Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Sikap keras Luluh dengan Kelembutan


__ADS_3

Bondan dengan tergesa menghampiri Aditya yang berteriak -teriak di dalam kamar. "Iya...., ada apa Den?", Bondan dengan terengah-engah berdiri di samping Aditya yang nampak sedang duduk di atas atas tempat tidur dengan kedua tangannya memegang kepala.


"Aini mana...., Aini mana?", Aditya memandang tajam Bondan dengan menahan amarah.


"Aini...?, kan dari tadi Aini bersama Aden, saya afa di pos delan dari tadi Den", alasan Bondan.


"Iya mana...., Loe bisa lihat kan disini tidak ada Aini?, mana...mana....mana.... , tidak ada kan?",


"I.....iya..., Den tidak ada Aini, kemana ya dia?", Bondan mencari ke kamar mandi, lalu ke balkon, ia bertingkah seolah ikut merasa panik dengan hilangnya Aini .


"Jangan diam saja...!, cepat cari ke luar!, mungkin dia mau kabur" , perintah Aditya.


"Tunggu...!, aku haus, ambilkan minum dulu!", perintah Aditya.


"Itu masih ada air minum di botol Den , itu punya Aden kan, sisa tadi", ucap Bondan , ia menunjuk ke arah meja di samping tempat tidur.


"Ya sudah sana!, cepat cari Aini dan bawa kembali ke sini!",


"Iya baik Den", Bondan segera pergi ke luar kamar, ia kembali menemui Pak Dirman di lantai bawah. Sementara Aditya yang merasa masih pusing, kembali meminum air yang tersisa di dalam botol. Air itu padahal air yang sudah Bondan campur dengan obat tidur, sekarang ia meminumnya kembali, ya sudah bisa di tebak, Aditya kembali terlelap tidur untuk yang kedua kalinya.


"Bagaimana dia?", Pa Dirman langsung bertanya begitu Bondan turun.


"Dia marah-marah Pak Bos, terus menanyakan Aini, saya disuruhnya mencari Aini", senyum Bondan.


"Ya sudah, turuti saja",


"Lalu saya harus kemana Pak Bos?, Aini kan sudah dibawa pulang oleh Putra.


"Ya kemana saja , pokoknya kamu pergi saja dari sini, terserah mau ke mana, besok baru balik ke sini lagi , biar Aditya percaya kalau kamu sedang mencari Aini.


"Sudah sana pergi!, biar Aditya saya yang urus", perintah Pak Dirman. Ia memberikan sejumlah uang kepada Bondan.


'Bimo , kamu temani Bondan, dan kamu Yoseph , kamu jaga di depan!, saya mau menemui Aditya dulu", perintah Pak Dirman.


"Baik Pak Bos", ketiga Body guard itu mengikuti perintah Bosnya.


Sementara Pak Dirman, ia menuju lantai dua ke kamar Aditya. "Adit..., Aditya...., kamu sudah bangun?", Pak Dirman membuka pintu kamar perlahan.


"Lo...kok masih tidur, apa tertidur lagi? , tadi Bapak dengar kamu teriak-teriak, sekarang sudah tidur lagi", Pak Dirman membetulkan posisi tidur anaknya.


"Maafkan Bapak Adit, Bapak yang telah membuatmu begini, tapi percaya..., semua ini Bapak lakukan karena Bapak terlalu sayang kepadamu", Pak Dirman nampak mengelus lembut kepala Aditya.

__ADS_1


"Bapak akan merasa sangat bersalah lagi kalau sampai melihat kamu berurusan dengan pihak kepolisian", Pak Dirman menatap lekat wajah anaknya.


"Kamu masih muda, emosimu masih labil, sayang kalau masa depanmu harus hancur hanya karena tindakan konyol", tatap Pak Dirman.


"Bapak akan merasa bersalah kepada ibumu karena tidak bisa mendidikmu menjadi anak yang baik",


"Percayalah, jika Aini tidak berjodoh denganmu, di luar sana masih ada Aini-Aini lain yang bisa menjadi pendamping hidupmu", kembali Pak Dirman mengelus lembut kepala Aditya.


"Kamu begini juga karena salah Bapak, sedari kecil kamu melihat keras sikap Ayah, tanpa didampingi sikap lembut seorang ibu", Pak Dirman menatap nanar Aditya.


*****


Mobil yang dikendarai Putra sudah masuk ke jalan Desa Mandalajati.


"Alhamdulillah, Ya Allah, masih bisa bertemu dengan keluargaku di sini, kalau bukan karena pertolonganmu, mungkin hal buruk sudah menimpaku", gumam Aini.


Aini menatap ke luar dengan pandangan nanar, hatinya bahagia, dirinya masih bisa pulang ke rumah dengan keadaan selamat.


Aini sadar semua ini tak lepas dari kesalahannya, ia telah menolak Aditya di depan banyak orang, tapi juga karena kepolosannya, ia yzng selalu jujur dengan perasaannya, ia tidak bisa berbohong, seperti waktu itu.


Kala harus memilih dua hal, itulah pilihannya, sesuai dengan kata hati dan rasa yang ia miliki, semua itu hanya tertuju kepada Putra.


"Kenapa kok melamun?", lirik Putra.


Aini diam, apa ia bicara saja tentang hal ini kepada Putra, "Emm...",Aini melirik .


"Bicara saja, kita harus belajar saling terbuka, biar terbiasa saat kita sudah menikah nanti", senyum Putra.


"Ini soal Aditya", Aini kembali diam.


Putra menepikan mobilnya di pinggir jalan, di luar ada sebuah kios makanan, ia keluar membeli minuman dan gorengan yang masih panas.


"Emmm..., tahu saja kalau aku lapar", senyum Aini.


"Iya..., supaya lebih enak ngobrolnya, bukankah tadi ingin bicara soal Aditya?", tatap Putra.


Aini yang sedang mengunyah bakwan, berhenti sejenak. Ia memandang Putra.


"Aditya menculik aku gara-gara sakit hati karena aku menolaknya", Aini melirik Putra.


"Tapi dia belum sempat menyakitimu kan?",

__ADS_1


"Belum, semua ini berkat Pak Dirman, ternyata beliau sudah mengetahui rencana Aditya, sehingga menugaskan ketiga body guardnya untuk mengawasi Aditya".


"Untung Bondan memberi Aditya air minum yang sudah dicampur obat tidur, kalau tidak, aku pasti sudah celaka", Aini menunduk.


"Kalau sampai itu terjadi, mungkin aku tidak akan sanggup bertemu denganmu lagi, aku mungkin memilih mati saja", isak Aini.


"Maaf ya, ini juga salah aku, aku lebih mementingkan acara di kampusku, hingga tidak mengantar dan menemanimu saat ke lokasi wisata", Putra menatap Aini.


"Seandainya aku sudah diapa-apain oleh Aditya, pasti kamu akan meninggalkan aku kan?", kembali Aini melirik Putra.


"Ya Allah, Aini...., aku itu tulus mencintaimu, aku bukan penggila keperawanan", tegas Putra.


"Tapi itu yang dikejar oleh semua laki-laki kan?",


"Mungkin bagi mereka iya, tapi buat aku tidak", tegas Putra.


"Aini ...., dengar ya...., aku mencintaimu tulus, tidak memandang apa pun, itu yang harus kamu tahu", Putra menyentuh tangan Aini.


"Sudah ah", Aini menarik tangannya.


"Ini belum boleh", senyum Aini, "Belum halal",


"Iya..., nanti saja nunggu gerakan refleks kamu saja", senyum Putra.


"Sabar ya, kalau sudah halal, mungkin nanti tanpa di suruh, tanpa di minta pun aku yang akan datang duluan sama kamu, bersiaplah", senyum Aini.


"Oke..., aku siap!, siap dua puluh empat jam untuk kamu", senyum Putra.


"Nggak mau ah, kalau dua puluh empat jam, kapan cari uangnya", senyum Aini.


"Uang kan tinggal minta saja sama Mamah", lirik Putra.


"Ih..., nggak mau, aku tidak mau hidup dari uang orang tuamu, walau sedikit, aku mau uang hasil kerja suamiku", senyum Aini.


"Suami?, aduh....jadi pengen cepat-cepat jadi suamimu", lirik Putra. Kali ini pandangan mereka terkunci, mereka saling mengagumi lewat pandangan, dan dibalut manis oleh senyuman keduanya.


"Sudah ah..., di rumah sudah pada menunggu", Aini mengalihkan pembicaraan, ia juga segera mengalihkan pandangannya ke depan.


Ia berusaha mengatur ritme nafasnya, karena jantungnya berdetak lebih kencang.


Putra segera membayar makanan yang sudah dibelinya, dan ia kembali memacu mobilnya menuju rumah Aini.

__ADS_1


__ADS_2