
Aini sudah bersiap dari sehabis shalat subuh, ia mengenakan rok batik warna abu dan keatasan kebaya midi berwarna cream, ia tetap memakai kerudung, dan memoles tipis wajahnya dengan make up sederhana.
Aini terlihat lebih cantik walau riasannya sederhana, ia hanya memakai make up seadanya, tapi terlihat pangling.
"Riasan sederhana saja, kamu terlihat cantik, apalagi saat menikah nanti", puji Bu Hana. Ia tersenyum melihat anaknya.
"Alhamdulillah Bu", senyum Bu Hana.
"Sudah mau berangkat?, mana Nak Putranya belum datang?", tanyai Pak Arman.
"Belum...sepertinya, kan biasanya juga suka mampir dulu", Aini melihat ke luar rumah.
"Tapi waktu sudah siang", Aini melirik jam dipergelangan tangan kirinya.
"Di antar sama Bapak saja , mungkin Putra lupa", tawari Pak Arman.
"Aini lihat dulu ke luar Pak, kalau tidak ada, boleh diantar", senyum Aini.
Aini membuka pintu berniat untuk berangkat dan melihat keberadaan Putra di sana.
"Happy Graduation", Putra datang dari samping rumah dengan dengan membawa bucket bunga melati.
Aini terpaku, kaget dengan kehadiran putra yang tiba-tiba. "Maaf..., kaget ya....?", senyum Putra.
ia memberikan bucket bunganya kepada Aini.
"Terima kasih, kirain nggak jadi menjemput", senyum Aini.
"Aku kan sudah janji mau menjemput, masa bohong", senyum Putra.
"Kamu terlihat berbeda dengan pakaian itu", lirik Putra.
"Sudah ah , berangkat sekarang, biar tidak telat", Aini pamit kepada kedua orang tuanya, tidak lupa menyalami Kakek dan Nenek nya yang lagi ada di teras rumah.
Setelah itu Putra dan Aini berangkat. Sepanjang jalan Putra terus mencuri pandang kepada Aini, dan Aini pun menyadari hal itu.
"Ada apa iihh..., lihat-lihat terus ", Aini melengos sambil tersenyum.
"Habis ...., hari ini kamu terlihat berbeda, aku makin tidak sabar , ingin segera hari H", senyum Putra.
"Hari H apa?", Aini melirik Putra.
"Hari H aku dan kamu halal", senyum Putra.
"Iiihhh, nggak sabaran gitu", senyum Aini.Tidak terasa mobil yang dikendarai Putra sudah samp£_ai di Sekolah Aini.
Disana sudah ramai, teman-teman Aini sudah banyak yang berdatangan. Mereka tampil istimewa dengan riasan dan kebaya modern.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sampai juga, wah..., mereka cantik-cantik", senyum Aini. " Tapi tetap lebih cantikkan orang yang ada di samping aku", sambar Putra sambil tersenyum melirik Aini.
"Aduh...., sudah ah....", Aini tersipu.Ia keluar dari mobil, yang pintunya di buka oleh Putra.
Saat Aini berdiri di samping Putra, lewatlah mobil Pak Purnawan yang membawa Mirna. Bu Mona dan Murano pun ikut di dalamnya.
"Mah....Mah....Mah...stop....Pah!", teriak Murano.
Pak Purnawan menghentikan mobilnya. "Ada apa sayang", tanyai Bu Mona.
"Mah ...., itu tadi ada Teteh Aini disana , Rano mau ke sana", Murano memegang tuas pintu mau membukanya.
"Tunggu sebentar Rano!, Papah parkir dulu, lihat di belakang banyak mobil juga, ini jadi macet",
Tapi Murano keburu membuka pintunya. Ia berlari ke arah Aini.
"Rano...., aduh awas hati-hati!", teriak Bu Mona. Ia tidak sempat mengejar Murano, karena keburu banyak mobil dilbelakangnya yang tut tot membunyikan klakson
"Aduh...., anak itu", gerutu Bu Mona. Sebentar Mah!, ini macet", Pak Purnawan kembali melajukan mobilnya menuju parkiran.
Bu Mona melihat dari dalam mobil, Murano sudah mencapai Aini, Aini nampak berjongkok memeluk Murano.
Bu Mona tersenyum melihatnya dengan hati yang lega. 'Sepertinya Rano merasa nyaman dengan Aini', pikirnya.
Aini yang mendapati Murano merasa kaget. "Anak sholeh, sedang apa di sini?", ucap Aini begitu memeluk Murano.
"Aku ke sini mau ketemu Teteh", senyum Aini.
"Ada di sa......, " Murano menggantung ucapannya, karena kini ia tidak bisa melihat mobil papahnya lagi.
"Tadi ada di sana", Murano menunjuk ke jalanan yang kini mulai padat dengan antrian mobil pengantar .
"Tapi..., kemana ya Papah?", mata Murano masih nampak mencari-cari keberadaan Ayah dan ibunya.
"Sudah..., Rano sama Teteh aja dulu, nanti juga bisa bertemu Ayah dan ibumu, mungkin papahmu lagi diparkiran", Aini memegang erat tangan Murano. Ia membawa Murano berjalan menuju Aula tempat acara kelulusan akan dilaksanakan.
"Ini itu anak yang kita tolong waktu di Desa ya?", Putra melirik Aini.
"Iya, ini Murano namanya, adiknya Mirna", senyum Aini.
"Di dekat Parkiran, mereka bertemu dengan Bu Mona dan keluarga.
"Itu Mamah", teriak Murano saat melihat keluarganya ada di depan.
"Alhamdulillah, akhirnya bertemu juga", gumam Aini.
"Assalamu'alaikum Pak, Bu, Mirna, ini Murano", senyum Aini,
__ADS_1
"Maaf, tadi bertemu di luar, ia berlari ke arah saya", rengkuh Aini.
"Nggak usah meminta maaf, tadi Murano yang sengaja ke luar mobil, begitu melihat Neng Aini, Ibu tidak sempat mengejarnya, keburu macet", senyum Bu Mona.
"Kami yang seharusnya minta maaf, Neng Aini yang selalu direpotkan oleh Murano", timpa Pak Purnawan.
"Ini...., sepertinya saya pernah bertemu ya?", Pak Purnawan melirik Putra.
"Sebentar....", Pak Purnawan nampak sedang mengingat sesuatu.
"Oh.... Iya...., ini kan anaknya Pak Handoko ya?, kita di cafe saat itu", senyum Pak Purnawan.P
"Iya Pak, saya Putra, anaknya Pak Handoko", rengkuh Putra.
"Ini ....kok, waktu kita bertemu juga saat di Desa kan?" , penasaran Pak Purnawan.
"Iya, Pak, Aini ini tunangan saya", aku Putra.
Mirna melengos mendengar pengakuan Putra itu, sementara Aini menunduk tersipu.
"Oh.... , Alhamdulillah, kalian ini sudah tunangan?, mau menikah muda nih", senyum Pak Purnawa
"He....he...he...., iya Pak, do'akan saja", kekeh Putra.
"Hebat kalian, tidak banyak pasangan yang berani mengambil keputusan untuk nikah muda, itu memerlukan kemantapan mental lo" , Pak Purnawan menepuk pundak Putra.
"Terima kasih Pak", senyum Putra.
"Kami takut terjerumus melakukan hal-hal yang tidak baik, jadi kalau sudah cocok, ya langsung menikah saja", timpa Putra.
"Hebat kamu, tuh kamu juga harus nyari yang seperti Putra, Mir", senyum Pak Purnawan.
Mirna kembali melengos, ada getaran aneh yang mengiris hatinya, ia ingin Putra mengucapkan itu kepada dirinya.
"Iya, Mamah do'akan biar kamu dapat jodoh seperti Putra", timpa Bu Mona.
"Aamiin", kompak Putra dan Aini.
Terdengar pengumuman dari pengeras suara yang memanggil semua siswa untuk segera memasuki Aula.
"Tuh..., kalian sudah di panggil, sana!," seru Bu Mona.
Mirna berjalan lebih dulu, meninggalkan Aini yang nampak masih ngobrol dengan Putra.
"Nanti aku jemput lagi di sini, jangan lupa kabari aku jika sudah sampai di tempat tujuan", pinta Putra.
"Iya", Aini tersenyum, lalu neninggalkan Putra, ia berjalan mengikuti Mirna.
__ADS_1
"Awas...., jangan lupa ya, siang ini kamu siap-siap!, kita jalankan rencana kita, kita stand by di Sekolahan dan ikuti rombongan mereka", Aditya mematikan hubungan teleponnya, dan ia bergegas menuju mobilnya.
,