
"Kamu langsung antar Aini saja, tuh di depan pesenin martabak dulu buat orang tua Aini", pinta Bu Hellen.
"Dua ya Mah, buat Kakek juga, Putra suka nginep di rumah Kakek soalnya", senyum Putra. Ia langsung memesan dua buah martabak manis.
"Boleh, sok aja, terserah kamu saja" ,
"Nggak usah repot-repot Mah, ini belanjaan Aini juga sudah banyak", tolak Aini.
"Nggak apa-apa, nggak enak lagi, anaknya di bawa lama-lama, giliran pulang, nggak membawa oleh-oleh, kan malu nanti Mamah" , senyum Bu Hellen.
"Ini uangnya Mang", Putra memberikan uang untuk dua martabak yang kini sudah ada ditangannya.
"Terima kasih, Den", rengkuh penjual martabak .
Putra melajukan mobilnya menuju rumah dan setelah itu ia akan mengantar Aini pulang.
* * *
"Pah, Mamah jadi kepikiran Kakek Ilham terus. Mamah ingin membantu membebaskan kembali tanah miliknya" , Bu Mona menerawang.
"Mamah ingin menebus kesalahan Mamah dulu, telah membiarkannya saat Mamahya menabraknya sepuluh tahun lalu",
"Mamah juga tertarik membeli tanah di sana, kita bangun Villa Pah, buat kita liburan, suasananya masih asri, Mamah suka",
Pak Purnawan hanya mendengarkan saja, ia sedang fokus membaca surat kabar, sambil sesekali menyeruput kopi panasnya.
"Pagi Mah, Pah", Mirna menyapa mereka dan langsung mengambil posisi di dekat mamahnya.
"Murano sudah bangun?", Bu Mona melirik Mirna yang sedang mengoles selai coklat pada rotinya.
"Kedengarannya sudah sih, tadi aku dengar nada ponselnya, biasalah, bangun-bangun langsung main game",
"Aduh..., itu anak, kok susah sekali lepas dari main game", keluh Bu Mona.
"Pah, cari cara gitu, biar Murano bisa lepas dari main game, ya...., setidaknya bisa mengurangi durasinya, nggak baik lo...,takutnya nanti malah kecanduan", kini Bu Mona meminta bantuan suaminya.
"Ya..., gimana?, Papah juga bingung. Dulu juga kan pernah di coba, tapi tetap nggak berhasil",
"Harus dialihkan pada permainan lain Pah, tapi apa ya, yang bisa menarik buat Murano", Bu Mona menerawang.
__ADS_1
"Oh..., itu aja Pah, Mamah baru ingat, waktu di Desa , Murano sempat mengejar binatang apa ya, mungkin itu bisa di coba, kita belikan dia binatang peliharaan, gimana Pah?", Bu Mona melihat ke arah suaminya.
"Boleh di coba tuh, siapa tahu kali ini berhasil, nanti akhir pekan ini kita ke desanya Kakek Ilham lagi aja, gimana?", usul Pak Purnawan.
"Mamah setuju Pah, Mamah ingin lebih dekat dengan keluarga Kakek Ilham", Bu Mona nampak sumringah.
"Terus acara aku gimana nih, terus saja Murano, akhir pekan ini aku kan ada acara kelulusan", Mirna cemberut.
"Tenang saja sayang, kita ikut acara kamu dulu, setelah itu baru kita ke rumah Kakek Ilham", senyum Bu Mona, ia mengelus lembut kepala putrinya.
"Ya , sudah aku berangkat dulu, oh...iya, Papah kan sudah janji mau ngantar ke sekolah, kali-kali dong Pah, Papah yang ngantar, mumpung lagi libur kan?",Mirna menggaet pergelangan papahnya denga manja.
"Lihat nih Mah, sudah SMA , kaya anak kecil saja", Pak Purnawan melirik istrinya sambil mengulum senyum.
"Ya nggak apa-apa juga kali Pah, sekali-kali manjain anak nggak ada salahnya", senyum Bu Mona.
"Ya sudah , ayo!, sekalian Papah ke bengkel , cek up dulu semua, kan mau di bawa offroad akhir pekan nanti",
Mirna dengan sumringah menggandeng tangan Papahnya menuju mobil, ia senang sekali hari ini papahnya bisa mengantar ke Sekolah.
Kehangatan keluarga seperti inilah yang Mirna inginkan. Bukan hanya dipenuhi materi, tapi sepi hati.
Ada setitik api yang membakar hatinya, namun tidak sebesar waktu pertama, kini Mirna mulai berdamai dengan keadaan, faktanya Putra memang mencintai Aini, tidak mungkin ia hadir sebagai perusak hubungan mereka.
"Bukannya itu cucunya Kakek Ilham?", Pak Purnawan mengenali Aini.
"Iya, Pah...", jawab Mirna singkat.
"Siapa pemuda yang bersamanya itu?",
"Itu Mahasiswa PPL di Sekolah aku Pah",
"Kenapa bisa bareng?, memang rumahnya dekat?, di desa Aini juga ada yang kuliah ya",
"Aduh....Papah....", geram Mirna dengan suara di tahan, ia kesal karena papahnya banyak bertanya.
"Kenapa, ada apa Mir?", Pak Purnawan menengok ke belakang, melihat anaknya.
"Cepetan Pah...., Mirna kebelet nih", alasan Mirna, padahal ia tidak ingin papahnya bertanya ini itu lagi.
__ADS_1
"Oke!, nyampe", seru Pak Purnawan. Mirna langsung keluar mobil sesudah pamit dan mencium punggung tangan kanan papahnya. "Nanti pulangnya di jemput sopir ya", seru Pak Purnawan.
"Iya , Pah", jawab Mirna tanpa menoleh lagi .
Mirna berjalan cepat, ia ingin menghindari Putra, sayang karena terburu-buru, kakinya tersandung tembok.
"Aw...aw...", Mirna terhuyung, ia hampir terjatuh, namun ada tangan yang menyambar tubuhnya, hingga ia tidak terjatuh, hampir saja tubuhnya menabrak kursi taman.
"Astaghfirullah, kamu tidak apa-apa?" , sebuah suara menyadarkan Mirna dari keterkejutannya.
Ia menoleh, dan Aini yang kini menopang tubuhnya. Mirna segera menjauh dan melepaskan pegangan tangan Aini dari tubuhnya.
"Ma...ma...af, terima kasih", ucapnya dengan kikuk.
"Nggak apa-apa, hati-hati!, ini sepertinya baru di pasang , jadi licin. Aini memeriksa lantai yang dipijak Mirna.
Terdengar bel tanda masuk sekolah berbunyi, Mirna kembali akan melangkahkan kakinya namun ia mengaduh kembali, kakinya terasa sakit saat dipijakkan.
"Sepertinya kakimu tetkilir, ini harus segera diobati, kita je ruang UKS saja ya", ajak Aini.
"Nggak usah, aku mau nunggu Aliya dan Sinta saja", tolak Mirna.
"Mereka mungkin sudah ada di dalam kelas", sahut Aini.
"Sini, biar aku lihat dulu kondisi kakimu, mungkin saja ada lukanya, biar kita obati dulu", tawari Aini.
"Sudah, nggak usah, kita ke kelas saja", Mirna mencoba melangkahkan kakinya kembali. Namun lagi-lagi ia mengaduh, ternyata buat melangkah juga terasa sakit.
"Sini pegang ke pinggang aku, kita berjalan pelan saja", ajak Aini, ia memapah Mirna berjalan hingga ke depan kelas, di sana baru Aliya dan Sinta memburunya.
"Aduh Mir, kamu kenapa?, pantesan ditungguin di Kantin tidak ada, nggak tahunya kamu sudah punya bestie baru nih", sinta manyun, ia bicara dengan suara pelan, takut di dengar oleh temannya yang lain.
Sementara Aini langsung duduk di kursinya.
"Ihh..., kalian ya, biasanya juga tungguin aku dulu, kok hari ini malah masuk duluan", cemberut Mirna. "Aini yang menolong aku", tegas Mirna.
"Ya ...maaf, kan biasanya juga kita janjian di Kantin, jadi tadi aku dan Sinta nungguin di Kantin", jelas Aliya.
"Jangan bilang kamu meleleh sama dia, baru ditolong gitu saja udah lebay", cibir Sinta.
__ADS_1
Mereka kini sudah duduk di kursi masing-masing, Mirna melirik Aini, dan kebetulan Aini pun lagi melihatnya, pandangan mereka terkunci, dan Mirna melemparkan senyuman ke arah Aini, dan Aini membalasnya.