
"Boleh pesan lagi nggak?", Putra memandang Aini yang baru saja selesai memasakkan pesanan Bu Hellen.
"Aku mau dibuatin sambel bawang, tumis kangkung, sama balado tulang jambal", pinta Putra dengan tersenyum.
"Aini yang baru mau beranjak ke wastafel, berdiri ditempat, "Bi..., apa bahan-bahannya ada?",
"Coba cari saja di kulkas Neng", Bi Surti tidak menengok karena sedang fokus mencuci piring.
"Iih..., ada -ada saja, itu kan menu di rumah Aini, kalau di sini pasti pada tidak suka", omel Aini. Ia berjalan menuju lemari es. Ia membukanya dan kembali mencari bahan-bahan untuk memasak pesanan Putra.
Ternyata tidak ada tulang jambalnya, ada juga tulang iga dan ikan.
Aini berinisiatif membawa tulang iga saja. Setelah itu, ia kembali memasaknya. Harumnya menyebar hingga ke tempat Bu Hellen yang sedang fokus pada ponselnya.
Hidungnya mengendus bau harum dari dapur yang membuat perutnya menjerit pingin di isi.
"Hmm...wangi sekali, Bi Surti sudah selesai lagi memasaknya", Bu Hellen beranjak ke dapur. Terlihat Bi Surti sedang menyapu di ruang tamu.
"Lho...kok di sini?, jadi , yang memasak siapa Bi?", Bu Hellen terlihat bingung.
"Itu Neng Aini yang memasak Bu, pesanan Ibu sudah matang, itu Neng Aini sedang memasak pesanan Den Putra", jeladkan Bi Surti.
"Oohh..., masak apa ya?,harum sekali" , Bu Hellen menuju dapur. Di sana ia melihat Putra sedang menemani Aini memasak, Putra terlihat senang. Bu Hellen tidak pernah melihatnya sesenang itu.
Bu Hellen memperhatikannya di ambang pintu dapur, ia ikut merasa senang. "Hmm..., siapa gadis itu, kok sepertinya Putra menyukainya", guman Bu Hellen.
"Tidak masalah sih, siapa dia, yang penting Putra bahagia", gumamnya lagi.
Putra mengetahui ibunya berdiri di sana. "Mah sini !, kok malah berdiri, kita masak enak nih", teriak Putra melambai ke arah ibunya..Bu Hellen tersenyum dan menghampirinya.
"Wow, sedang memasak apa?, tadi Mamah sampai ngiler, padahal baru mencium baunya saja..
"Ini nih Mah, Putra minta dimasakin balado tulang jambal", senyum Putra.
"Tulang jambal, emang ada?, Mamah tidak begitu suka ikan asin".
"Wah, kalau ini Mama perlu coba , pasti suka", senyum Putra.
"Kita lihat saja nanti", Bu Hellen melengos,
"Cepetan ya masak nya, Mamah tunggu di meja makan",
Putra tersenyum, ia merasa lucu dengan tingkah ibunya.
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak cabainya, Ibu tidak terlalu suka pedas", pinta Putra kepada Aini yang sedang merajang cabai buat sambal.
"Segini cukup?", Aini memperlihatkan cabai yang akan direngkuhnya.
"Iya, cukup, lima buah saja", senyum Putra.
"Tadi di kulkas aku tidak menemukan tulang jambal", Aini memandang Putra.
"Terus itu yang di masak apa?", penasaran Putra.
"Emh..., aku ganti dengan tulang iga", senyum Aini.
"Tulang iga?",
Aini mengangguk, "kenapa?, nggak boleh ya?",
"Tulang iga itu favoritnya Mamah", senyum Putra.
"Kirain mau marah", cemberut Aini.
"Nggak mungkin marah sama anak selucu ini", Putra mau mencubit pipi Aini. Aini meriutkan tubuhnya, kedua tangannya berada di samping kiri kanan pipinya, ia mencoba menghindar.
Aini hampir saja menjatuhkan piring yang tersenggol, namun dengan sigap Putra menangkapnya. "Astaghfirullah,hampir saja",
"Baik Tuan Puteri",senyum putra. Ia kembali berdiri tegak di samping Aini.
Aini mulai mengrengkuh sambal, namun ada cipratan air yang meluncur ke arah matanya.
"Astaghfirullah, Awww...., refleks Aini menunduk dan mengusap-ngusap matanya dengan lengan atasnya.
Putra segera menghampiri Aini, "Sini -sini-sini" ia menuntun Aini menuju wastafel, coba basuh matanya dengan air mengalir, jangan di kucek ya!, sudah, coba lihat sini!", Putra berdiri berhadapan dengan Aini, "Coba buka matanya perlahan", suara Putra bergetar seiring debaran di dalam hatinya yang kian bergelora, ini kali kedua ia berdekatan dengan Aini.
Aini menyadari itu, ia segera berbalik badan dan merapikan posisi hijabnya. "Sudah , nggak apa-apa", Wila melanjutkan aktifitas memasaknya.
Putra hanya bisa memandangnya dari meja makan, ia takut kembali terjebak dalam perasaan yang sama.
"Ini !, semua sudah beres?, Wila menyimpan semua masakan yang telah dimasaknya di atas meja makan.
"Wawww, ini kayanya enak sekali, Mah sini!, ini sudah tersedia, kita makan siang bareng", ajak Putra dengan sedikit berteriak karena Bu Hellen berada di ruang keluarga.
" Mah, Putra duluan saja ya!, sudah nggak tahan nih", Putra segera mengisi piringnya dengan nasi dan lauknya buatan Aini.
"Sini ikut makan!, kok malah bengong gitu", ajak Putra kepada Aini yang sedari hanya berdiri menyaksikan tingkah Putra .
__ADS_1
"Sini duduk!", Putra menggeser kursi disampingnya, memberi tempat untuk Aini duduk.
Aini pun duduk di samping Putra.
Tak lama datang Bu Hellen, ia memperhatikan Putra yang seperti kelaparan saja, mengambil setiap masakan yang Aini buat, hingga memenuhi piring makannya. Lalu ia mulai memakannya dengan lahap.
Melihat cara makan Putra, Bu Hellen jadi ngiler, ia mulai menggeser kursi di depan Putra dan duduk di sana. Ia memperhatikan setiap masakan buatan Aini. 'Hmmm, sepertinya enak', pikirnya.
"Ayo dong Mah, makan!, kok malah lihatin Putra makan",
"Yang ini apa?", Bu Hellen menunjuk ke arah balado iga di hadapannya.
"Itu, balado iga Bu, ?", jawab Aini.
"Iga?", yang di prezer ?",
"Ita Bu, tadi Kak Putra minta dibuatkan balado tulang jambal nggak ada bahannya, jadi saya pakai iga saja", Aini menunduk, ia takut Bu Hellen marah.
"Aduh..., kenapa nggak bilang dari tadi kalau ada iga", Bu Hellen langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta balado iga buatan Aini.
"Hmmm, ini enak sekali, empuk lagi", puji Bu Hellen, ia begitu menikmati makanannya.
"Assalamu'alaikum", Pak Handoko sudah berada di ambang pintu dapur, "Aduh-aduh, ini yang makan siang kok nggak nunggu Papah pulang sih" senyum Pak Handoko.
"Aduh..., maaf Pah, sudah nggak kuat, mencium harumnya saja sudah ngiler.
"Pah, ini semua buatan Aini", kabari Putra.
Pak Handoko melihat ke arah Aini dan tersenyum kepadanya, "Ini Aini cucunya Kek Ilham ya?, yakinkan Pak Handoko.
"Iya Pak, saya Aini, anaknya Pak Arman", rengkuh Aini.
"Sudah Pah, makan dulu aja!, nanti ibu habiskan iga nya?" , senyum Bu Hellen.
"Wow..., ini buatan Aini?", senyum Pak Handoko, ia mulai mengambil posisi di samping Bu Hellen dan mulai mengambil makanan.
"Hhmmm, ini enak sekali, seperti menu di restoran tempat Papah makan, malah ini lebih enak", puji Pak Handoko".
"Hap...hap...", Putra seolah sedang menangkap sesuatu di atas kepalanya.
"Kenapa , ada apa?", Bu Hellen merasa heran.
"Ini Mah, nangkap hidungnya Aini, dari tadi di puji terus", kekeh Putra.
__ADS_1
"Kamu ini ada-ada saja", senyum Bu Hellen.