Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Drama Risma


__ADS_3

Mirna senang sekali bisa diterima magang di Perusahaan Putra, kali ini bukan untuk mendekati , tetapi untuk belajar mandiri, untuk membina mental dan belajar mengolah emosi sebagai seorang bawahan.


Hari ini Mirna berangkat sendiri, Risma sepertinya sudah berangkat lebih dulu.


"Tumben itu anak berangkat sendiri, biasanya menunggu aku", gumam Mirna. Ia melajukan mobilnya menuju kantor.


Namun Mirna tidak mendapati Risma di meja kerjanya, tak ada tanda-tanda kalau Risma sudah sampai ke Kantor.


"Mba, duduk dulu di sini!", Adis mengajak Mirna untuk duduk di ruang tunggu sambil sarapan.


Mirna mengikuti Adis sambil sesekali menengok ke belakang , siapa tahu Risma datang. Namun sampai semua staf datang, Risma belum kelihatan batang hidungnya. "Kemana dia", gumam Mirna.


"Mba, hari ini tolong handle dulu pekerjaan Risma, sepertinya dia tidak masuk ", kabari Adis. Ia bsru saja keluar dari ruangan Pak Putra.


"Oohh..., baik", rengkuh Mirna. Ia segera duduk di meja Risma. "Kemana Risma?", gumam Mirna. Ia belum sempat mencari kabar dengan menelepon Risma, karena merasa tidak enak dengan staf yang lain, jika harus menggunakan ponsel saat jam kerja, apalagi dirinya masih baru.


'Nanti saja saat istirahat, baru telepon lagi",


*


*


" Hari ini Mamah ada urusan kerja sebentar, ada yang harus ditandatangani langsung oleh Mamah, jadi kamu di rumah saja ", Bu Hellen menatap Aini, menantu kesayangannya.


"Iya Mah, tenang saja, Aini akan baik-baik saja, Aini akan tunggu Mamah di rumah", senyum Aini. Ia mengantar Bu hellen sampai ke depan.


"Mau dibelikan apa?", Senyum Bu Hellen saat mau pergi.


"


"Nggak Mah, seperti anak kecil saja", senyum Aini.


"Iya...biasanya orang yang sedang hamil itu, suka pin,aa1,asgin sesuatu secara tiba-tiba",

__ADS_1


"Nggak Mah, saat ini mah dede bayinya lagi baik, jadi ibunya juga baik, tidak ingin apa-apa", senyum Aini.


"Ya sudah, Mamah berangkat dulu, Assalamu'alaikum",


"Wa'alaikumsalam", Aini masih berdiri memperhatikan Bu Hellen yang mulai melajukan mobilnya, dan setelah ibu mertuanya itu benar-benar pergi, baru Aini masuk kembali ke rumah, niatnya mau mengecek laptop, walaupun tidak ngantor, tapi Aini selalu mengikuti , perkembangan Perusahaan rumah.


Baru satu langkah kakinya menginjak anak tangga, pintu depan sudah ada yang mengetuk.


'Siapa lagi?, apa Mamah kembali lagi, karena ada sesuatu yang tertinggal?', pikir Aini. Ia membalikkan kembali badannya dan berjalan menuju pintu depan.


"Mam...mah....", Aini terpaku saat bukan Bu Hellen yang ada di depan, melainkan seorang wanita muda berpakaian rapi sedang berdiri dihadapannya.


"Oh...maaf, kirain Mamah, mau ada keperluan sama siapa?", selidik Aini. Ia merasa tidak asing dengan wajah wanita yang ada didepannya itu.


"Saya mau bicara dengan anda", ucap perempuan itu dengan nada datar. Ia sempat melirik ke arah perut Aini yang makin meruncing.


"Oh..., saya?, ayo silahkan masuk!, kita bicara di dalam", senyum Aini.


"Tidak usah, saya tidak akan lama", perempuan itu mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya.


Aini menatap heran Risma, tapi ia ambil juga amplop yang diberikan Risma kepadanya.


"Ini apa?", Aini menatap Risma.


"Buka dan bacalah sendiri!", ketus Risma.


Perasaan Aini mulai tidak enak, tapi karena penasaran, ia buka juga amplop coklat itu.


Dari kop nya juga Aini sudah bisa menebak, kalau amplop itu dari sebuah klinik kesehatan. Aini baca ke bagian bawah surat keterangan yang ada di dalamnya, 'Ini surat keterangan hasil tes urine yang menyatakan kehamilan, milik siapa?', pikir Aini.


"Ini maksudnya apa?", tanya Aini dengan suara bergetar, hatinya terasa kacau dengan berbagai prasangka.


"Ya..., seperti yang sudah anda baca, itu surat keterangan dari Klinik yang menyatakan kalau saya positif hamil", ucap Risma tanpa ada rasa malu.

__ADS_1


"Iya...saya tahu, tapi kenapa surat ini diberikan kepada saya", tatap Aini.


"Saya hanya ingin anda tahu saja, kalau semua ini ulah suami anda", ucap Risma


"Astaghfirullah...., jadi maksudnya....", Aini menggantung ucaannya.


"Iya... , pintar sekali, saya sedang mengandung anak dari suami anda", ucap Risma.


Aini terpaku dengan mata terkaca-kaca , seperti mendengar petir di siang hari , langit rasanya runtuh menimpa tubuhnya, Aini berpegangan pada pintu karena tubuhnya hampir roboh, seluruh badannya terasa lemas.


"Itu saja yang ingin saya sampaikan, supaya anda tahu, siapa suami anda", Risma berlalu dari hadapan Aini dengan menyunggingkan senyuman evil, ia merasa puas telah membuat Aini terguncang.


Ia melenggang menuju pintu gerbang tanpa melirik lagi ke belakang.


Sementara Aini, ia luruh, terduduk bersimpuh di depan pintu dengan tangan masih memegang amplop pemberian Risma tadi. Ia menangis , hatinya hancur, tidak percaya dengan semua yang baru saja didengarnya.


Di saat buah cintanya sedang tumbuh di dalam perutnya dan sebentar lagi akan ditiupkan ruh, ia mendapat berita yang sungguh di luar dugaan.


"Mas...kenapa...?, kenapa ....ini harus terjadi...?, Aini mulai sesenggukan. Di rumah sedang tidak ada siapa pun, Bi Surti pun masih belum pulang dari pasar.


Aini benar-benar merasa sendiri, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ingin rasanya ia pergi, tapi kemana?, ke rumah Ayah dan ibunya?, tapi Aini tidak mau membuat kedua orang tuanya ikut terluka, ikut bersedih dengan apa yang dialaminya kini.


Perlahan Aini menyeka air matanya, ia tidak ingin orang lain mengetahuinya, ia bangkit dan menutup pintu. Aini berjalan hati-hati menuju kamarnya. Ia simpan amplop pemberian Risma di tasnya.


Aini terduduk lemas dipinggir tempat tidur. Seolah baru bermimpi buruk, Aini menepuk-nepuk pipinya, ia ingin sekali ini hanya mimpi, tapi pipinya terasa sakit.


"Ya...Allah..., kenapa seperti ini?", gumam Aini, butiran air mata kembali mendesak keluar, membasahi pipi.


"Risma..., wanita itu Risma, apa ia yang ikut Mas Putra ke Bogor waktu itu?", Aini bicara sendiri, ia menerka-nerka.


'Selama ini tidak ada yang aneh dengan sikap Mas Putra, dia terlihat makin sayang, makin perhatian, apa itu semua sengaja dilakukannya untuk menyembunyikan ini semua?', pikir Aini.


'Kalau ini benar Mas, tega sekali kamu, pantesan hari ini kamu melarang aku ke Kantor, rupanya kamu takut kecuranganmu terbongkar di depan semua staf kantormu', batin Aini terus saja bicara.

__ADS_1


"Ya...Allah...Dik..., kamu harus tetap kuat, apapun yang terjadi, bagaimana pun ayahmu, kamu harus tetap tumbuh sehat sampai lahir, biarlah kita berdua juga masih bisa bertahan, masih ada Bunda yang akan selalu menjaga kamu", Aini bicara sambil mengelus perutnya, dan ia kembali menyeka air matanya yang terus mendesak keluar.


"Aku harus meminta penjelasan dari Mas Putra , kalau semua ini benar?, dia harus bisa memilih antara aku dan Risma", gumam Aini, ia kembali menyeka air matanya.


__ADS_2