
"Maaf..., mungkin sebaiknya saya pulang", Mirna membalikkan badan.
"Tunggu, kamu yang telah membawa Aditya ke sini, kamu juga sudah mengetahui kondisi Aditya, jadi, saya berterima kasih sekali kepada kamu, dan soal kondisi Adit, saya harap kamu bisa menjaga rahasia ini",
"Mungkin akan banyak wanita yang akan berfikir seribu kali untuk menikah dengan anak saya, yang tidak bakal bisa memberinya keturunan", Pak Dirman menunduk.
Mirna menatap Pak Dirman, yang masih menunduk, ia melihat raut kekecewaan di wajahnya.
Pastilah Pak Dirman menggantungkan harapannya kepada anak sematawayangnya itu, namun kini semua harapan itu terasa sirna.
Anak yang ia harapkan bisa menjadi kebanggaannya, kini harus terkapar tidak berdaya karena ulahnya sendiri.
"Tidak semua orang berpikiran seperti itu Pak , yakinlah setiap orang itu Allah ciptakan beserta pasangannya, kalau begitu, saya permisi duly, Bapak yang tabah ya?, nanti Insha Allah, saya mengunjungi Adit lagi", Tiara beranjak pergi meninggalkan Pak Dirman , kedua laki-laki yang bersamanya tadi pun sudah kembali bersamanya.
'Kok jadi penasaran, apa yang sebenarnya terjadi dengan Risma, aku sammperin saja ke Apartementnya, sekalian saja ajak ke rumah Abah, biar dia sedikit fres, tidak stress", cicit Mirna.
Mirna menuju Apartementnya, baru dua hari ini ia juga tinggal di Apartement yang sama dengan Risma, biar jarak ke kantor tidak terlalu jauh pikirnya.
Setelah membersihkan diri, Mirna menuju Apartement Risma, kamar mereka hanya berjarak dua kamar saja.
Mirna memijit bel, ia berdiri mematung menunggu di depan pintu.
'Kemana dia, kok lama', Mirna masih menunggu.
Ia menyandarkan tubuhnya di pintu. Terdengar suara kunci di buka dan perlahan pintu pun terbuka.
Ia melihat Risma kepayahan, ia terlihat sedang tidak baik-baik saja, wajahnya pucat dan tubihnya lemas. Mirna sampai harus menopang tubuh Risma.
"Ya Allah Ris, kamu kenapa?, kita ke Dokter saja, kamu bandel sih, sakit kok dibiarin", Mirna mendumel. Ia meminta tolong petugas yang kebetulan lewat untuk membantunya memapah Risma menuju luar.
__ADS_1
Mirna menyetop sebuah taxi dan membawanya ke Dokter.
Mirna melihat Risma kini sudah tidak sadarkan diri, ia sedang ditangani oleh beberapa perawat.
"Anda keluarga pasien yang di dalam?", tanyai seseorang yang berjas putih kepada mirna.
"Oh..., saya teman satu apartemennya, kenapa dengan teman saya Dok?", Mirna balik bertanya.
"Kita bicara di dalam saja", Dokter tersebut berjalan menuju ruangannya diikuti Mirna, setelah itu mereka duduk berhadapan.
"Maaf, apa teman anda itu sudah bersuami?", Dokter memulai pertanyaan.
"Setahu saya belum Dok, memangnya ada apa?", Mirna tampak tambah penasaran.
"Dari hasil pemeriksaan , teman anda sedang mengandung, dan mau memasuli minggu ke enam, usia yang masih rawan, karenanya harus dijaga pola makan dan jangan terlalu kecapean", ungkap Dokter.
'Ya Allah Risma..., kok bisa terjadi?, siapa orangnya?', Mirna bicara dalam hatinya.
Mirna menerimanya, ia pamit ke luar. Di sana Mirna bimbang, apa langsung beritahu Risma saja tentang keadaannya saat ini?, tapi takutnya malah membuat Risma malu dan shock, dan itu akan mengguncang pikirannya.
Mirna mematung begitu sampai di depan kamar Risma. Ia tidak menyangka Risma bertindak sejauh itu, dan itu adalah tindakan bodoh.
'Siapa laki-laki itu',Mirna menduga-duga.
Walau berat , ia masuk juga ke ruangan Risma . Di sana Risma sudah sadar, ia sedang asik mantengin ponselnya, sampai ia tidak menyadari kehadiran Mirna.
'Iihh..., apa dia tidak nyadar gitu,masa tidak ngeh sih', Mirna bicara dalam hatinya.
"Mirna?, kamu...ada di sini?, Risma menggeser tubuhnya, hingga ia duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Lah...kan aku kan membawamu ke sini",
"Oh..., memangnya tadi aku pingsan ya?", Risma menatap Mirna.
"Ya elah..., sampai nggak ingat gitu, berarti benar pingsan",
"Kok bisa ya..., aku baru pertama pingsan lho..., baru kali ini", senyum Risma.
"Tapi aku sudah bisa pulang kan?, di sini bau obat, bikin euneug", Risma menutup mulutnya.
'Ya...jelas lah..., kamu lagi ngidam Ris', pikir Mirna.
Ia sedang mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini dengan Risma.
Sebenarnya Risma sudah tahu, kalau Mirna pasti sudah mengetahui apa yang sedang ia alami, tapi Risma pura-pura tidak tahu.
"Besok aku mau berkunjung ke rumah Abah, kemungkinan keluargaku sudah ke sana duluan, kamu mau ikut?", ajak Mirna.
"Abah yang kakeknya istri Pak Putra itu?", Risma menatap Mirna.
"Iya, Kakek Ilham yang sempat aku cerita waktu itu",
'Emh...., ini kesempatan , buat deketin keluarga Pak Putra dan Istrinya', Risma bicara dalam hatinya.
"Atau kalau mau istirahat di Apartement juga nggak apa-apa, kamu kan masih lemah", Mirna menatap Risma yang terlihat melamun.
"Oh...nggak, justru aku mau ikut, katanya kan di sana masih suasana pedesaan, jadi sepertinya
cocok untuk menenangkan pikiran", senyum Risma.
__ADS_1
Hatinya senang, ia akan mulai mendekati keluarga Putra dan menjadikan kehamilannya sebagai senjata.