungkin ia kelelahan setelah menerima banyaknya tamu seharian.
"Sudah Tuan, semua barang-barangnya sudah sampai di kamar", seorang room boy memberitahu dengan tersenyum.
"Iya terima kasih", Putra terdiam, lalu dia membuka pintu mobil dengan perlahan, ia rengkuh tubuh istrinya dan menggendongnya menuju kamar Hotel.
Putra tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang dilewatinya, ia menggendong Aini hingga ke kamar yang sudah dipesannya.
Susah payah ia membuka pintu kamar, sambil tetap menahan tubuh Aini di tangannya. Putra terpaku begitu melihat kamar hotel yang akan ditempatinya.
Rupanya kamar itu sudah dirias sedemikian rupa, tak ubahnya seperti kamar pengantin saja, harum bunga semerbak di seluruh ruangan.
Putra melangkah dan membaringkan tubuh Aini perlahan di atas ranjang, ia takut Aini terbangun.
Putra lagi-lagi tidak ingin mengganggu tidurnya Aini, ia masih berdiri di samping tempat tidur sambil menatap Aini, ia terlihat makin cantik saja kalau sedang tidur.
Ingin rasanya ia menemaninya tidur, tapi Putra urungkan, ia ingin menunggu sampai Aini bangun.
Putra hidupkan televisi untuk mengusir rasa bosannya, ia juga iseng membuka ponselnya, di sana ada banyak chat yang masuk, salah satunya dari Bu Hellen, mamahnya.
"Astaghfirullah ..., Mamah ini kok tambah nyeleneh saja", Putra merasa kesal kepada mamahnya.
"Kok, kaya bukan seorang wanita saja, masih mempersoalkan masalah itu", gerutu Putra. Ia tidak suka dengan sikap mamahnya yang dinilainya keterlaluan.
Putra berinisiatif untuk mandi duluan, ia meninggalkan Aini yang masih tertidur. Putra membersihkan dirinya, tubuhnya terasa gerah,setelah berkendara .
Saat sudah selesai mandi pun, Aini masih tertidur. Putra cepat-cepat berganti pakaian . Ia tidak sengaja mengeluarkan pakaian dalam Aini, yang keluar saat ia mengambil pakaiannya.
Memang waktu berangkat tadi, Aini menyatukan pakaian mereka dalam satu koper.
Putra tersenyum saat memunguti pakaian-pakaian dalam Aini, ini untuk pertama kalinya ia memegang langsung pakaian dalam wanita.
"Ini baru permulaan, nanti lama-lama juga akan terbiasa", guman Putra, ia membereskan kembali isi koper yang sempat berantakan.
Ia berjalan mendekati Aini. Tidak sengaja bagian kerudung Aini terbuka karena gerakan refleksnya saat tidur, bagian itu memperlihatkan bagian dada Aini yang terlihat ranum.
Melihat pemandangan itu, jantung Putra berdetak cepat, darahnya mulai panas, nalurinya bergejolak.
Ia tahu semua itu sudah menjadi haknya sekarang, tapi ia tidak ingin mengambil haknya saat Aini tertidur.
Ia ingin Aini sendiri yang memberikannya . Putra hanya bisa menelan salivanya, ia duduk di samping Aini, tangannya membetulkan letak kerudung Aini, hingga bagian yang terbuka itu, tertutup lagi, "Kamu memang benar-benar cantik sayang", gumam Putra.
__ADS_1
"Plakk", tangannya di tepis Aini.
"Aww.....", Putra mengaduh.
Waktu itu juga mata Aini terbuka ,"Ma...maaf..., tadi refleks, seperti ada yang mau menyentuh aku", Aini tengok kanan kiri.
"Ah..., mimpi kali, habis tidurnya nyenyak sekali" , senyum Putra.
"Maaf..., sakit ya", senyum Aini.
"Nggak sakit, mau lagi kok", goda Putra.
"Sudah Full baterainya?, ayo mandi biar segar!", senyum Putra.
"Iihhh, dingin...., nggak mau mandi ah",
"Di sini airnya hangat, nggak dingin",
"Wah...., yang benar", senyum Aini
"Nggak percaya?, ayo tak mandiin sekalian biar tambah hangat", goda Putra.
"Ih...maunya, malu tahu", Aini melengos, wajahnya memanas.
"Nggak usah malu, sekarang kan kita sudah halal, sudah sah", senyum Putra.
"Degh...", kembali Aini berdebar. Ia buru-buru turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Aini sekalian membawa baju ganti, ia keluar dari kamar mandi dengan setelan gamis dan kerudungnya.
Putra melongo melihat Aini dengan setelan gamisnya, padahal sedari tadi ia membayangkan Aini ke luar dengan memakai lingereis .
"Kok bengong?", tatap Aini .
"Kenapa?, memangnya ada yang salah?", Aini melihat dirinya sendiri dari atas sampai bawah.
"Ini kan malam pertama kita, kok pake setelan gamis begitu", senyum Putra.
Aini menghampiri Putra, tepat didepannya, jaraknya dekat sekali, sampai Putra dapat merasakan hembusan nafas Aini menerpa wajahnya.
"Aku sekarang memang milikmu, tapi maaf...., aku lagi dapat siklus bulanan, aku tidak bisa memberikan hakmu malam ini", Aini menunduk. Ia tidak tega menatap suaminya yang pasti akan sangat kecewa.
"Aini sayang...., itu kan sudah kodratmu, tidak apa-apa, masih banyak waktu , kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu", senyum Putra. Ia menengadahkan wajah Aini, lalu membelainya.
"Hanya yang itu yang nggak bisa, tapi yang ini dan ini, juga yang lainnya masih bisa kan", senyum Putra. Ia memeluk Aini erat, dan menggendongnya ke atas tempat tidur, kita simulasi saja dulu", bisik Putra.
Nafasnya sudah terengah-engah, Aini mengangguk dengan tersenyum, ia tidak menyangka dengan reaksi Putra, memang benar-benar suami yang sempurna.
__ADS_1