Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Cobaan Berat


__ADS_3

"Emh..., aku ini heran ya?, kamu tidak ada malu-malu nya, datang ke sini, mengaku sedang mengandung cucu saya, kalau saya pasti malu, karena wanita seperti apa yang mau berhubungan dengan laki-laki yang sudah beristri, apalagi kamu itu sudah aku anggap keluarga sendiri, kok kini seperti menikam dari belakang, ingin menghancurkan kehidupan anakku", Bu Hellen menatap tajam Risma.


"Deg...", seperti ada yang menampar pipi Risma, ucapan Bu Hellen tadi telak mengenai hati Risma.


"Tapi..., maaf Bu, malam itu saya tidak bisa menolaknya, Pak Putra yang lebih dahulu menginginkannya", Risma menunduk.


"Bohong!, bukan aku Mih, aku tidak pernah melakukan aoa pun dengan dia", bentak Putra, ia hendak menghampiri Risma, namun Aini menarik tangannya.


"Tenang Mas, kamu harus tenang, semua masalah akan ada jalan keluarnya, yakin saja kebenaran akan terungkap", Aini mengekang Putra supaya tidak berbuat kasar kepada Risma.


"Tapi ini sudah keterlaluan, bicaranya sudah ngawur", sewot Putra.


"Sebentar lagi, perut ini akan membuncit, semua orang akan tahu, dan saat itulah keluarga ini akan hancur, apalagi kalau media sampai tahu, Perusahaan kalian juga akan kena imbasnya", Risma tersenyum evil.


"Kamu mengancam kami?", sewot Putra.

__ADS_1


"Ya..., mau bagaimana lagi,aku juga tidak mau jadi bahan pembicaraan orang, karena mengandung sebelum menikah, dan anakku juga jangan sampai punya predikat jelek di lingkungannya", Risma terdiam sejenak.


"Jadi sekarang kamu mau dinikahi Putra?, anakku?", Pak Handoko menatap lekat Risma.


"Iya..., saya tidak ingin anak ini lahir tidak punya Bapak",


"Tidak!, Saya tidak mau Pak", tolak Putra.


"Itu bukan anak saya, saya ", tegas Putra.


"Kalau itu diperlukan, saya setuju saja, karena saya yakin ini anak Pak Putra", keukeuh Risma.


"Baik, tapi sepertinya kalau untuk tes DNA, itu harus menunggu sampai anak itu lahir", Pak Robani menerawang, ia sedang memikirkan jalan terbaik untuk masalah ini.


"Putra, bagaimana kalau kamu nikahi Risma secara siri dulu, sampai anaknya lahir, nanti setelah hasil tes DNA nya keluar, kita bisa lihat kebenarannya", Usul Pak Handoko

__ADS_1


"Aku tidak mau Pih", tegas Putra.


"Sini , kalian duduk dulu!", Perintah Pak Handoko Putra dan Aini yang sedari tadi berdiri, kini duduk bersama mereka.


"Ini masalah kalau dibiarkan, akan berdampak buruk bagi keluarga dan bagi Perusahaan, kamu jangan egois", Pak Handoko menatap Putra.


"Lho kok aku yang jadi sasaran?", Putra merenggut, ia tampak kesal.


"Tunggu Pih, aku cari bukti dulu, kita harus cari pelakunya, beri aku waktu satu minggu, baru setelah itu, ya aku akan ikutin rencana Papih", usul Putra.


"Oke, Papih setuju, satu minggu ya, jangan lama-lama",


"Dan untuk sementara, kamu off dulu dari kantor, saya tidak mau masalah ini jadi santapan publik, dan untuk sementara, kamu boleh tinggal di rumah sebelah, itu masih milik saya, biar kami bisa memantau kamu", jelaskan Pak Handoko.


"Baik Pak, terima kasih", Risma tampak senang karena ia kini sudah mendapat tempat dan sepertinya Pak Handoko lebih wellcome dari pada yang lainnya.

__ADS_1


"Tapi ingat!, kamu jangan macam-macam, posisi kamu sekarang masih tamu di sini", tegas Bu Hellen, ia sepertinya merasa berat hati menerima keputusan suaminya itu.


__ADS_2