
Masih dengan mengukir senyuman, Putra bergegas menuju mobilnya, ia ingin segera bertemu dengan Aini. Entah kenapa sewaktu di kantor pun, ingatannya selalu tertuju kepada Aini.
Dalam perjalanan tidak lupa membeli buah apel kesukaan Aini.
"Ada apa sih, kok jalanan mendadak macet", gumam Putra, ia merasa kesal karena keinginannya untuk segera sampai ke rumah terhambat.
Putra jadi kesal sendiri, mau marah, marah pada siapa. Jarinya menari di kemudi. Untung saja kemacetan bisa segera dilerai, Putra bisa bernafas lega, ia kembali melajukan mobilnya. "Oh...pantesan, ada hajatan", gumam Putra, matanya melirik ke kanan jalan melihat keramaian di sebuah acara pernikahan.
"Aini , kok jadi teringat terus", senyum Putra. Tak lama ia pun sampai di depan gerbang rumahnya, Pak Karman langsung membukakan pintu gerbang. Dengan tersenyum rengkuh, ia menyambut Tuan mudanya.
"Sudah pulang Den",
Putra hanya membunyikan klakson untuk menjawabnya, karena ia langsung memarkirkan mobilnya ke garasi.
"Baru Pulang Den?", Bi Surti tersenyum .
"Iya Bi", Putra mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tidak dilihatnya Aini di sana.
"Non Aini ada dikamarnya", beritahu Bi Surti sambil tersenyum. Ia faham apa yang sedang dicari Tuan mudanya itu.
"Oh iya Bi", senyum Putra, ia langsung menuju kamarnya.
Tanpa mengetuk pintu dulu, Putra langsung membuka pintu kamarnya. Aroma wewangian langsung menyerang indra penciumannya.
Putra mengernyit, karena ini agak berbeda dengan biasanya. Kembali Putra mencari keberadaan Aini sambil menutup pintu kamarnya kembali.
Ia berdiri tepat di samping tempat tidurnya yang sudah di tata rapih, dan kembali aroma wangi memanjakan indra penciumannya.
'Di mana dua', pikir Putra. Namun sebuah pelukan tiba-tiba mengagetkannya dari belakang. Aini memeluknya dari belakang.
"Mencari aku ya", bisiknya di telinga Putra. Jantung Putra seketika berdebar, darahnya mulai panas, ada hasrat yang tiba-tiba muncul.
"Aku kangen, Mas", Bisik Aini lagi, kini tangannya mulai mengusap lembut dada suaminya. Dan mulai mengecup tengkuk suaminya.
Mendapat perlakuan seperti itu, menambah kuat hasrat Putra. Ia membalikkan tubuhnya, kini ia berhadapan langsung dengan Aini.
Putra terpana begitu melihat Aini yang berdiri dihadapannya dengan penampilan berbeda. Ia memakai lingereis yang menampakkan kemolekan tubuhnya, rambutnya yang panjang bergelombang pun kini di gerai.
"Cantik sekali", dengan suara bergetar Putra memegangi pundak Aini.
"Jadi..., jadi ini kejutannya?", Putra menatap istrinya lekat.
"Aini mengangguk sambil tersenyum manis. Tangannya melingkar di pinggang suaminya.
"Aku sudah suci", senyum Aini.
"Tapi aku belum mandi, masih bau ketingat", senyum Putra. Matanya tak lepas dari tubuh Aini, ia pandangi dari atas sampai bawah.
Sungguh kecantikan yang terjaga, pantas Aini selalu memakai baju gamis longgar dan kerudung, ternyata itu semua untuk melindungi kecantikannya, dan kini itu semua sudah menjadi haknya.
"Nggak apa-apa, aku suka aroma keringatmu", Aini memeluk suaminya, kepalanya menempel di dada suaminya, ia bisa dengan jelas mendengar suara degup jantung suaminya.
"Jadi kamu sudah siap , memberikan hakku?", Putra membelai rambut indah istrinya, dan mengecup pucuk kepalanya.
__ADS_1
Aini mengangguk dan lebih mengencangkan pelukan di tubuh suaminya, sebagai jawaban.
Putra membalas pelukan itu, dan ia merengkuh Aini dan membawanya ke atas tempat tidur.
Ia baringkan Aini perlahan, ia tatap mata istrinya yang kini mulai sayu diliputi gairah. Nampak kecantikan tubuh istrinya yang kini hanya ditutupi kain tipis.
Putra pun sudah diliputi gairah yang sama, ia mendatangi istrinya dan mereka menumpahkan semua hasratnya sebagai suami istri yang telah sah.
lenguhan demi lenguhan terdengar dari mulut mereka, walau Aini sering kali mengaduh. pergumulan itu diakhiri oleh teriakan kecil yang lepas dari mulut Putra.
Dan kini mereka tertidur sambil berpelukan.
Suara adzan maghrib membangunkan Putra, ia membuka mata dan mendapati bidadarinya masih terpejam di dada kanannya.
Putra kembali mengecup pucuk kepala istrinya hingga Aini pun bangun. Ia membuka mata dan tersenyum .
"Terima kasih", Putra menyentuh pipi Aini.
"Untuk apa?", Aini menatap Putra.
"Untuk kejutannya", senyum Putra. Ia membelai
Rambut, pipi dan bibir Aini. "Terima kasih untuk semuanya", kembali ia mengecup pucuk kepala istrinya.
"Sudah adzan, kita mandi yuk!", ajak Putra.
"Mas aja duluan",
"Kita mandinya bareng saja",
"Kok malu, aku sudah tahu semuanya", senyum Putra.
"Nanti Mas nya mau lagi", Aini cemberut.
"Iya nggak apa-apa, kan katanya aku boleh minta kapan pun aku mau",
"Ya...tapi jangan sekarang, masih sakit", bisik Aini di telinga Putra.
Putra baru ngeh, tadi Aini sempat mengaduh dan mengerang menahan sakit .
"Tenang sayang, Mas ngerti, Mas akan sabar kembali menunggu sampai kamu siap lagi", senyum Putra.
"Kalau begitu, kamu saja duluan mandinya", Putra menyuruh Aini mandi lebih dulu. Dan ia membereskan tempat tidur yang berantakan.
Saat ia singkap selimut, ia mendapati ada noda merah di sprey, dan itu setitik darah. Ingatan Putra melayang , ia teringat perkataan Mamahnya . Bu Hellen pernah meragukan kesucian Aini saat mengetahui Aini di culik oleh Aditya, pria yang terobsesi padanya.
"Oh..., jadi ini, yang dimaksud Mamah", senyum Putra.
"Aini masih suci Mah, keturunanmu tidak akan ternoda", senyum Putra .
Ia sangat berharap Aini cepat memberikan mamahnya cucu.
Aini keluar dari kamar lengkap dengan pakaian gamisnya, hanya rambutnya saja yang masih dibungkus handuk. Ada yang berbeda dengan langkahnya, ia sedikit kangkang saat melangkah.
__ADS_1
Putra menahan tawa melihatnya. "Ada apa?, ada yang aneh ya?", Aini menghampiri.
"Itu kok jalannya seperti itu?", kekeh Putra.
"Iihhh...., ini juga kan gara-gara Mas, sakit tahu", Aini cemberut.
"Iya...maaf..., ini kan perdana, lama-lama juga akan terbiasa", bisik Putra sambil mencubit pipi Aini.
"Aku mandi dulu, kita shalat berjamaah ya?", Putra melangkah menuju kamar mandi.
Mereka shalat berjamaah untuk yang pertama kali. Terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
"Den, makanan sudah siap", terdengar suara Bi Surti.
"Iya Bi, sebentar lagi", teriak Putra.
"Kita makan dulu ya", ajak Putra. Ia mengusap kepala Aini yang sedang melipat mukena.
"Di sini saja makan ya?, aku malu..., tadi saja kamu menertawai cara jalanku, padahal itu ulahmu", Aini mencubit pinggang suaminya.
"Hmn....iya, nanti aku bawain makanannya, kita makan di balkon sana, sambil melihat bintang-bintang", senyum Putra.
Ia segera menuju dapur, dan kembali bersama Bi Surti yang membantu membawa makanannya. Semua makanan di taruh di meja yang ada di balkon kamar.
"Terima kasih Bi", senyum Aini.
"Sama-sama Non", Bi Surti pun tersenyum dan kembali meninggalkan mereka berdua.
"Ayo makan dulu, biar kuat", goda Putra, ia mengulurkan tangannya , menuntun Aini ke balkon, di sana mereka menikmati makan malamnya.
"Padahal kita susun rencana lagi buat bulan madu, mumpung kamu sudah ready", goda Putra. Ia tersenyum menatap Aini.
"Jangan ah..., Mamah dan Papah kan sedang tidak ada di rumah, lagi pula aku lebih memilih di rumah saja, Mas juga kan baru mulai masuk kerja",
"Apa kamu tidak mau kita ke luar negeri gitu, liburan di sana, hooney moon ke dua", tatap Putra.
"Duh...apalagi ke luar negeri, takut naik pesawatnya",
"Kalau aku yang naik?, nggak takut kan?", kembali Putra menggoda Aini.
"Iiihhh...apaan sih...", Aini mencubit paha Putra.
"Aw...aw....sakit", Putra mengusap pahanya yang baru saja di cubit Aini.
"Makanya jangan nakal", pelotot Aini.
"Nakal-nakal juga, tapi suka kan",
"Mas...., sudah ah", Aini tambah cemberut.
Selesai makan, mereka kembali berjamaah shalat Isya.
Aini yang lebih dulu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merasakan tubuhnya pegal dan linu, setelah membiarkan suaminya mengambil haknya atas dirinya.
__ADS_1
Putra ikut berbaring disampingnya, sebenarnya ia ingin kembali mencumbui istrinya, tapi ia tahu, Aini belum siap jika ia memintanya lagi. Jadi Putra mencoba menepis keinginannya itu, dan ia memcoba memejamkam mata sambil memeluk tubuh istrinya.