
Sepulang dari Sekolah, Putra langsung membawa Aini ke rumahnya. Ibunya akan membawa Aini belanja.
"Nanti kamu boleh pilih apapun yang kamu mau, Mamah akan membawamu belanja hari ini", Putra melirik Aini.
Putra mengulum senyum saat dilihatnya Aini sudah tertidur. Putra menepikan mobilnya sebentar, lalu ia membetulkan posisi kepala Aini yang tertidur.
Memang Aini selalu cepat tertidur saat naik mobil. Putra melajukan mobilnya dengan perlahan, takut mengagetkan Aini jika ia nanti tiba-tiba mobilnya di rem.
"Mana Aini?", tanya Bu Hellen ketika melihat Putra keluar dari mobilnya.
"Ssttt...", Putra meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Aini tidur Mah, di dalam", Putra menunjuk ke dalam mobilnya.
"Biarkan Aini tidur untuk beberapa saat, kasihan", pinta Putra.
"Bangunin saja, nggak enak tidur di mobil, nanti pegal-pegal",
Aini terbangun mendengar keributan di luar. Ia membetulkan posisi kerudungnya dan melirik ke arah sumber suara.
"Astagfirullah, ketiduran!", kaget Aini. Ia melihat dirinya dari kaca mobil, lalu membetulkan posisi hijabnya. Ia turun perlahan dari mobil.
"Maaf Bu, Aini ketiduran", rengkuh Aini sambil menyalami tangan Bu Hellen.
"Nggak apa-apa, pasti kamu kecapean ya, sini masuk dulu, biar Bi Surti buatkan jus jeruk , pasti segar", tawari Bu Hellen, sambil tersenyum ia membimbing Aini masuk.
"Bi....bi...., buatkan es jeruk dua ya, manisnya pake madu", teriak Bu Hellen sebelum duduk di ruang keluarga.
"Kamu bawa baju ganti nggak, masa ke Mall pake seragam?", senyum Bu Hellen.
"Nggak Bu, jadi kita mau ke Mall?", bengong Aini.
"Iya, biar barangnya komplit dan kualitasnya bagus, Aini pernah ke Mall?",
"Belum Bu, Aini belum pernah ke Mall, ke pasar juga jarang, paling ke warung Bu", senyum Aini.
"Nah...., sekarang kita ke Mall ya, sekalian belanja", senyum Bu Hellen.
"Putra, di kamar Mamah ada beberapa baju Mamah waktu muda dulu, mungkin ada yang cocok di badan Aini, Mamah bawa Aini dulu ya", Bu Hellen menuntun tangan Aini mengajaknya ke kamar.
Walau merasa canggung, Aini mengikut saja, ia berjalan dibelakang Bu Hellen.
Saat pintu kamar di buka, Aini di buat melongo dengan pemandangan yang dilihatnya. Kamar yang luas, dengan furniture yang serba mewah, Aini dibimbing masuk oleh Bu Hellen.
__ADS_1
"Sini! Mamah masih menyimpan baju-baju waktu Mamah muda dulu, mungkin ada yang cocok buat kamu ",
Bu Hellen membawa Aini ke ruang wall in closet, di sana tertata rapi deretan baju, model dan warnanya bagus-bagus, namun sayang tidak ada kerudungnya.
Aini sampai bingung mencari baju panjang ysng disesuaikan dengsn warna kerudung yang saat ini ia pakai.
Namun ada satu baju yang menarik perhatian Aini, baju terusan panjang, dengan motif bunga. Ia lihat warnanya pun sesuai dengan kerudung yang sedang ia pakai, warna abu.
"Yang ini saja Mah ", Aini memperlihatkan gaun panjang ditangannya.
"Yah...., itu bagus sayang, coba kamu pakai!" ,Bu Hellen ke luar untuk membiarka Aini berganti pakaian. Dan saat Aini keluar , Bu Hellen memandangnya kagum, Aini terlihat cocok dengan gaun itu, ia terlihat cantik.
"Wow...wow....,ini perfect sayang , baju itu cocok dibadan Kamu, padahal baju itu Mamah beli setelah Mamah dinyatakan positif hamil adiknya Putra ", jelas Bu Hellen, kini cocok sekali di badan kamu", senyum Bu Hellen.
"Adik?", heran Aini.
"Ya, Mamah sempat hamil anak kedua, tapi Mamah jatuh saat di kamar mandi, dan bagian perut terkena benturan yang keras jadi Mamah mengalami pendarahan, dan bayi Mamah tidak tertolong, bahkan rahim Mamah pun robek, jadi saat itu Dokter menyarankan untuk mengangkatnya", Bu Hellen tampak sedih.
"Maaf, Mah", Aini memegang tangan Bu Hellen. Tapi Bu Hellen malah menariknya, jadi kini mereka saling berpelukan.
"Makanya Mamah sangat berharap kamu bisa memberikan Mamah cucu yang banyak, biar Mamah tidak kesepian, sehabis menikah pun, kalian tinggal di sini saja, Putra itu anak Mamah satu-satunya", senyum Bu Hellen.
Putra nampak tak berkedip melihat Aini, penampilannya bikin pangling, apalagi tadi Mamah Hellen sempat memberi riasan tipis di wajah Aini.
"Masya Allah", gumam Putra, ia tersenyum menyambut Aini dan mamahnya. Putra nyelonong dengan tangannya yang sudah terbuka lebar, ia berniat memeluk Aini.
"Eit....stop....., jangan dulu, belum boleh sayang", tangan Bu Hellen menghalau Putra. "Sabar ya...., belum halal, pamali", senyum Bu Hellen, ia mengacak rambut anaknya.
"Tapi Mah..., Aini cantik sekali, ini baju siapa?, kok Putra baru melihatnya",
"Ini baju Mamah, pernah Mamah Pakai saat hamil adik kamu", terang Bu Hellen.
"Kok bisa pas begitu ya di Aini?",
"Itu karena kalian berjodoh", senyum Bu Hellen. Mereka kembali duduk dikursi ruang keluarga.
"Nyonya ini jusnya", Bi Surti nampak membawa nampan berisi tiga gelas berisi jus.
Bu Hellen mengambilnya dua dan langsung memberikannya pada Aini satu gelas. "Terima kasih ,Emh..., Aini menggantung ucapannya.
"Mamah, panggil saja Mamah", senyum Bu Hellen.
__ADS_1
"Iya..., terima kasih Mah", senyum Aini.
Sementara Putra masih bengong menatap Aini.
"Hey..., itu diminum dulu jusnya", tegur Bu Hellen mengagetkan Putra.
"Kamu itu ya, sebentar lagi juga jadi milik kamu, nanti juga bisa dinikmati sepuasnya", senyum Bu Hellen.
"Ayo cepat minum dulu, kita berangkat sekarang!",
Putra meneguk habis jusnya, sementara Aini hanya bisa duduk tersipu dengan pipi yang memerah.
"Bi..., hari ini bersihkan kamar Putra ya, keluarkan semua barangnya, nanti tempat tidurnya mau diganti", pinta Bu Hellen.
"Baik Nyonya", rengkuh Bi Surti.
"Kenapa mesti di ganti, kan masih bagus Mah", Putra melirik ibunya.
"Iya, masih bagus, tapi kecil, nanti kamu kan tidurnya tidak sendiri, ada Aini dan anak-anakmu", senyum Bu Hellen.
"Tapi awas Bi, barang-barang pribadi saya jangan ikut di keluarkan!", pinta Putra.
"Baik Den",
"Terus nanti tempat tidur yang lamanya dikemanakan?, tanya Bi Surti.
"Bibi ambil saja, Bibi pakai buat anak Bibi juga boleh, nanti sekalian dengan baju-baju saya yang sudah kecil", timpa Putra.
"Iya Den, terima kasih",
Bu Hellen meraih tangan Aini, "Kita berangkat sekarang",
Bu Hellen dan Aini berangkat , dengan Putra yang mengendarai mobilnya. Tak lama mereka menepi di depan sebuah Mall yang sangat megah.
Aini sampai bengong, ini kali pertamanya ia berkunjung ke tempat seperti ini. "Astaghfirullah", gumam Aini.
"Kenapa?, ada apa?", Putra melirik Aini.
"Nggak, cuma risih saja, kok mereka pakaiannya seperti itu, sayang ya, padahal cantik-cantik ",
"Nah..., beginilah kalau di Kota, tapi tidak sedikit juga yang berkerudung, tapi ya begitu mereka belum paham, bagaimana cara berkerudung yang benar",terangkan Putera.
__ADS_1