Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Mencari Bukti


__ADS_3

"Adis dan Mirna, kalian ke dalam sebentar", perintah Putra sebelum memasuki ruangannya.


Adis dan Mirna saling pandang, mereka sedikit kaget, kok datang-datang, mereka langsung di minta untuk menghadap.


"Baik Pak", serempak mereka.


"Adis dan Mirna memasuki ruangan atasannya itu, mereka duduk bersampingan di depan Putra yang tampak sedang menghidupkan laptopnya.


Putra menggeser duduknya menghadap ke arah dua orang stafnya itu. "Sengaja saya panggil kalian berdua, karena ada hal yang ingin diputuskan hari ini",


Kembali Mirna dan Adis saling pandang.


"Begini, mulai hari ini, Risma sudah resmi resign dari sini, jadi saya akan merolling posisi kalian, Adis ambil alih posisi Risma, dan Mirna yang akan menggantikan posisi Adis",


"Risma resign?", gumam Mirna. Ia tidak menyangka, tapi ada rasa curiga dalam hati Mirna, semua yang Risma lakukan ini ada hubungan dengan kehamilannya.


"Kalian sudah paham?, sekarang silahkan lanjutkan pekerjaan kalian, kalau ada hal yang kurang mengerti, boleh tanyakan langsung ke saya", jelas Putra.


Putra terlihat tidak semangat, ia biacara seperlunya saja.


"Baik Pak, kalau begitu, kami permisi", pamit Adis, ia berdiri dan kembali menuju meja kerjanya diikuti Mirna .

__ADS_1


Mirna menghampiri meja Adis. "Aku pasti akan banyak bertanya, jika sudah duduk di sini", senyum Mirna.


"Tenang saja, sehari dua hari juga pasti akan terbiasa, santai saja", senyum Adis. Ia pun segera menghampiri meja Risma, setelah membawa serta barang-barang pribadinya ke meja Risma.


"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Risma, ia tidak mungkin memutuskan untuk resign tanpa alasan yang kuat", gumam Mirna.


Mirna yakin, ini ada hubungannya dengan kehamilan Risma.


Jam kantor sudah usai, semua staf sudah meninggalkan meja kerjanya masing-masing.


"Saya duluan pulang Pak, mau pulang bareng?", tawari Pak Hambali.


Putra terlihat masih betah duduk di malas di meja kerjanya. Sungguh, beban pikirannya bertambah, selain tanggung jawab terhadap Perusahaan, juga masalah Risma yang membuatnya harus menguras pikiran dan mentalnya.


'Aku harus segera bicara dengan Pak Mul, beliau yang bisa dijadikan saksi , beliau yang ikut waktu ke Bogor', pikir Putra.


Putra segera mendial nomer Pak Mul dari ponselnya. Lama tidak ada jawaban, mungkin Pak Mul lagi dibelakang kemudi.


[Halo Pak Mul, saya tunggu di ruangan saya Pak, ada hal yang ingin saya bicarakan , maaf ini memang di luar jam kerja, tapi ini akan hitung lembur kok],


[Baik Pak, saya sebentar lagi sampai ke Kantor], terdengar jawaban dari Pak Mul.

__ADS_1


[Langsung ke ruangan saya saja Pak], Putra menutup sambungan teleponnya.


Kembali Putra memainkan mouse laptopnya, ia sedikit menghilangkan penatnya dengan bermain game ringan .


Itulah kebiasaan baru Putra, walau hanya beberapa menit saja, tapi permainan itu ampuh membuat pikirannya sedikit ringan.


"Tok...tok...tok...", terdengar suara pintu di ketuk.


"Silahkan masuk", Teriak Putra, ia yakin itu pasti Pak Mul.


Benar saja, Pak Mul masuk dengan tergopoh menghampiri Putra.


"Silahkan duduk Pak, santai saja, ini sudah di luar jam kerja, jangan terlalu serius, jangan tegang Pak", senyum Putra.


Putra bangkit dari duduknya menuju meja kecil di samping rak arsip.


"Kopi atauvteh Pak?", tawari Putra.


"Aduh..., biar saya yang buatkan Pak, masa Bapak yang membuatkan saya minuman", Pak Mul menghampiri Putra.


"Sudah , duduk saja Pak, kan saya sudah bilang, kita sudah di luar jam kerja, saya yang mengundang Bapak ke sini, Bapak tamu saya, jadi biarkan saya yang melayani Bapak", senyum Putra.

__ADS_1


__ADS_2